Home - Internasional - Trump: Zelenskyy Tak Punya apa pun Tanpa Izin Saya

Trump: Zelenskyy Tak Punya apa pun Tanpa Izin Saya

Menjelang pertemuan dengan Volodymyr Zelenskyy di Washington, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pemimpin Ukraina itu “tidak memiliki apa pun” tanpa persetujuannya.

Sabtu, 27 Desember 2025 - 12:33 WIB
Trump: Zelenskyy Tak Punya apa pun Tanpa Izin Saya
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu Presiden AS Donald Trump, di Ruang Oval Gedung Putih, Washington, Senin 18 Agustus 2025. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy “tidak memiliki apa pun sampai saya menyetujuinya,” dalam wawancara dengan Politico pada Jumat (26/12/2025), beberapa hari sebelum keduanya dijadwalkan bertemu untuk membahas rencana perdamaian Ukraina–Rusia.

“Dia tidak memiliki apa pun sampai saya menyetujuinya, jadi kita lihat saja apa yang dia punya,” ujar Trump dalam pernyataan yang memicu sorotan tajam di Washington dan Kyiv seperti dikutip Sky News, Sabtu (27/12/2025).

Pertemuan pada Minggu (28/12/2025) itu akan menyoroti pembahasan rencana perdamaian 20 poin yang disebut Zelenskyy “sudah sekitar 90% siap.” Pemimpin Ukraina tersebut menyatakan kepada Axios bahwa ia terbuka untuk membawa proposal itu ke referendum nasional, asalkan Rusia menyetujui gencatan senjata selama 60 hari guna memungkinkan rakyat Ukraina memberikan suara.

Langkah ini menandai upaya terbaru Amerika Serikat untuk memimpin jalur diplomatik mengakhiri perang Rusia–Ukraina yang telah memasuki tahun keempat. Namun, sejumlah analis menilai pernyataan Trump menunjukkan bahwa Washington masih memegang kendali dominan dalam arah negosiasi perdamaian.

Zelenskyy mengatakan Ukraina berharap Eropa dapat terlibat lebih jauh dalam proses perdamaian, meski ia meragukan hal itu bisa terjadi dalam waktu dekat. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer mengungkapkan bahwa ia telah berbicara dengan para pemimpin Prancis dan Jerman pada Jumat sore.

“Kami akan terus berkoordinasi untuk mencapai perdamaian abadi di Ukraina,” kata juru bicara Downing Street.

Rusia Dituding Tempatkan Rudal Nuklir di Belarus

Sementara diplomasi berjalan, laporan baru menyebut Rusia telah menempatkan rudal balistik hipersonik berkemampuan nuklir “Oreshnik” di bekas pangkalan udara di Belarus bagian timur.

Peneliti Jeffrey Lewis dari Middlebury Institute of International Studies dan Decker Eveleth dari CNA menyebut analisis citra satelit komersial Planet Labs menunjukkan tanda-tanda pembangunan pangkalan rudal strategis baru Rusia di negara tersebut.

“Penempatan ini memperluas jangkauan Rusia lebih jauh ke Eropa,” ujar John Foreman, pakar dari Chatham House sekaligus mantan atase pertahanan Inggris di Moskow dan Kyiv.

Presiden Vladimir Putin sebelumnya mengumumkan rencana penempatan senjata tersebut sebagai “langkah strategis,” sementara Menteri Pertahanan Belarus Viktor Khrenin menegaskan pengerahan rudal itu adalah tanggapan terhadap “tindakan agresif Barat.”

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh tujuh rudal Storm Shadow buatan Inggris selama sepekan terakhir. Ukraina melaporkan bahwa serangan drone Rusia semalam merusak kapal berbendera Slovakia, Palau, dan Liberia di pelabuhan Odesa dan Mykolaiv.

Pasukan Ukraina juga menyerang kilang minyak Novoshakhtinsk di wilayah Rostov, Rusia. Gubernur wilayah Rostov, Yuri Slyusar, mengatakan seorang petugas pemadam kebakaran terluka saat berupaya memadamkan api.

Serangan balik Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia diyakini bertujuan mengganggu sumber pendapatan ekspor minyak yang menopang invasi Moskow.

Sementara itu, pasukan Rusia dilaporkan berhasil menguasai permukiman Kosivstseve di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina timur.

Zelenskyy sebelumnya menyatakan kesediaannya menarik pasukan dari beberapa area industri timur jika Rusia juga mundur dan wilayah tersebut dijadikan zona demiliterisasi di bawah pengawasan internasional. Namun, Moskow tetap menuntut agar Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas yang tersisa, tuntutan yang ditolak Kyiv. (ren)