Home - Nasional - Sumatera Kehilangan Biodiversitas Tertinggi di Indonesia, Pakar IPB University: Pemerintah Harus Waspada

Sumatera Kehilangan Biodiversitas Tertinggi di Indonesia, Pakar IPB University: Pemerintah Harus Waspada

Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Prof Syartinilia mengatakan, pulau Sumatra menunjukkan tren kehilangan biodiversitas tertinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

Senin, 29 Desember 2025 - 12:35 WIB
Sumatera Kehilangan Biodiversitas Tertinggi di Indonesia, Pakar IPB University: Pemerintah Harus Waspada
Ket foto, Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). (Humas IPB)

HALLONEWS.COM – Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Prof Syartinilia mengatakan, pulau Sumatra menunjukkan tren kehilangan biodiversitas tertinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

Menurut Prof Syartinilia, analisis pada skala meso di pulau Sumatra menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII) menunjukkan, jika data global periode 2017–2020, Sumatra menempati posisi tertinggi.

Untuk itu, ia mengingatkan pemerintah, agar mewaspadai hal ini. Pasalnya, pada skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15 persen, sementara pada skenario keberlanjutan dapat ditekan hingga sekitar 11 persen.

Analisis lebih lanjut dilakukan terhadap habitat spesies kunci dan karismatik, seperti gajah, orangutan, dan harimau Sumatra.

Ia menjelaskan, pada skenario bisnis, habitat gajah diproyeksikan menurun hingga 66 persen, sedangkan pada skenario keberlanjutan terdapat potensi peningkatan habitat sekitar 5 persen.

“Pendekatan berkelanjutan harus dilakukan, demi mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan,” kata Prof Syartinilia melalui rilisnya yang diterima wartawan media ini Senin 29 Desember 2025.

Prof Syartinilia mengatakan, berdasarkan hasil analisis kajian, ia merekomendasikan berbagai aksi adaptasi, antara lain restorasi terfokus, konservasi berbasis masyarakat, pengelolaan lanskap terpadu, mitigasi ancaman langsung, serta investasi konservasi berskala besar, dengan Pulau Sumatra sebagai wilayah prioritas.

Lebih lanjut Dosen Fakultas Pertanian IPB University ini memaparkan, kajian yang ia lakukan menekankan pada kerentanan ekosistim nasional hingga tahun 2050.

Pendekatan yang digunakan dalam riset ini adalah pendekatan multiskala, mulai dari tingkat nasional hingga pulau.

Pada skala nasional, tim peneliti melakukan analisis overlay antara keterpaparan iklim dan kualitas ekosistem terestrial yang diukur melalui indeks vegetasi. Dari dua variabel tersebut, disusun tingkat kerentanan lanskap dalam sembilan level.

“Hasilnya menunjukkan bahwa secara nasional Indonesia masih didominasi oleh kerentanan rendah hingga sedang, meskipun terdapat wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi,” ujarnya.

Sekretaris Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (LRI LPI) menegaskan, hasil analisis berdasarkan tipe ekosistem, ditemukan ekosistem lahan basah dan ekosistem pegunungan merupakan dua tipe ekosistem yang paling rentan secara nasional.

“Secara spasial, pulau Sumatra tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi, diikuti Papua, Kalimantan, dan Maluku,” urainya.

Prof Syartinilia menegaskan, perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia dalam skala lanskap.

Fenomena kenaikan suhu, pergeseran pola curah hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, serta perubahan biodiversitas merupakan proses yang saling terkait.

“Faktor antropogenik memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia,” ungkap Prof Syartinilia. (yopy)