Home - Internasional - Venezuela, NATO, Ukraina hingga Iran Jadi Fokus Kebijakan Luar Negeri AS

Venezuela, NATO, Ukraina hingga Iran Jadi Fokus Kebijakan Luar Negeri AS

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memaparkan kebijakan Washington soal Venezuela, NATO, Ukraina, dan Iran dalam kesaksian di Senat, termasuk ancaman penggunaan kekuatan dan arah geopolitik global.

Kamis, 29 Januari 2026 - 8:24 WIB
Venezuela, NATO, Ukraina hingga Iran Jadi Fokus Kebijakan Luar Negeri AS
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan kesaksian di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat di Washington.Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memaparkan secara terbuka arah kebijakan luar negeri Washington dalam kesaksiannya di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Rabu (28/1/2026) waktu setempat. Dalam pernyataannya, Rubio menyinggung berbagai isu strategis mulai dari Venezuela, NATO, Ukraina, hingga Iran.

Terkait Venezuela, Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak sedang berperang maupun menduduki negara tersebut. Ia membantah adanya pengerahan pasukan AS di lapangan.

“Tidak ada perang melawan Venezuela, dan kami tidak menduduki negara itu. Tidak ada pasukan Amerika Serikat di lapangan,” ujar Rubio di hadapan para senator seperti dikutip Kamis (29/1/2026).

Menariknya, Rubio mengungkapkan bahwa AS dan Venezuela kini untuk pertama kalinya dalam dua dekade terlibat pembicaraan serius terkait kerja sama pemberantasan narkotika.

“Saya tidak datang ke sini untuk mengatakan semuanya akan berjalan sempurna. Namun, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, kami mengadakan pembicaraan serius dengan otoritas Venezuela tentang pemberantasan organisasi narkotika,” katanya.

Transisi Politik Venezuela

Rubio menegaskan bahwa tujuan utama Washington adalah mendorong transisi politik di Venezuela agar negara tersebut menjadi mitra yang stabil, makmur, dan demokratis. Ia bahkan menyebut AS siap membantu mengawasi perubahan Venezuela dari apa yang ia sebut sebagai “negara kriminal” menjadi mitra yang bertanggung jawab.

Namun, Rubio juga melontarkan peringatan keras. Menurutnya, AS akan memantau kinerja otoritas sementara Venezuela dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan jika kerja sama tidak berjalan.

“Kami akan memantau dengan cermat kinerja otoritas sementara. Jangan salah paham, seperti yang telah ditegaskan presiden, kami siap menggunakan kekuatan untuk memastikan kerja sama maksimal jika metode lain gagal,” ujarnya.

Rubio juga menekankan bahwa AS tidak akan membiarkan Belahan Bumi Barat menjadi basis bagi musuh-musuh Amerika Serikat.

“Belahan Bumi Barat adalah rumah kita. Kami tidak akan menoleransi kejahatan yang membahayakan warga Amerika atau membiarkan kawasan ini menjadi landasan bagi musuh kita,” tegasnya.

Selain itu, Rubio mengklaim bahwa penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodríguez telah berjanji untuk menghentikan pasokan minyak ke Kuba dan mendorong rekonsiliasi nasional.

Rubio juga mengklarifikasi bahwa hasil penjualan minyak Venezuela yang dikenai sanksi saat ini disetorkan ke rekening yang akan diblokir Departemen Keuangan AS.

Minyak tersebut, menurut Rubio, dijual dengan harga pasar, bukan harga diskon, dan dana hasil penjualan hanya dapat diakses setelah Venezuela mengajukan permohonan penggunaan dana secara rinci. Sebagian dana juga akan dialokasikan untuk proses audit guna memastikan penggunaannya tepat sasaran.

NATO dan Greenland

Berbicara mengenai NATO, Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap memperoleh manfaat dari aliansi tersebut. Namun, ia menilai NATO perlu “ditata ulang”, khususnya terkait pembagian kewajiban pertahanan antaranggota.

Ia mengungkapkan bahwa Washington telah memberi tahu Eropa bahwa sumber daya pertahanan AS juga dibutuhkan di kawasan lain, termasuk Amerika Latin.

Terkait Greenland, Rubio menyatakan AS berada dalam posisi yang baik dan telah melakukan pembicaraan intensif dengan NATO, Denmark, serta otoritas Greenland.

“Kami berada di posisi yang baik saat ini. Ada pertemuan teknis yang sedang berlangsung antara kami, Greenland, dan Denmark,” ujarnya.

Ukraina dan Jaminan Keamanan

Mengenai Ukraina, Rubio menjelaskan bahwa konsep jaminan keamanan bagi Kiev pada dasarnya melibatkan pengerahan pasukan Eropa dalam jumlah terbatas, terutama dari Prancis dan Inggris, dengan dukungan Amerika Serikat.

Namun, ia menekankan bahwa jaminan tersebut tidak akan efektif tanpa keterlibatan AS, mengingat negara-negara Eropa dinilai belum cukup berinvestasi dalam kemampuan pertahanan mereka. Rubio juga mengakui bahwa hingga kini Rusia belum menyetujui skema jaminan keamanan tersebut.

Terkait perundingan damai, Rubio menyebut isu teritorial seperti Donetsk masih memerlukan upaya serius untuk menjembatani perbedaan pandangan, seraya menegaskan bahwa AS terus aktif mendorong dialog.

Iran Dinilai Melemah

Dalam kesaksiannya, Rubio juga menyoroti Iran. Ia mengklaim bahwa pemerintah Iran saat ini lebih lemah dari sebelumnya, terutama karena krisis ekonomi yang memicu keresahan domestik.

“Masalah inti rezim Iran adalah mereka tidak memiliki cara untuk mengatasi keluhan utama rakyatnya, yakni ekonomi yang runtuh,” katanya.

Rubio menilai bahwa meskipun gelombang protes mungkin mereda, potensi gejolak tetap ada jika tuntutan publik yang sah tidak dipenuhi.

Ia juga memperingatkan bahwa Presiden Donald Trump memiliki hak untuk menghilangkan ancaman potensial dari Iran demi membela kepentingan Amerika Serikat, meski Washington berharap skenario tersebut tidak terjadi.

Kepentingan Global AS

Menutup kesaksiannya, Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kepentingan strategis di berbagai kawasan dunia.

“Kami memiliki kepentingan di Timur Tengah, di Belahan Bumi Barat, dan tentu saja di Indo-Pasifik,” ujarnya di hadapan para anggota parlemen.(ren)