Home - Internasional - Zelenskyy Ungkap Jaminan Keamanan AS Rampung, Sengketa Wilayah Masih Jadi Batu Sandungan Perdamaian

Zelenskyy Ungkap Jaminan Keamanan AS Rampung, Sengketa Wilayah Masih Jadi Batu Sandungan Perdamaian

Zelenskyy menyebut dokumen jaminan keamanan AS untuk Ukraina telah rampung, namun sengketa wilayah timur masih menjadi hambatan utama perdamaian dengan Rusia.

Jumat, 23 Januari 2026 - 10:44 WIB
Zelenskyy Ungkap Jaminan Keamanan AS Rampung, Sengketa Wilayah Masih Jadi Batu Sandungan Perdamaian
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, membahas negosiasi perdamaian Ukraina–Rusia dan jaminan keamanan AS. Foto: CGTN for Hallonews

HALLONEWS.COM-Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa dokumen yang mengatur jaminan keamanan Amerika Serikat bagi Ukraina telah rampung. Namun, ia menegaskan bahwa isu paling krusial dalam konflik dengan Rusia—soal wilayah—masih belum menemukan titik temu.

Pernyataan itu disampaikan Zelenskyy pada Kamis (22/1/2026) waktu setempat dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, di tengah intensitas diplomasi tinggi antara Washington, Kyiv, dan Moskow untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.

“Kita berbicara tentang satu isu, dan ini isu paling sulit yang belum terselesaikan,” kata Zelenskyy seperti dikutip CGTN, Jumat (23/1/2026). “Saya pikir pertemuan trilateral akan menunjukkan semua kemungkinan.”

Ia menegaskan bahwa inti persoalan terletak di wilayah timur Ukraina. “Ini semua tentang bagian timur negara kita. Ini semua tentang tanah. Inilah masalah yang belum kita selesaikan,” ujarnya.

Pernyataan Zelenskyy muncul di tengah tekanan kuat dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mendorong tercapainya kesepakatan damai secepat mungkin. Dalam beberapa pekan terakhir, pejabat AS dan Ukraina terlibat dalam diplomasi bolak-balik yang intens, menyusul sinyal dari Washington bahwa konflik ini harus segera ditutup.

Trump sendiri bertemu Zelenskyy selama sekitar satu jam di sela-sela Forum Davos. Usai pertemuan tersebut, Trump tampil optimistis, meski enggan membeberkan detail pembicaraan.

“Saya pikir pertemuan dengan Presiden Zelenskyy berjalan baik. Ini adalah proses yang berkelanjutan,” kata Trump.

Ketika ditanya mengenai pesannya untuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Trump menjawab singkat: “Perang harus diakhiri.”

Sehari sebelumnya, Trump bahkan menyebut bahwa kesepakatan damai “sudah cukup dekat”.

Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, sebelumnya juga menyatakan bahwa hanya satu isu besar yang tersisa sebelum perdamaian dapat dijamin, dan isu itu berkaitan langsung dengan wilayah. Witkoff dijadwalkan tiba di Moskow pada Kamis sore untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Baik Washington, Moskow, maupun Kyiv secara terbuka mengakui bahwa hambatan utama dalam negosiasi adalah soal klaim teritorial.

Inti sengketa terletak pada wilayah Donetsk di Ukraina timur. Rusia mengeklaim seluruh wilayah tersebut sebagai bagian dari Federasi Rusia, namun pasukan Ukraina masih menguasai sekitar 20 persen wilayah Donetsk, setara hampir 5.000 kilometer persegi—meskipun pasukan Rusia terus menekan di medan perang.

Moskow menuntut agar pasukan Ukraina mundur sepenuhnya dari Donetsk, sebuah tuntutan yang secara tegas ditolak Kyiv. Donetsk sendiri merupakan salah satu dari empat wilayah Ukraina yang dokumen aksesi-nya ditandatangani Presiden Putin bersama para kepala wilayah pendudukan Rusia.

Pada Rabu malam, Putin menyatakan bahwa pembahasan dengan pihak AS akan mencakup penyelesaian konflik Ukraina, termasuk kemungkinan penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk rekonstruksi wilayah yang diduduki Moskow. Ia juga menyinggung usulan Trump mengenai pembentukan “Dewan Perdamaian” global untuk mempromosikan perdamaian dunia.

Zelenskyy mengonfirmasi bahwa pertemuan trilateral antara Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia akan digelar selama dua hari di Uni Emirat Arab, mulai Jumat (23/1/2026). Pertemuan itu akan berlangsung setelah tim negosiasi Amerika melakukan kunjungan ke Moskow sehari sebelumnya.

“Rusia harus siap berkompromi,” tegas Zelenskyy. “Semua pihak harus siap, bukan hanya Ukraina. Ini penting bagi kami.”

Uni Emirat Arab selama ini berperan sebagai mediator penting antara Moskow dan Kyiv, terutama dalam proses pertukaran tahanan. Meski demikian, peran mediasi tersebut belum mampu menghentikan pertempuran.

Sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022, pejabat Ukraina dan Rusia memang telah beberapa kali bertemu langsung. Namun hingga kini, semua upaya diplomasi tersebut belum berhasil mengakhiri perang yang telah merenggut puluhan ribu nyawa dari kedua belah pihak—dan meninggalkan luka geopolitik mendalam di Eropa dan dunia. (ren)