Sumatera Luluh Lantak: 776 Tewas, Ratusan Hilang Diterjang Banjir Bandang dan Longsor
BNPB melaporkan peningkatan signifikan jumlah korban akibat banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi besar di Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 776 orang, sementara ratusan lainnya masih hilang.

HALLONEWS.COM— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan signifikan jumlah korban akibat banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi besar di Sumatera yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga Kamis (4/12/2025), total korban meninggal mencapai 776 orang, sementara 564 orang masih hilang.
Bencana hidrometeorologi ini terjadi sejak akhir November 2025 dan disebut sebagai salah satu bencana paling mematikan dalam satu dekade terakhir.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan bahwa proses pencarian korban masih terus dilakukan di sejumlah daerah yang terisolasi.
“Kami menghadapi tantangan besar di lapangan karena akses jalan dan jembatan banyak yang putus. Namun seluruh tim SAR gabungan terus bekerja tanpa henti untuk menemukan korban dan menyalurkan bantuan,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Selain menelan korban jiwa, dampak kerusakan infrastruktur juga sangat luas. BNPB mencatat 10.400 rumah warga rusak, 354 fasilitas umum, 132 rumah ibadah, sembilan fasilitas kesehatan, serta 100 gedung dan perkantoran ikut terdampak. Di sektor pendidikan, 213 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan, sementara 295 jembatan tidak dapat digunakan.
Dari tiga provinsi terdampak, Sumatera Utara menjadi wilayah dengan korban meninggal tertinggi, yakni 299 orang, disusul Aceh dengan 277 orang, dan Sumatera Barat sebanyak 200 korban jiwa.
Secara administratif, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menjadi daerah paling parah terdampak dengan 147 korban meninggal, diikuti Aceh Utara (112 korban), dan Tapanuli Tengah (86 korban).
Ahli klimatologi dari BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem akibat anomali iklim La Niña moderat dan pemanasan muka laut di Samudra Hindia bagian timur menjadi pemicu utama bencana ini.
“Intensitas hujan di beberapa wilayah Sumatera mencapai lebih dari 300 milimeter per hari, jauh di atas ambang normal. Kombinasi hujan ekstrem, kondisi tanah jenuh air, dan alih fungsi lahan memperburuk potensi longsor dan banjir bandang,” ungkap Dwikorita.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Pemerintah daerah di tiga provinsi terdampak kini tengah menyiapkan zona evakuasi baru dan pos pengungsian tambahan, terutama di wilayah yang akses transportasinya terputus. (ren)
