Home - Megapolitan - Vihara Dhanagun, Kelenteng Berusia 3 Abad yang Jadi Simbol Toleransi di Kota Bogor

Vihara Dhanagun, Kelenteng Berusia 3 Abad yang Jadi Simbol Toleransi di Kota Bogor

Vihara Dhanagun atau Hok Tek Bio di Bogor merupakan kelenteng berusia lebih dari 300 tahun. Cagar budaya ini menjadi ikon sejarah, spiritual, dan toleransi di Kota Bogor

Rabu, 4 Februari 2026 - 17:25 WIB
Vihara Dhanagun, Kelenteng Berusia 3 Abad yang Jadi Simbol Toleransi di Kota Bogor
Vihara Dhanagun Bogor yang berusia 300 tahun, menjadi simbol toleransi beragama di kota hujan. Foto: Hallonews/yopy

HALLONEWS.COM – Selain Tugu Kujang, Vihara Dhanagun atau Kelenteng Hok Tek Bio telah lama menjadi ikon sejarah dan kebudayaan Kota Bogor.

Vihara yang berlokasi di Jalan Suryakencana Nomor 1 ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1672 dan menjadi salah satu kelenteng tertua di kawasan Jabodetabek.

Usianya yang mencapai lebih dari tiga abad serta keaslian bangunan yang relatif tidak banyak berubah membuat Vihara Dhanagun ditetapkan sebagai cagar budaya.

Bahkan, Direktorat Purbakala dan Permuseuman memasukkan vihara ini ke dalam peringkat keempat dari daftar10 kelenteng kuno di Jabodetabek.

Lenih Gita Isvara, Kepala Administrasi Yayasan Vihara Dhanagun Bogor mengatakan, tempat ibadah ini merupakan pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat keturunan Tionghoa yang menganut ajaran Tridharma, yakni Taoisme, Buddha, dan Konghucu.

Nama aslinya, Hok Tek Bio, berarti “Rumah Kebajikan dan Rezeki” yang merujuk pada fungsi awal vihara sebagai tempat pemujaan Hok Tek Cing Sien (Dewa Bumi).

Terkait sejarah pendiriannya, terdapat perbedaan pendapat di sejumlah literatur. Sebagian menyebut vihara ini dibangun pada akhir abad ke-17, bertepatan dengan awal kedatangan etnis Tionghoa di Bogor.

Sementara sumber lain menyatakan vihara ini berkembang pada awal abad ke-18, seiring eksodus warga Tionghoa dari Batavia akibat tekanan pemerintahan kolonial Belanda. Meski demikian, usia vihara ini diyakini telah melampaui tiga abad.

Pengelola Vihara Dhanagun menyebutkan bahwa bangunan inti vihara belum pernah mengalami renovasi besar-besaran.

“Paling hanya ada penambahan bangunan di sisi kiri dan kanan, tapi bangunan utama masih sama,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Keunikan Vihara Dhanagun juga tampak pada unsur arsitekturnya. Berbeda dengan kelenteng pada umumnya yang didominasi ornamen naga, vihara ini justru menampilkan ornamen macan pada pintu masuk.

Hal tersebut merupakan adaptasi dari budaya Sunda. Macan tersebut memiliki makna simbolik yang sejalan dengan macan pada Gapura Lawang Suryakencana, yang merepresentasikan keseimbangan layaknya konsep yin dan yang.

Selain sebagai tempat ibadah, Vihara Dhanagun juga memiliki peran sosial yang kuat.

Vihara ini menjadi titik awal pawai Joli dalam perayaan Cap Go Meh, di mana patung dewa-dewa diarak menuju Vihara Buddhasena sejauh sekitar tiga kilometer sebelum kembali ke lokasi awal.

Tak hanya itu, vihara seluas 635 meter persegi ini juga membuka balai pengobatan yang dapat diakses masyarakat umum tanpa memandang latar belakang agama.

Setiap bulan Ramadan, Vihara Dhanagun secara konsisten menggelar buka puasa bersama dan santunan anak yatim.

Pemerintah daerah Kota Bogor menyebut, kegiatan tersebut sebagai bentuk edukasi toleransi sejak dini.

“Pesan yang kuat dari sini adalah pendidikan toleransi. Anak-anak melihat langsung bagaimana perbedaan latar belakang tidak menghalangi orang untuk berbuat kebaikan bersama,” ujar Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim.

Hingga kini, Vihara Dhanagun tetap terbuka untuk umum dan ramai dikunjungi wisatawan.

Keberadaannya menjadi potret nyata kerukunan umat beragama sekaligus ikon wisata sejarah dan spiritual di Kota Bogor. (opy)