Ukraina Pasang Badan! Tolak Serahkan Donbas Meski Amerika Dorong Kesepakatan Damai
Ukraina kembali menegaskan garis merahnya dalam konflik melawan Rusia. Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, menolak keras gagasan menyerahkan wilayah Donbas sebagai bagian dari kesepakatan damai. Ia bahkan menuding Vladimir Putin memanfaatkan upaya diplomasi Amerika Serikat sebagai kedok untuk memperluas serangan dan merebut wilayah tambahan.

HALLONEWS.COM-Di tengah tekanan internasional untuk menghentikan perang yang telah berlangsung hampir empat tahun, Ukraina menegaskan garis merah yang tak bisa dinegosiasikan. Donbas tidak akan pernah diserahkan kepada Rusia, bahkan jika Amerika Serikat mendorong penyelesaian damai yang mengharuskan Kyiv melepas wilayah strategis itu.
Pernyataan keras ini datang langsung dari Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, dalam wawancaranya dengan Sky News. Ia menyebut bahwa menyerahkan Donbas berarti mengkhianati pengorbanan ratusan ribu tentara dan warga sipil yang telah mempertahankan negaranya sejak invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022.
“Tidak ada perdamaian dengan penyerahan wilayah,” tegasnya seperti dikutip dari Sky News, Jumat (5/12/2025).
“Bagi kami, menyerahkan wilayah begitu saja tidak dapat diterima,” tegas Syrskyi.
“Perdamaian yang adil hanya bisa terjadi jika pertempuran berhenti pada garis depan saat ini, lalu negosiasi dilakukan tanpa syarat apa pun,” tambahnya.
Ia bahkan memperingatkan bahwa setiap upaya menekan Ukraina untuk mengalah dalam perundingan hanya akan memberi ruang bagi Rusia untuk mengklaim kemenangan strategis yang mereka sendiri belum mampu capai secara militer.
Kecurigaan pada “Mediasi Damai” Amerika dan Putin
Syrskyi juga menyoroti upaya Presiden AS Donald Trump untuk mendorong perundingan. Menurutnya, Kremlin memanfaatkan momen tersebut sebagai “kedok” untuk terus memperluas serangan di medan perang.
“Rusia berbicara tentang perdamaian sambil terus mendorong pasukannya untuk merebut lebih banyak wilayah,” katanya. “Tidak ada tanda-tanda mereka ingin menghentikan perang,” ungkapnya.
Sinyal ketidakpercayaan ini semakin kuat ketika rancangan awal kesepakatan damai versi Washington digadang-gadang mencakup penyerahan penuh wilayah Donbas kepada Rusia, sebuah syarat yang menurut Syrskyi mustahil diterima oleh Ukraina.
Ancaman Besar bagi Eropa
Dalam pernyataannya, Syrskyi menekankan bahwa keputusan Ukraina mempertahankan wilayah bukan semata demi kedaulatan negara, melainkan juga demi stabilitas seluruh Eropa.
“Jika Ukraina jatuh, negara-negara lain berikutnya akan dipaksa berperang melawan Rusia,” ujarnya. “Kami bukan hanya melindungi tanah kami, tetapi juga menjaga keamanan benua.”
Situasi Medan Perang
Jenderal Syrskyi menjelaskan beberapa hal penting terkait situasi terkini yakni pertempuran terberat berlangsung di Donbas. Pokrovsk, Kupiansk, Lyman, dan Huliaipole menjadi titik panas di mana pasukan Rusia terus menekan pertahanan Ukraina.
Selain itu, serangan drone membludak. Rusia meluncurkan 4.000–5.000 drone kamikaze per hari serta ribuan drone pembawa bom. Namun Ukraina mengklaim telah menyeimbangi, bahkan melebihi jumlah drone yang dikerahkan musuh.
Jumlah amunisi Rusia disebut dua kali lebih banyak. Tetapi kemajuan teknologi drone membuat artileri tradisional semakin sulit digunakan secara efektif.
Menurut Ukraina, Rusia kehilangan 1.000–1.100 tentara per hari di sepanjang garis depan. Meski begitu, Moskow tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan ofensifnya.
Saat ditanya apakah Ukraina mampu bertahan jika AS di bawah Trump menghentikan bantuan, Syrskyi menjawab diplomatis namun tegas: “Kami berterima kasih atas bantuan Amerika. Namun jika suatu hari bantuan itu berhenti, kami berharap Eropa siap mengambil alih dukungan penuh.”
Ia menegaskan bahwa pertahanan Ukraina adalah benteng pertama bagi stabilitas kawasan.
Ukraina kini mengandalkan drone jarak jauh yang dapat menyerang kilang minyak dan fasilitas militer Rusia jauh di dalam wilayah lawan.
Tujuannya jelas, menghentikan suplai bahan bakar perang Rusia sekaligus menekan pendapatan minyak yang membiayai invasi.
Pasukan Ukraina juga mengerahkan drone laut explosif yang telah berhasil menghancurkan kapal perang dan kapal tanker Rusia.
Walau menghadapi kekurangan tenaga dan musim dingin berat, Syrskyi mengatakan tekad pasukan Ukraina tidak berubah.
“Kami harus melindungi rakyat dan kota-kota kami,” tegasnya. “Jika kami berhenti, yang tersisa hanya reruntuhan dan kematian.”
Dengan eskalasi yang terus meningkat, tekanan diplomatik internasional, serta manuver politik antara Washington dan Moskow, Ukraina mempertegas posisinya yaitu tidak ada perdamaian jika wilayah harus dilepas.
Donbas bukan sekadar wilayah, melainkan simbol perlawanan, pengorbanan, dan garis hidup bagi masa depan Ukraina dan Eropa. (ren)
