Home - Opini - Tol IKN Ambles! Alarm Serius Tata Kelola Proyek Raksasa Ibu Kota Baru

Tol IKN Ambles! Alarm Serius Tata Kelola Proyek Raksasa Ibu Kota Baru

Amblesnya Jalan Tol IKN membuka alarm serius tata kelola proyek nasional. Audit independen dinilai penting untuk mengungkap risiko geologi, teknis, dan akuntabilitas pembangunan ibu kota baru.

Rabu, 14 Januari 2026 - 14:00 WIB
Tol IKN Ambles! Alarm Serius Tata Kelola Proyek Raksasa Ibu Kota Baru
ilustrasi tol IKN (dok Hallonews)

HALLONEWS.COM – Amblesnya Jalan Tol IKN Seksi 3A-2 Segmen Karangjoang–KKT Kariangau jadi pengingat penting bahwa pembangunan infrastruktur berskala nasional tak hanya soal kecepatan dan kemegahan, tetapi juga ketepatan teknis dan ketangguhan tata kelola.

Insiden ini tidak dapat dipahami semata sebagai kejadian alam, melainkan harus dibaca sebagai pertemuan antara kondisi geologi, manajemen risiko, dan akuntabilitas pelaksanaan proyek.

Tol tersebut merupakan salah satu jalur alternatif strategis menuju kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Oleh karena itu, setiap gangguan struktural pada ruas ini secara langsung memengaruhi persepsi publik terhadap kesiapan infrastruktur pendukung ibu kota baru.

Lebih jauh, kejadian ini membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai sejauh mana pembangunan nasional telah benar-benar mempertimbangkan karakteristik alam dan risiko teknis di wilayah Kalimantan Timur.

Proyek Tol IKN Seksi 3A-2 dikerjakan melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) yang melibatkan empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar di bidang konstruksi: PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Hutama Karya (Persero), PT Nindya Karya (Persero), dan PT Brantas Abipraya (Persero).

Keterlibatan konsorsium ini secara normatif merepresentasikan kapasitas teknis dan pengalaman panjang dalam menangani proyek infrastruktur berskala besar. Namun, justru karena itu, kegagalan struktural yang terjadi perlu dikaji secara lebih serius dan objektif.

Berdasarkan penjelasan resmi Kementerian Pekerjaan Umum, amblesnya jalan dipicu oleh curah hujan ekstrem yang terjadi secara terus-menerus sejak 7 Januari hingga 8 Januari 2026.

Intensitas hujan tersebut menyebabkan tanah timbunan mengalami kejenuhan air (saturated condition), sehingga tekanan air pori meningkat dan kuat geser tanah menurun secara signifikan.

Akibatnya, terjadi pergeseran lateral pada tanah timbunan disposal yang kemudian memicu deformasi struktur slab on pile dan berujung pada amblesnya badan jalan.

Secara geoteknik, kondisi ini bukanlah fenomena yang sepenuhnya tak terduga. Wilayah Kalimantan Timur, termasuk koridor IKN, didominasi oleh tanah clay shale yang bersifat ekspansif dan mudah mengalami penurunan stabilitas saat terpapar air berlebih.

Tanah jenis ini memerlukan pendekatan desain dan konstruksi yang sangat ketat, terutama dalam hal sistem drainase dan perbaikan tanah dasar (soil improvement).

Dengan kata lain, tantangan teknis utama bukan semata pada struktur jalan di atasnya, tetapi pada bagaimana tanah di bawahnya diperlakukan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

Kondisi Geologi Kompleks

Dalam konteks ini, insiden amblesnya jalan tol perlu dibaca sebagai ujian terhadap manajemen risiko proyek. Pertanyaan penting yang muncul bukan hanya “apa penyebab teknisnya”, melainkan juga “apakah mitigasi risiko cuaca ekstrem dan karakteristik tanah telah diantisipasi secara memadai”.

Pembangunan di wilayah dengan kondisi geologi kompleks menuntut pendekatan berbasis kehati-hatian (precautionary principle), termasuk skenario terburuk akibat perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi hujan ekstrem.

Selain aspek teknis, dimensi tata kelola juga tidak kalah penting. Proyek strategis nasional melibatkan dana publik dan membawa dampak simbolik yang besar. Oleh karena itu, transparansi dalam penanganan insiden, audit teknis independen, serta kejelasan pembagian tanggung jawab antaranggota konsorsium menjadi keharusan.

Audit bukan dimaksudkan untuk mencari kesalahan semata, melainkan untuk memastikan bahwa pelajaran dari kegagalan ini dapat diterjemahkan menjadi standar baru yang lebih kuat bagi pembangunan selanjutnya.

Ke depan, pemulihan fungsi jalan tol harus dibarengi dengan langkah korektif yang bersifat permanen. Penguatan sistem drainase, perbaikan tanah dasar yang sesuai dengan karakter clay shale, serta pemantauan geoteknik secara berkelanjutan menjadi kebutuhan mutlak, bukan pilihan.

Lebih dari itu, pengalaman ini seharusnya menjadi referensi penting bagi seluruh proyek infrastruktur di kawasan IKN agar kesalahan serupa tidak terulang di segmen lain.

Pada akhirnya, pembangunan IKN adalah proyek jangka panjang yang keberhasilannya tidak diukur dari seberapa cepat bangunan berdiri, melainkan dari seberapa kokoh ia bertahan menghadapi ujian alam dan waktu.

Amblesnya satu ruas jalan dapat menjadi kemunduran, tetapi juga dapat menjadi momentum perbaikan; asal ditanggapi dengan keterbukaan, ketelitian ilmiah, dan tanggung jawab institusional yang kuat. (Mathias Brahmana/Dewan Redaksi HalloNews)

Berita Lainnya :

Opini

Update