Trump Tarik AS dari Kerja Sama Perubahan Iklim, Eropa Murka, China Ambil Panggung
Trump menarik Amerika Serikat dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, memicu kemarahan Eropa dan membuka peluang China mengambil peran kepemimpinan iklim global.

HALLONEWS.COM – Keputusan pemerintahan Donald Trump untuk menarik Amerika Serikat (AS) dari Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) memicu kecaman luas dari komunitas internasional. Langkah ini menandai mundurnya Washington dari fondasi utama tata kelola iklim global dan mempertegas perubahan arah kebijakan lingkungan Amerika Serikat di bawah Trump.
Tak hanya keluar dari UNFCCC, pemerintahan Trump juga menarik AS dari lebih dari 60 organisasi lingkungan internasional, termasuk Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC). Keputusan tersebut segera menuai kritik tajam dari para pemimpin dunia, organisasi lingkungan, serta pemerintah-pemerintah Eropa.
Dalam pernyataan resmi pemerintah, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membingkai penarikan diri tersebut sebagai keputusan politik yang disengaja. Menurut Rubio, lembaga-lembaga iklim internasional telah berkembang menjadi arsitektur tata kelola global yang sarat ideologi dan tidak lagi relevan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.
“Kerangka kerja internasional yang awalnya pragmatis untuk kerja sama telah berubah menjadi struktur global yang luas dan terlepas dari kepentingan negara,” kata Rubio seperti dikutip Euronews, Kamis (8/1/2026).
Sikap ini sejalan dengan pandangan lama Trump yang secara terbuka meragukan sains perubahan iklim. Presiden AS itu sebelumnya menyebut perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar” dan mengejek energi terbarukan sebagai “lelucon”. Dalam konteks itu, absennya Washington dari KTT iklim global COP30 di Brasil dipandang sebagai sinyal politik yang konsisten.
UNFCCC, yang didirikan pada 1992, merupakan landasan hukum bagi Perjanjian Paris, pakta global yang bertujuan membatasi kenaikan suhu bumi hingga jauh di bawah 2 derajat Celsius dan idealnya 1,5 derajat.
Trump sebelumnya telah menarik AS dari Perjanjian Paris pada masa jabatan pertamanya, sebelum keputusan itu dibatalkan oleh Joe Biden. Namun, penarikan dari UNFCCC kali ini dipandang lebih mendasar karena menyentuh kerangka institusional utama kerja sama iklim internasional.
Sejumlah pakar menilai langkah tersebut bersifat simbolik dan masih dapat dibalik oleh pemerintahan AS di masa depan. Meski demikian, keputusan ini memperkuat kesan bahwa ekonomi terbesar dunia memilih menjauh dari aksi iklim kolektif.
Eropa Bereaksi Keras
Kecaman paling keras datang dari Eropa. Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk Transisi Bersih, Adil, dan Kompetitif, Teresa Ribera, menyebut langkah Gedung Putih sebagai cerminan ketidakpedulian terhadap lingkungan dan penderitaan manusia.
“Mereka tidak peduli pada lingkungan, kesehatan, atau penderitaan orang-orang. Bahkan warisan besar Amerika Serikat dalam tata kelola global pun tidak lagi menjadi prioritas,” ujarnya.
Komisaris Aksi Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra menyebut keputusan AS “disesalkan” dan menegaskan Uni Eropa akan tetap melanjutkan kerja sama iklim internasional serta agenda domestik, termasuk target netralitas iklim 2050 melalui Kesepakatan Hijau Eropa.
Respons di Parlemen Eropa menunjukkan perpecahan. Anggota parlemen dari Partai Hijau Belanda, Catarina Vieira, menyebut keputusan Trump ceroboh di tengah meningkatnya gelombang panas, kebakaran hutan, dan banjir ekstrem.
Sebaliknya, anggota parlemen Austria dari kelompok Patriots for Europe, Roman Haider, mendukung langkah Trump dan menilai kebijakan iklim internasional serta regulasi Uni Eropa justru membebani warga dan dunia usaha.
China Ambil Panggung
Di saat Amerika Serikat melangkah mundur, China justru memperkuat posisinya dalam tata kelola iklim global. Pada Desember lalu, Kementerian Keuangan China meluncurkan standar baru pelaporan risiko dan peluang iklim bagi perusahaan, dengan tujuan menekan praktik greenwashing dan mendorong investasi hijau.
Langkah ini dibaca sebagai sinyal kuat bahwa Beijing siap mengisi kekosongan kepemimpinan iklim global yang ditinggalkan Washington, sekaligus memperluas pengaruhnya dalam ekonomi hijau dunia.
Penarikan Amerika Serikat dari Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim dan IPCC menandai babak baru politik iklim global. Eropa memilih melaju dengan target ambisius, China memosisikan diri sebagai pemain kunci, sementara Amerika Serikat di bawah Trump menepi dari panggung utama.
Pertanyaan besar kini mengemuka: seberapa efektif aksi iklim global tanpa keterlibatan aktif ekonomi terbesar dunia? Yang jelas, pusat gravitasi kepemimpinan iklim internasional sedang bergeser, dan dunia tengah menyesuaikan diri dengan realitas baru tersebut. (ren)
