Thailand–Kamboja Memanas Lagi: Gagalnya Diplomasi ASEAN dan Ancaman Destabilisasi Kawasan
Ketegangan perbatasan Thailand–Kamboja kembali meledak setelah serangan udara Thailand menghantam wilayah sengketa, menandai kegagalan terbaru upaya diplomasi ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan.

HALLONEWS.COM-Ketegangan Thailand dan Kamboja kembali memuncak setelah serangan udara Thailand menghantam wilayah perbatasan yang disengketakan, menandai kegagalan terbaru upaya diplomasi Asia Tenggara yang selama ini mengklaim dapat menjaga stabilitas kawasan.
Situasi yang seharusnya diredam lewat mekanisme ASEAN justru kembali pecah menjadi konfrontasi bersenjata, memicu kekhawatiran bahwa dua negara bertetangga itu sedang bergerak menuju konflik yang lebih luas.
ASEAN Gagal Redam Konflik Lama
Serangan udara yang dilancarkan Thailand pada Senin (8/12/2025) pagi adalah tanda nyata bahwa mekanisme diplomatik, mulai dari pertemuan konsultatif, forum pertahanan, hingga komitmen gencatan senjata yang ditandatangani dengan difasilitasi Malaysia dan Amerika Serikat, tidak berhasil menciptakan jaminan perdamaian jangka panjang.
Dalam pernyataan resminya, militer Thailand mengatakan jet tempur dikerahkan setelah seorang prajurit mereka tewas akibat tembakan dari pihak Kamboja. Namun Phnom Penh membantah tegas dan menyebut Thailand lah yang memulai baku tembak.
Pertukaran narasi itu memperjelas satu hal: komunikasi kedua negara runtuh, dan ASEAN tidak lagi mampu mengontrol dinamika konflik yang sudah berlangsung lebih dari satu abad.
Ketegangan Lama yang Meledak Lagi
Setelah gencatan senjata rapuh disepakati pada Juli lalu, yang menghentikan bentrokan lima hari dan menewaskan 48 orang, ASEAN memuji dirinya sendiri sebagai mediator efektif. Tetapi pernyataan itu terbukti prematur.
Ledakan ranjau di wilayah Thailand bulan lalu memicu respons keras Bangkok, yang menuduh Kamboja bertanggung jawab. Meskipun Phnom Penh membantah, rangkaian insiden ini akhirnya berujung pada serangan udara Thailand.
Bagi banyak analis, ini bukan sekadar insiden perbatasan, tetapi tanda bahwa kedua negara mempersiapkan diri menghadapi pertempuran jangka panjang.
Dampak Kemanusiaan Meningkat
Situasi memanas ini langsung melahirkan gelombang pengungsian baru. Thailand mengevakuasi sekitar 35.000 warganya dari kecamatan yang berada dalam jangkauan tembakan. Kamboja melaporkan ratusan warga desa meninggalkan rumah mereka.
Sekolah-sekolah di Kamboja diperintahkan tutup, sementara Thailand meningkatkan status siaga di tiga provinsi perbatasannya.
Jika konflik terus berlanjut, potensi krisis kemanusiaan lintas negara diperkirakan meningkat, sesuatu yang selama ini selalu dihindari ASEAN.
Peringatan Global dan Kegagalan Regional
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan kekhawatiran mendalam, meminta kedua negara mengurangi tensi. Namun pernyataan Anwar justru memperlihatkan bagaimana ASEAN kembali hanya mampu menjadi penonton saat konflik internal anggotanya meledak.
Sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat dan Tiongkok, disebut siap turun “mengimbangi situasi” jika konflik meningkat. Ini memperlihatkan risiko intervensi kekuatan eksternal yang bisa menambah rumit dinamika regional.
Konflik Berabad-abad yang Membayangi Masa Depan
Sengketa perbatasan sepanjang 817 km, yang ditetapkan pada era kolonial Prancis pada 1907, telah menjadi luka lama yang tak pernah sepenuhnya sembuh. Baik Thailand maupun Kamboja merasa memiliki dasar historis dan legal yang kuat atas sejumlah titik strategis.
Selama bertahun-tahun, kawasan ASEAN dianggap berhasil menjaga stabilitas dibanding daerah lain. Namun pecahnya kembali konflik ini menunjukkan bahwa fondasi itu tidak sekuat yang diperkirakan.
Jika ketegangan tidak diredam, banyak analis memperingatkan konflik dapat berubah menjadi perang perbatasan skala penuh, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah modern ASEAN. (ren)
