Venezuela di Bawah Klaim AS: Lima Pernyataan Trump dari Mar-a-Lago
Laporan komprehensif dari konferensi pers Donald Trump di Mar-a-Lago soal Venezuela, memuat lima pernyataan kunci, respons pemimpin dunia, serta implikasi geopolitik dan hukum internasional.

HALLONEWS.COM-Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “mengelola” Venezuela hingga tercapai apa yang ia sebut sebagai transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam konferensi pers pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, beberapa jam setelah operasi militer AS yang diklaim berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
“Kami akan menjalankan negara ini sampai saatnya kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump sebagaimana dikutip Sky News. “Kami tidak ingin ada pihak lain yang masuk.”
Konferensi pers hampir satu jam itu segera memantik polemik global. Di satu sisi, Washington berbicara tentang stabilitas dan pemulihan. Di sisi lain, banyak pihak menilai pernyataan tersebut sebagai ujian serius bagi kedaulatan negara dan hukum internasional.
Lima Pernyataan Kunci Trump
Pertama, klaim pengelolaan sementara. Trump menegaskan AS akan mengambil peran langsung dalam pengelolaan Venezuela untuk periode terbatas. Dalam kacamata geopolitik, langkah ini dipresentasikan sebagai upaya mencegah kekosongan kekuasaan dan instabilitas kawasan. Namun, tanpa mandat multilateral, klaim “mengelola” memunculkan pertanyaan apakah langkah tersebut sejalan dengan prinsip non-intervensi yang diatur Piagam PBB.
Kedua, minyak sebagai fondasi kebijakan.Trump berulang kali menyinggung kekayaan energi Venezuela sebagai alasan kebijakan AS tidak akan membebani anggaran negaranya.
“Uang yang keluar dari tanah sangat besar,” ujar Trump.
“Perusahaan-perusahaan minyak akan masuk, mereka akan menghabiskan uang di sana, dan kami akan mengambil kembali minyak yang seharusnya sudah lama kami ambil,” tegas Trump.
Pernyataan ini menegaskan bahwa minyak bukan sekadar isu ekonomi, melainkan poros geopolitik kebijakan AS di Venezuela.
Ketiga, ancaman serangan lanjutan.Trump memperingatkan AS siap melancarkan serangan kedua yang “jauh lebih besar” jika situasi belum stabil.
“Kami tidak takut mengerahkan pasukan darat jika harus,” kata Trump.
Ancaman tersebut dimaksudkan sebagai pencegah (deterrence), namun secara hukum internasional memicu perdebatan karena larangan ancaman penggunaan kekuatan tanpa dasar pembelaan diri atau mandat Dewan Keamanan PBB.
Keempat, arah transisi kekuasaan. Trump meragukan peluang pemimpin oposisi María Corina Machado untuk memimpin Venezuela.
“Dia wanita yang sangat baik, tetapi tidak mendapatkan dukungan atau rasa hormat di dalam negeri,” kata Trump.
Sebaliknya, ia menyebut Wakil Presiden Delcy Rodríguez bersedia bekerja sama dengan AS, dengan komunikasi yang disebut ditangani langsung oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Kelima, pesan keras ke kawasan. Trump juga memperluas pernyataannya ke Amerika Latin. Ia memperingatkan Presiden Kolombia Gustavo Petro agar “berhati-hati”, serta menyebut Kuba sebagai negara yang “sedang gagal”.
Respons Global: Dari Penolakan hingga Kekhawatiran
Pernyataan Trump dari Mar-a-Lago tidak berdiri sendiri. Sejumlah pemimpin dan institusi internasional merespons dengan nada beragam.
Pemerintah Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui pejabat tinggi Sekretariat Jenderal kembali menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Venezuela, serta menyerukan agar semua pihak menahan diri dan mengedepankan solusi politik.
Dari Amerika Latin, beberapa negara menyatakan kekhawatiran. Pemerintah Brasil, misalnya, dalam pernyataan resminya menekankan bahwa krisis Venezuela harus diselesaikan melalui dialog antarwarga Venezuela sendiri, bukan melalui intervensi militer. Sementara Meksiko kembali menegaskan doktrin non-intervensi sebagai prinsip dasar kebijakan luar negerinya.
Uni Eropa juga mengambil sikap hati-hati. Sejumlah pejabat UE menilai stabilitas Venezuela penting bagi kawasan, namun menekankan bahwa setiap transisi politik harus menghormati hukum internasional dan hak rakyat Venezuela.
Di sisi lain, beberapa sekutu dekat Washington di kawasan Karibia menyatakan memahami kekhawatiran AS soal stabilitas dan narkotika lintas negara, meski tetap mendorong keterlibatan multilateral.
Lima pernyataan Trump dari Mar-a-Lago memperlihatkan pendekatan khas realisme geopolitik: stabilitas, energi, dan kekuatan militer ditempatkan di garis depan. Namun respons global menunjukkan bahwa dunia masih, setidaknya secara normatif, berpegang pada kerangka hukum internasional.
Venezuela kini berada di pusat tarik-menarik tersebut. Bagi Washington, negara itu adalah titik strategis. Bagi banyak negara lain, Venezuela adalah ujian apakah prinsip kedaulatan masih bermakna di tengah politik kekuatan.
Konferensi pers Trump di Mar-a-Lago pada Sabtu itu bukan sekadar pernyataan kebijakan, melainkan sinyal perubahan lanskap geopolitik kawasan. Apakah klaim AS akan membawa stabilitas seperti yang dijanjikan, atau justru membuka babak baru intervensi sepihak, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Yang jelas, Venezuela kini tidak lagi hanya menjadi isu domestik atau regional, melainkan polemik global yang menguji batas antara kekuatan dan hukum. (ren)
