Trump Tiba di Davos, Ketegangan Greenland Bayangi Forum Ekonomi Dunia
Donald Trump tiba di Davos usai gangguan Air Force One, di tengah ketegangan Greenland, ancaman tarif AS, dan peringatan keras Uni Eropa soal masa depan aliansi Barat.

HALLONEWS.COM-Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya tiba di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026) waktu setempat untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF), setelah perjalanan udara semalamnya terganggu masalah teknis pada pesawat kepresidenan Air Force One.
Pesawat Air Force One mendarat di Bandara Zurich, sebelum Trump melanjutkan perjalanan sekitar 160 kilometer ke Davos menggunakan helikopter Marine One, yang mendarat di resor pegunungan bersalju tersebut terlambat beberapa jam dari jadwal semula.
Gedung Putih menyebut keterlambatan itu disebabkan oleh masalah listrik kecil pada Air Force One tak lama setelah lepas landas dari Washington, yang memaksa pesawat kembali dan mengganti armada.
Kehadiran ini menandai penampilan langsung pertama Trump di Davos dalam enam tahun terakhir. Tahun lalu, ia hanya menyampaikan pidato secara virtual sehari setelah pelantikannya, menguraikan kembali pendekatan “America First” yang menjadi ciri kebijakan luar negerinya.
Trump tiba dengan rombongan besar sekitar 20 pejabat senior, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, Wakil Kepala Staf Stephen Miller, dan Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Trump dijadwalkan menyampaikan pidato utama di WEF, di tengah sorotan tajam dunia terhadap ancaman tarif AS dan sengketa Greenland.
Sementara Trump dalam perjalanan ke Davos, para pemimpin Uni Eropa menyampaikan peringatan keras di Parlemen Eropa.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa strategi utama Uni Eropa terkait Greenland adalah lonjakan investasi besar-besaran, seraya menekankan kesiapan Eropa untuk menjadi lebih mandiri.
“Kita berada di persimpangan jalan. Eropa lebih menyukai dialog dan solusi, tetapi kami siap bertindak dengan persatuan, urgensi, dan tekad jika diperlukan,” kata von der Leyen. “Di dunia yang semakin tanpa hukum, Eropa membutuhkan kekuatan untuk mengendalikan tindakannya sendiri.”
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menegaskan Uni Eropa menentang “segala bentuk paksaan”, termasuk ancaman tarif dari AS yang dinilai merusak hubungan transatlantik dan bertentangan dengan perjanjian perdagangan UE–AS.
“Uni Eropa siap membela diri, negara anggotanya, dan warganya,” ujar Costa.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berupaya meredakan ketegangan. Dalam panel di Davos, ia mengatakan NATO sedang menangani isu Greenland “di balik layar”.
“Fokus utama tetap Ukraina. Dukungan harus diberikan hari ini, besok, dan seterusnya,” tegas Rutte, seraya menolak mengomentari detail sengketa Greenland secara terbuka.
Presiden Finlandia Alexander Stubb menambahkan bahwa Eropa memiliki kapasitas pertahanan yang kuat, tetapi tetap sangat bergantung pada dukungan AS—mulai dari wajib militer hingga pemeliharaan jet tempur.
Dari Davos, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan pidato keras, memperingatkan “pengaruh AS” terhadap negara-negara Barat lainnya.
“Kita berada dalam keretakan, bukan transisi,” kata Carney, menyebut anggapan bahwa tatanan internasional berbasis aturan masih utuh sebagai sebuah “ilusi”.
Pidato itu disampaikan menjelang kemunculan Trump di forum, mempertegas suasana ketegangan diplomatik lintas Atlantik yang kian terasa.
Ketegangan juga merembet ke isu Kepulauan Chagos. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Inggris telah “mengecewakan” AS atas keputusan menyerahkan kedaulatan Chagos kepada Mauritius, termasuk pulau Diego Garcia yang menjadi lokasi pangkalan militer penting Inggris–AS.
Pernyataan ini kontras dengan sikap AS sebelumnya yang sempat menyambut baik kesepakatan tersebut, dan dengan dukungan awal Trump pada Februari 2025.
Trump berbicara di jantung geografis Eropa, di tengah ancaman tarif terhadap sekutu, ambisi terkait Greenland, dan kekhawatiran akan masa depan NATO serta tatanan global berbasis aturan.
Para pemimpin dunia kini menanti pidato Trump, apakah akan memperdalam jurang transatlantik, atau membuka ruang kompromi baru. (ren)
