Home - Internasional - Trump Buka Peluang Damai dengan Iran, tapi Ancaman Perang Regional Makin Nyata

Trump Buka Peluang Damai dengan Iran, tapi Ancaman Perang Regional Makin Nyata

Donald Trump berharap AS dan Iran mencapai kesepakatan nuklir di tengah ancaman perang regional. Teheran buka pintu negosiasi, tapi siap balasan militer keras.

Senin, 2 Februari 2026 - 16:35 WIB
Trump Buka Peluang Damai dengan Iran, tapi Ancaman Perang Regional Makin Nyata
Presiden AS Donald Trump berbicara sebelum menandatangani perintah eksekutif di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington, DC, 30 Januari 2026. Foto: CGTN for Hallonews

HALLONEWS.COM-Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan harapannya agar Washington dan Teheran dapat mencapai kesepakatan, menyusul peringatan keras dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bahwa setiap serangan militer AS terhadap Iran akan memicu perang regional berskala luas.

“Semoga kita bisa mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan di Mar-a-Lago, Florida, Minggu (1/2/2026) waktu setempat. Ia menambahkan, jika kesepakatan gagal tercapai, maka peringatan Khamenei akan diuji kebenarannya.

Trump menilai pernyataan pemimpin Iran tersebut sebagai hal yang dapat diprediksi. Ia juga menegaskan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah, dengan menyebut pengerahan “kapal-kapal terbesar dan terkuat di dunia” di perairan dekat Iran sebagai bagian dari tekanan strategis Washington.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan, seiring Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan, langkah yang memicu kekhawatiran akan eskalasi terbuka antara dua negara yang telah lama bermusuhan.

Iran Buka Negosiasi, tapi Tetap Waspada

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskTan bahwa Teheran tetap melihat peluang tercapainya kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat, meskipun diliputi ketidakpercayaan mendalam terhadap Washington.

Araghchi menyatakan Iran terbuka terhadap pembicaraan yang “adil dan jujur”. Ia mengungkapkan bahwa pertukaran pesan tidak langsung antara kedua negara, yang difasilitasi oleh negara-negara regional, telah menunjukkan kemajuan.

Namun, Araghchi menegaskan bahwa penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir 2015 serta serangan AS dan Israel terhadap Iran menjadi alasan utama runtuhnya kepercayaan. Meski begitu, ia menilai substansi perundingan jauh lebih penting dibandingkan format pembicaraan, baik langsung maupun tidak langsung.

Iran, kata Araghchi, siap menjamin bahwa program nuklirnya tetap bersifat damai dan menentang kepemilikan senjata nuklir. Sebagai imbalan, Teheran menuntut pencabutan sanksi ekonomi serta pengakuan atas hak pengayaan uranium untuk tujuan damai sesuai kerangka internasional.

Ia juga memperingatkan agar perundingan tidak melebar ke isu-isu lain seperti program rudal Iran atau dukungan Teheran terhadap kelompok perlawanan regional. “Janganlah kita membicarakan hal-hal yang mustahil,” ujarnya, seraya menyebut peluang kesepakatan saat ini sebagai “sempit namun krusial”.

Ancaman Balasan Militer

Meski membuka jalur diplomasi, Araghchi menegaskan Iran siap menghadapi skenario militer apa pun. Ia memperingatkan bahwa serangan AS akan dibalas dengan respons yang “lebih keras dan tegas” dibanding konflik langsung Iran–Israel selama 12 hari tahun lalu. Menurutnya, perang semacam itu berpotensi meluas dan menjadi bencana regional, dengan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah sebagai target potensial.

Pejabat Gedung Putih menyatakan Trump belum mengambil keputusan final terkait opsi militer dan masih membuka ruang bagi solusi diplomatik. Namun, para pejabat AS juga mengakui ketidakpastian mengenai apakah Khamenei akan memberi lampu hijau bagi tim diplomatik Iran untuk menyepakati kesepakatan yang dapat diterima Washington.

Mediasi Regional dan Bayang-Bayang Perang

Upaya mediasi regional kini semakin intensif. Sumber-sumber AS yang dikutip China Media Group menyebut pemerintahan Trump telah menyampaikan kesiapan untuk bernegosiasi melalui berbagai saluran. Turki, Mesir, dan Qatar dilaporkan tengah mengupayakan pertemuan di Ankara antara utusan khusus presiden AS Steve Witkoff dan pejabat senior Iran.

Di balik layar, koordinasi militer juga meningkat. Kepala militer Israel Eyal Zamir dilaporkan melakukan pembicaraan intensif dengan pejabat senior AS di Washington, membahas kemungkinan serangan terhadap Iran dan koordinasi taktis kedua sekutu.

Analis energi dan geopolitik Bob McNally bahkan memperkirakan peluang serangan AS terhadap Iran mencapai 75 persen dalam hitungan hari hingga pekan mendatang.

Ketegangan ini berakar pada runtuhnya kesepakatan nuklir Iran setelah AS menarik diri pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi besar-besaran. Upaya menghidupkan kembali kesepakatan melalui lima putaran pembicaraan tidak langsung sejak April 2025 terhenti setelah serangan mendadak Israel terhadap Iran dan pemboman fasilitas nuklir Iran oleh AS selama konflik 13–24 Juni 2025.

Sejak saat itu, diplomasi berada di titik beku. Namun, baik Washington maupun Teheran, setidaknya di ruang publik, masih menyiratkan satu pesan yang sama: kesepakatan tetap lebih baik daripada perang, meski waktu untuk mencapainya kian menipis. (ren)