Ukraina dan Eropa Tuduh Rusia Tidak Upayakan Perdamaian
Presiden Rusia Vladimir Putin dituduh "membuang-buang waktu dunia" setelah menolak versi terbaru rencana perdamaian Donald Trump untuk Ukraina.

HALLONEWS.COM-Pejabat Ukraina dan Eropa menuduh Rusia tidak mengupayakan perdamaian apa pun.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengatakan bahwa Putin “harus mengakhiri kegaduhan dan pertumpahan darah serta siap untuk berunding dan mendukung perdamaian yang adil dan abadi. Sementara Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha meminta pemimpin Rusia untuk berhenti membuang-buang waktu dunia.
Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna mengatakan bahwa Putin “tidak mengubah arah”, dan menambahkan: “Jelas sekali bahwa ia tidak menginginkan perdamaian apa pun.”
Hal itu disampaikan pejabat Ukraina dan Eropa setelah Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff di Kremlin.
Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner , menantu presiden, terlibat dalam diskusi lima jam di Kremlin, Selasa (2/12/2025) yang terjadi beberapa hari setelah pembicaraan terpisah diadakan dengan delegasi Ukraina di Florida.
Namun setelah pertemuan tersebut, Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Putin , memperingatkan bahwa kompromi belum ditemukan dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kedua presiden bertemu lagi.
“Kami dapat menyepakati beberapa hal, dan presiden mengonfirmasi hal ini kepada para mitra bicaranya. Hal-hal lain memicu kritik,dan presiden juga tidak menyembunyikan sikap kritis dan bahkan negatif kami terhadap sejumlah usulan,” ungkap Ushakov seperti dikutip Sky News, Rabu (3/12/2025).
“Persoalan teritorial dibahas secara khusus, yang tanpanya kami tidak melihat adanya penyelesaian krisis,” lanjut Ushakov.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan “tidak benar” untuk mengatakan bahwa Putin telah menolak rencana perdamaian AS, tetapi menolak berkomentar lebih lanjut mengenai pembicaraan tersebut.
Salah satu poin penting terkait dengan tuntutan Rusia agar Ukraina menyerahkan kendali atas seluruh wilayah Donbas , yang telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemimpin Eropa.
Ketika ditanya apakah kesepakatan semakin dekat atau semakin jauh setelah perundingan tersebut, Ushakov berkata: “Tidak lebih jauh lagi, itu sudah pasti.”
“Namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, baik di Washington maupun di Moskow,” tambahnya.
Meskipun demikian, pejabat senior Rusia menggambarkan negosiasi tersebut “cukup bermanfaat, konstruktif, dan cukup substantif” dan menegaskan bahwa yang dibahas hanyalah kerangka rencana perdamaian Amerika, bukan kata-kata spesifik.
“Beberapa proposal Amerika tampaknya kurang lebih dapat diterima, tetapi perlu didiskusikan,” tambahnya.
“Beberapa kata yang diusulkan tidak sesuai dengan kami. Jadi, pekerjaan akan dilanjutkan,” ungkapnya.
Untuk diketahui, pada hari Selasa (2/12/2025), Putin mengatakan bahwa Rusia siap berperang jika Eropa menginginkan perang.
Presiden Rusia menuduh kekuatan Eropa mengubah proposal perdamaian untuk Ukraina dengan “tuntutan” yang dianggap Rusia “sama sekali tidak dapat diterima.” Putin juga mengklaim orang Eropa “berada di pihak perang.”
“Kami tidak berencana berperang dengan Eropa, saya sudah mengatakannya ratusan kali,” ujarnya setelah sebuah forum investasi.
“Tapi jika Eropa tiba-tiba ingin melawan kami dan memulainya, kami siap sekarang juga. Tidak ada keraguan tentang itu,” tandasnya.
“Jika Eropa tiba-tiba ingin memulai perang dengan kami dan melakukannya, maka situasi di mana kami tidak punya siapa pun untuk bernegosiasi bisa dengan cepat muncul,” tutupnya. (ren)
