Home - Internasional - Ukraina Klaim 90% Tuntutan Disetujui, Rusia Sebut Belum Ada Terobosan Perdamaian

Ukraina Klaim 90% Tuntutan Disetujui, Rusia Sebut Belum Ada Terobosan Perdamaian

Ukraina menyebut 90% tuntutannya telah disetujui dalam draf perdamaian yang dimediasi AS, sementara Rusia menilai belum ada terobosan berarti dari pembicaraan tersebut.

Rabu, 24 Desember 2025 - 8:30 WIB
Ukraina Klaim 90% Tuntutan Disetujui, Rusia Sebut Belum Ada Terobosan Perdamaian
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan pidato dalam acara peringatan Hari Pekerja Layanan Diplomatik di Akademi Diplomatik Nasional, Kyiv, Ukraina, 22 Desember 2025. Foto: CGTN for Hallonews.

HALLONEWS.COM — Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Ukraina kembali bergulir dengan sinyal berbeda dari kedua pihak. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengklaim sebagian besar tuntutan Ukraina telah disetujui dalam draf perundingan terbaru, sementara Rusia menilai belum ada terobosan berarti dari pembicaraan tersebut.

Akhir pekan lalu, serangkaian pembicaraan digelar di Miami, Florida, dalam upaya menemukan jalan menuju perdamaian antara Ukraina dan Rusia.

Pertemuan itu melibatkan sejumlah pihak penting: delegasi Ukraina yang dipimpin pejabat senior Rustem Umerov, negosiator Rusia Kirill Dmitriev, serta utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Diskusi diadakan dalam dua jalur terpisah, satu melibatkan Ukraina bersama perwakilan Eropa, dan satu lagi antara Rusia dan Amerika Serikat. AS menggambarkan langkah ini sebagai bagian dari inisiatif diplomatik paralel untuk menurunkan eskalasi perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.

Dalam konferensi pers di Kyiv, Selasa (23/12/2025), Presiden Volodymyr Zelenskyy menyampaikan optimisme hati-hati terkait hasil perundingan. Ia menilai rancangan proposal perdamaian saat ini telah “menjawab sebagian besar tuntutan Ukraina”.

Menurutnya, 90 persen poin utama Ukraina telah dimasukkan ke dalam draf dokumen yang kini dibahas bersama negara-negara mitra.

Zelenskyy menyebut dokumen tersebut mencakup rencana 20 poin yang terdiri dari: kerangka kerja jaminan keamanan Eropa; kesepakatan bilateral antara Ukraina dan Amerika Serikat; serta rencana untuk mempertahankan kekuatan pertahanan Ukraina sebesar 800.000 personel dalam masa damai.

Selain isu militer, proposal juga membahas prospek keanggotaan Ukraina di Uni Eropa dan pembentukan pasukan keamanan multinasional yang dipimpin Prancis dan Inggris, dengan dukungan logistik dari Amerika Serikat.

“Negara-negara lain juga bisa berperan dalam keamanan energi, pembiayaan, dan perlindungan sipil,” kata Zelenskyy.

Ia menambahkan, dokumen keamanan bilateral Ukraina–AS akan diajukan untuk ditinjau oleh Kongres AS dengan beberapa lampiran bersifat rahasia.

Kremlin: “Belum Ada Hasil Nyata”

Berbeda dari Kyiv, Moskow bersikap jauh lebih berhati-hati. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, pembicaraan terbaru tidak boleh dianggap sebagai terobosan diplomatik.

“Diskusi ini merupakan bagian dari proses kerja rutin yang akan terus berlanjut dalam format tingkat ahli,” kata Peskov.

Peskov menjelaskan, prioritas Rusia saat ini adalah menilai terlebih dahulu koordinasi antara AS, Eropa, dan Ukraina, sebelum memutuskan langkah berikutnya.

Ia menegaskan bahwa setiap langkah akan dievaluasi berdasarkan apa yang disebut sebagai “semangat Anchorage”, yakni pendekatan negosiasi yang hati-hati dan berbasis konsensus teknis.

Dari pihak Amerika Serikat, utusan Presiden Trump, Steve Witkoff, menyebut pertemuan di Miami berlangsung “konstruktif dan produktif”. “Diskusi berjalan baik dan kami melihat keseriusan dari semua pihak,” ujar Witkoff.

Presiden Donald Trump juga mengonfirmasi keterlibatan timnya, namun tetap menjaga jarak diplomatik. “Pembicaraan sedang berlangsung, dan kami ingin pertempuran berhenti,” katanya singkat tanpa merinci isi atau tenggat waktu kesepakatan.

Sementara itu, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban menyoroti perbedaan pandangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam menangani krisis Ukraina.
Menurutnya, Washington berfokus pada pencapaian gencatan senjata, sementara sejumlah pemimpin Eropa masih menekankan kemenangan militer atas Rusia.

“Bahkan di dalam NATO pun kini muncul perbedaan. AS menolak beberapa keputusan yang tetap dijalankan negara-negara Eropa,” ujar Orban.

Ia menilai tingginya biaya ekonomi perang mulai menggeser opini publik Barat ke arah menentang kelanjutan konflik, meskipun tekanan politik dan kepentingan bisnis tetap mendorong keberlanjutan dukungan militer terhadap Kyiv.

Orban menegaskan bahwa Hungaria akan tetap netral, mengingat sejumlah perusahaan besar negaranya memiliki aset signifikan di Rusia.

Pengamat menilai perbedaan nada antara Kyiv dan Moskow menunjukkan bahwa meski dialog telah dimulai kembali, kesepakatan damai masih jauh dari pasti.

Bagi Ukraina, fokus utama adalah jaminan keamanan dan integritas wilayah, sementara bagi Rusia, prioritasnya adalah pengakuan status wilayah pendudukan dan pencabutan sanksi ekonomi.

Kendati begitu, pembicaraan yang mempertemukan utusan kedua negara dengan mediasi AS dan Eropa menandai bahwa jalur diplomatik masih terbuka.

Bagi banyak pihak, pertemuan di Miami menjadi momentum penting untuk mendinginkan konflik menjelang 2026, meski jalan menuju perdamaian penuh masih panjang dan kompleks. (ren)