United Tractors (UNTR) Hentikan Buyback Saham Setelah Dana Rp2 Triliun Terserap
PT United Tractors Tbk menghentikan program buyback saham setelah dana Rp2 triliun terserap hampir penuh. Saham UNTR dinilai stabil dengan tren menengah masih positif.

HALLONEWS.COM– PT United Tractors Tbk menyampaikan laporan tentang hasil pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang sangat berubah dan mengumumkan bahwa program buyback saham telah dihentikan.
Informasi ini berasal dari Keterbukaan Informasi Perseroan yang dirilis pada tanggal 30 Oktober 2025 tentang rencana pembelian kembali saham yang dijadwalkan selesai pada 30 Januari 2026.
Dalam rencana awalnya, Perseroan merencanakan untuk membeli kembali saham sebanyak Rp2 triliun, dengan syarat bahwa jumlah saham yang dibeli tidak boleh melebihi 20% dari modal disetor dan porsi saham beredar minimal adalah 7,5 persen. Program buyback ini dimulai pada 30 Oktober 2025, meskipun kondisi pasar saham sangat berubah.
Selama periode buyback, Perseroan telah membeli kembali 68.519.800 lembar saham dengan nilai total Rp1.999.990.270.702, sehingga sisa dana pembelian kembali saham Perseroan hanya sebesar Rp9.729.298, yang tidak lagi mencukupi untuk membeli satu lot saham di pasar.
Karena kondisi tersebut, manajemen memutuskan untuk menghentikan pembelian kembali saham mulai 14 Januari 2026.
Perseroan mengklaim penghentian ini disebabkan oleh fakta bahwa dana buyback telah diserap hampir sepenuhnya sesuai dengan rencana yang telah diumumkan sebelumnya kepada publik.
Tentang Perusahaan
PT United Tractors Tbk adalah distributor alat berat terbesar dan terkemuka di Indonesia, dengan kegiatan usaha di lima segmen utama: mesin konstruksi, kontraktor penambangan, pertambangan batu bara, industri konstruksi, dan energi.
Perusahaan ini menjual berbagai merek global seperti Komatsu, Scania, UD Trucks, Bomag, Tadano, dan Komatsu Forest.
Selain melakukan bisnis distribusi alat berat, United Tractors juga memainkan peran penting dalam industri jasa pertambangan melalui anak usaha seperti PT Pamapersada Nusantara, yang menawarkan layanan pertambangan terpadu mulai dari perencanaan tambang hingga pengangkutan komoditas.
Perseroan merupakan bagian dari grup Astra; PT Astra International Tbk menguasai sekitar 59,5% saham, dan sisanya dimiliki oleh publik.
Saham PT United Tractors Tbk saat ini diperdagangkan di level 31.425. Dalam jangka pendek, pergerakan saham relatif stabil dengan koreksi tipis sebesar 0,63% dalam satu minggu terakhir, sementara dalam satu bulan terakhir saham ini masih mencatatkan kenaikan sebesar 8,74%.
Kinerja saham UNTR terlihat cukup solid dalam jangka menengah hingga panjang, tercermin dari kenaikan sebesar 23,02% dalam tiga bulan, 23,14% dalam satu tahun, serta 30,02% dalam tiga tahun terakhir.
Dalam rentang lima tahun, saham ini masih membukukan kenaikan sebesar 19,39%, menunjukkan daya tahan harga di tengah siklus industri komoditas yang fluktuatif.
Analisis Yesinvest
Yesinvest menilai bahwa secara fundamental terdapat hal yang perlu menjadi perhatian investor, yakni pendapatan United Tractors yang cenderung stagnan di kisaran Rp134 triliun per tahun selama tiga tahun terakhir.
Di sisi lain, laba bersih Perseroan justru menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun, yang mengindikasikan adanya tekanan pada margin usaha di tengah perubahan siklus komoditas dan peningkatan biaya operasional.
Dari sisi teknikal jangka panjang, saham UNTR sejak sekitar tahun 2010 menunjukkan pola pergerakan sideways yang cukup jelas.
Harga saham relatif sulit menembus level di atas 40.000 dan pada saat yang sama juga cenderung tertahan untuk turun jauh di bawah area 12.000, mencerminkan karakter saham mature dengan kisaran harga yang relatif terdefinisi.
Dalam jangka menengah, tren saham UNTR masih berada dalam fase uptrend, di mana harga saat ini bergerak di atas exponential moving average periode 20. Area resistance terdekat berada di kisaran 31.900, sementara area support kuat terpantau di sekitar 29.050.
Selama harga bertahan di atas area support tersebut, tren naik jangka menengah dinilai masih terjaga meskipun ruang kenaikan lanjutan cenderung lebih terbatas dibandingkan saham siklikal lain yang masih berada di fase awal pertumbuhan.(Adi Prasetya Teguh/Yes invest)
