Ukraina Klaim “Kemajuan Nyata” Usai Pembicaraan Damai dengan AS di Berlin
Upaya diplomatik menuju akhir perang Ukraina–Rusia mulai menunjukkan titik terang. Pemerintah Ukraina menyebut telah terjadi “kemajuan nyata” setelah pertemuan intens dua hari dengan utusan Amerika Serikat di Berlin. Namun, isu penarikan pasukan dari Donetsk masih menjadi ganjalan utama dalam proses menuju kesepakatan damai.

HALLONEWS.COM-Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan tim perundingnya memuji hasil pertemuan dengan utusan Presiden AS Donald Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Berlin, Jerman, pada Minggu (14/12/2025).
Negosiator utama Ukraina, Rustem Umerov, menyebut pertemuan tersebut berlangsung “produktif dan konstruktif,” dengan capaian kemajuan signifikan dalam rancangan kesepakatan perdamaian.
“Tim Amerika yang dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner bekerja sangat konstruktif untuk membantu Ukraina menemukan jalan menuju perdamaian yang langgeng,” tulis Umerov dalam unggahan di platform X.
“Tim Ukraina sangat berterima kasih kepada Presiden Trump dan timnya atas semua upaya yang telah mereka lakukan.”
Pujian ini muncul setelah Kyiv menyerahkan draf proposal perdamaian baru berisi 20 poin kepada Washington pekan lalu, menggantikan versi awal yang terdiri dari 28 poin.
Perdamaian Masih Terhalang Isu Wilayah Donetsk
Meski pihak Ukraina optimistis, pembahasan mengenai status wilayah Donetsk masih menjadi kendala besar. Utusan AS disebut menekankan bahwa kompromi atas wilayah tersebut merupakan syarat krusial bagi Moskow untuk menyetujui gencatan senjata permanen.
“Masalah teritorial belum terselesaikan. Tim AS menilai ini isu sentral bagi Rusia,” ujar seorang pejabat yang terlibat dalam pertemuan itu.
Dalam pembicaraan, pihak AS dilaporkan mendorong Ukraina untuk mempertimbangkan penarikan pasukan dari zona tertentu di Donetsk, sejalan dengan garis demarkasi gencatan senjata yang diusulkan sebelumnya.
Pertahanan Ukraina Dapat Dukungan Baru dari Jerman
Sementara itu, Zelenskyy melanjutkan lawatan diplomatiknya di Berlin untuk bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz dan sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Emmanuel Macron dan Ursula von der Leyen.
Dalam pertemuan tersebut, Jerman mengumumkan rencana kerja sama pertahanan 10 poin untuk memperkuat kemampuan militer Ukraina. Rencana itu mencakup riset bersama industri pertahanan, pendirian Ukraine Freedom House di Berlin, serta peningkatan peran atase militer Jerman di Kyiv.
“Industri pertahanan Ukraina yang kuat adalah kunci melawan agresi Rusia dan menjadi elemen penting jaminan keamanan masa depan,” demikian bunyi pernyataan resmi Pemerintah Jerman.
Selain itu, Jerman berencana memberi jaminan investasi federal bagi proyek-proyek pertahanan bersama, serta meningkatkan konsultasi rutin antar kementerian pertahanan kedua negara.
Operasi Militer Ukraina Serang Kapal Selam Rusia
Di tengah intensitas diplomasi, Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengklaim berhasil melakukan operasi khusus di pelabuhan Novorossiysk, Rusia.
SBU menyebut drone bawah air milik mereka menghantam kapal selam kelas Varshavyanka, menyebabkan kerusakan parah dan kerugian besar bagi armada Angkatan Laut Rusia.
“Kapal yang meledak terpaksa tetap berada di pelabuhan. Biaya pembangunan kapal semacam itu mencapai 400 hingga 500 juta dolar AS,” tulis SBU di Telegram.
Serangan ini dinilai sebagai pesan strategis di tengah upaya perundingan damai, menegaskan bahwa Ukraina masih memiliki kemampuan ofensif signifikan terhadap aset Rusia di Laut Hitam. (ren)
