Trump Ancam Kuba: Minyak dan Uang Venezuela Dihentikan
Donald Trump memperingatkan Kuba bahwa aliran minyak dan dana dari Venezuela akan dihentikan, mendesak Havana segera membuat kesepakatan dengan AS sebelum situasi memburuk.

HALLONEWS.COM-Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Kuba tidak akan lagi menerima minyak atau dukungan finansial dari Venezuela, menegaskan tekanan diplomatik tinggi terhadap Havana dan menyarankan agar negara Karibia itu segera mencapai kesepakatan dengan Washington sebelum situasi memburuk. Pernyataan tersebut memperdalam ketegangan geopolitik di kawasan setelah serangkaian konflik dan perubahan besar dalam hubungan AS–Venezuela.
Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa tidak akan ada lagi minyak atau uang dari Venezuela yang mengalir ke Kuba. Ia menuding bahwa selama bertahun-tahun, Havana bergantung pada pasokan energi dan dukungan finansial dari Caracas, yang kini telah berakhir.
“THERE WILL BE NO MORE OIL OR MONEY GOING TO CUBA – ZERO! I strongly suggest they make a deal, BEFORE IT IS TOO LATE,” tulis Trump, memperingatkan Kuba agar menegosiasikan hubungan baru dengan AS, seperti dikutip Senin (12/1/2026).
Menurut Trump, selama ini Kuba mendapatkan sumber daya tersebut sebagai balasan atas dukungan politik dan keamanan kepada pemerintahan Venezuela yang sebelumnya dipimpin oleh Nicolás Maduro, meskipun rincian hubungan tersebut tidak dijelaskan lebih jauh.
Ketegangan hubungan ini meningkat setelah operasi militer AS di Venezuela beberapa waktu lalu yang menyebabkan perubahan cepat dalam dinamika politik Caracas. Dalam konteks tersebut, rantai hubungan sejarah antara Kuba dan Venezuela, terutama mengenai energi dan dukungan finansial, kini terputus.
Venezuela telah menjadi pemasok minyak utama bagi Kuba sejak awal abad ke-21, khususnya di bawah pemerintahan Hugo Chávez dan Maduro. Namun sejak gugatan dan tekanan baru oleh Washington, serta kontrol minyak yang dialihkan ke pihak AS, aliran tersebut semakin menurun.
Pemerintah Kuba merespons ancaman tersebut dengan sikap tegas. Havana memberi pernyataan menolak tekanan eksternal, menegaskan hak suverennya untuk menjalin hubungan dagang dengan negara mana pun tanpa ancaman atau paksaan. Pejabat Kuba menyatakan bahwa mereka tidak pernah menerima kompensasi moneter langsung untuk dukungan politik atau keamanan kepada Venezuela, menyanggah tuduhan Washington.
Reaksi ini mencerminkan ketidaksetujuan Havana atas tekanan dari Washington dan keyakinan bahwa keputusan soal hubungan ekonomi dan energi negara merdeka tidak bisa dipaksakan dari luar.
Pernyataan Trump juga berisi sindiran terhadap masa depan politik Kuba, termasuk membagikan unggahan yang menyebut Marco Rubio sebagai calon presiden Kuba, tanggapan yang lebih bersifat provokatif ketimbang kebijakan resmi.
Langkah ini dipandang oleh sejumlah analis sebagai bagian dari upaya tekanan lebih luas terhadap rezim Kuba, seraya Washington berusaha menggeser pengaruh politik di Amerika Latin pasca operasi di Venezuela. (ren)
