Home - Internasional - Trump Jaga Jarak dari Pernyataan Pejabatnya Soal Penembakan ICE, Desakan Mundur Kristi Noem Menguat

Trump Jaga Jarak dari Pernyataan Pejabatnya Soal Penembakan ICE, Desakan Mundur Kristi Noem Menguat

Donald Trump meredam ketegangan usai penembakan Alex Pretti oleh agen ICE di Minneapolis. Ia menjauh dari pernyataan kontroversial pejabatnya, sementara tekanan agar Kristi Noem mundur kian menguat.

Rabu, 28 Januari 2026 - 18:35 WIB
Trump Jaga Jarak dari Pernyataan Pejabatnya Soal Penembakan ICE, Desakan Mundur Kristi Noem Menguat
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan sebelum menghadiri rapat umum di Iowa di tengah kontroversi penembakan oleh agen ICE. Foto: Sky News for Hallonews

HALLONEWS.COM-Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak mengambil jarak dari pernyataan kontroversial sejumlah pejabat senior pemerintahannya terkait penembakan Alex Pretti, seorang perawat ICU berusia 37 tahun yang tewas ditembak agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Minneapolis.

Insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah kasus serupa di kota yang sama, ketika agen dari unit ICE yang kontroversial menembak mati Renee Good, juga berusia 37 tahun. Rentetan kejadian tersebut memicu kemarahan publik dan memperbesar sorotan terhadap metode penegakan hukum imigrasi federal.

Pernyataan keras dari penasihat Trump Stephen Miller dan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem justru memperkeruh situasi. Keduanya dinilai menyudutkan korban, hingga memantik reaksi keras dari keluarga Pretti, tokoh Demokrat, masyarakat sipil, bahkan politisi Partai Republik.

Berbicara kepada wartawan pada Selasa (27/1/2026) waktu setempat, Trump mengatakan dirinya ingin “meredakan” situasi di Minneapolis setelah berkomunikasi dengan wali kota dari Partai Demokrat dan gubernur negara bagian Minnesota. Ia menyebut kematian Pretti sebagai “insiden yang sangat disayangkan.”

Saat meninggalkan Gedung Putih untuk menghadiri rapat umum di Iowa, Trump ditanya apakah ia sependapat dengan pernyataan Stephen Miller yang menggambarkan Pretti sebagai “calon pembunuh.”

“Tidak. Bukan seperti itu, tidak,” jawab Trump.
“Dengar, Anda tidak bisa masuk sambil membawa senjata. Anda tidak bisa melakukan itu, tetapi ini hanyalah insiden yang sangat disayangkan.”

Trump kembali mengulang pernyataannya sebelum rapat umum di Iowa dengan menegaskan bahwa Pretti “seharusnya tidak membawa senjata,” namun ia kembali menekankan bahwa kejadian tersebut dipandang sebagai peristiwa tragis oleh hampir semua pihak.

“Semua orang di ruangan ini melihatnya sebagai insiden yang sangat disayangkan,” kata Trump, sebelum menyelipkan kalimat sarkastik, “semua orang, kecuali kamu orang bodoh.”

Kasus ini turut membuka kembali perdebatan tentang Amandemen Kedua Konstitusi AS, yang menjamin hak warga negara untuk membawa senjata api, sebuah prinsip yang selama ini dipertahankan kuat oleh Partai Republik.

Pejabat setempat di Minnesota menyatakan bahwa Alex Pretti membawa senjata api secara legal, sehingga memperbesar kontroversi atas tindakan aparat ICE.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut pemerintahannya akan “mengurangi intensitas” operasi imigrasi federal di Minneapolis, meski menegaskan langkah itu bukan penarikan total, melainkan penyesuaian strategi.

Ketegangan Politik Meluas

Insiden penembakan ini terjadi di tengah suasana politik yang memanas. Beberapa hari setelah kematian Pretti, seorang pria menerjang anggota DPR AS dari Partai Demokrat Ilhan Omar saat acara pertemuan warga dan mencoba menyemprotnya dengan zat yang tidak dikenal.

Omar, yang selama ini vokal mengkritik ICE dan kerap menjadi sasaran serangan verbal Trump, dilaporkan tidak terluka dan tetap melanjutkan acara tersebut.

Tekanan politik kini beralih ke Kristi Noem. Dua senator Partai Republik secara terbuka memisahkan diri dari garis partai dan menyerukan agar Menteri Keamanan Dalam Negeri itu mengundurkan diri.

Senator Thom Tillis dari Carolina Utara menyatakan secara tegas bahwa ia tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap Noem.

“Tidak, sama sekali tidak. Saya pikir dia harus mundur,” kata Tillis kepada wartawan di Capitol Hill. Ia bahkan menyebut sejumlah tindakan Noem mencerminkan “pola pikir amatir ala asisten manajer.”

Senator Republik lainnya, Lisa Murkowski dari Alaska, juga menyampaikan sikap serupa dalam wawancara dengan NBC News.

“Ya, dia harus mundur,” ujarnya singkat.

Kasus penembakan oleh agen ICE ini kini bukan hanya soal penegakan hukum imigrasi, tetapi telah berubah menjadi krisis politik yang menguji konsistensi Partai Republik, komitmen pemerintahan Trump terhadap hak sipil, serta masa depan kepemimpinan di Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. (ren)