Home - Internasional - Serangan AS ke Venezuela Targetnya Bukan Maduro, tapi Xi Jinping?

Serangan AS ke Venezuela Targetnya Bukan Maduro, tapi Xi Jinping?

Penangkapan Nicolas Maduro dinilai sebagai manuver geopolitik Amerika Serikat untuk memukul kepentingan China. Analis menilai target utamanya bukan Maduro, melainkan Xi Jinping.

Kamis, 8 Januari 2026 - 20:15 WIB
Serangan AS ke Venezuela Targetnya Bukan Maduro, tapi Xi Jinping?
Kolase foto Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencerminkan rivalitas geopolitik dua kekuatan besar di balik krisis Venezuela. Foto: CGTN for Hallonews

HALLONEWS.COM-Penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat segera memicu perdebatan global. Di permukaan, Washington menyebutnya sebagai langkah penegakan hukum terhadap rezim yang dituduh terlibat kejahatan lintas negara. Namun di balik itu, semakin banyak analis geopolitik melihat operasi ini sebagai manuver strategis yang jauh lebih besar, sebuah pesan keras yang diarahkan langsung kepada Beijing dan Presiden Xi Jinping.

Bagi Amerika Serikat, Venezuela bukan hanya soal rezim bermasalah. Ia adalah simpul pengaruh China terbesar di Amerika Latin. Dan simpul itu kini dipotong secara brutal.

Venezuela sebagai Aset Geopolitik China yang Paling Berharga

Selama lebih dari dua dekade, China membangun hubungan istimewa dengan Caracas. Menurut Amalendu Misra, pakar hubungan internasional dan Global South dari Universitas Lancaster, Venezuela adalah “gerbang utama China ke Amerika Latin.”

“Tidak ada negara lain di kawasan ini yang menerima investasi dan pinjaman China sebesar Venezuela. Kehilangan Caracas adalah guncangan strategis bagi Beijing,” ujar Misra seperti dikutip Kamis (8/1/2026).

Data berbagai lembaga kajian menunjukkan China telah menyalurkan lebih dari US$100 miliar ke Venezuela sejak awal 2000-an, sekitar 40 persen dari total pinjaman China ke Amerika Latin. Investasi itu terutama terkonsentrasi di sektor minyak, pertambangan, dan infrastruktur.

Bagi Beijing, Venezuela bukan sekadar mitra ekonomi, melainkan bukti bahwa China mampu menantang dominasi AS di “halaman belakangnya” sendiri.

Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengaitkan operasi ini dengan semangat Doktrin Monroe, doktrin abad ke-19 yang menegaskan Amerika Latin sebagai wilayah eksklusif pengaruh AS.

Menurut Günther Maihold, pakar Amerika Latin dari Freie Universität Berlin, penangkapan Maduro adalah “aplikasi modern Doktrin Monroe.”

“Ini bukan hanya soal Venezuela. Ini pesan sistemik bahwa Amerika Serikat tidak akan mentoleransi kehadiran kekuatan besar lain—terutama China—di Belahan Barat,” kata Maihold.

Pesan itu diperkuat oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menegaskan Washington tidak akan membiarkan sektor strategis Venezuela dikendalikan China, Rusia, atau Iran.

Bagi Beijing, dampaknya bukan sekadar politis, tetapi juga finansial dan struktural. Mario Esteban, Direktur Pusat Studi Asia Timur di Universitas Otonom Madrid, menilai kejatuhan Maduro mengancam model kerja sama khas China.

“Hubungan China–Venezuela dibangun lewat skema oil-for-loans. Ketika rezim runtuh, skema itu ikut runtuh,” jelas Esteban.

Lembaga riset Eropa memperkirakan Caracas masih berutang lebih dari US$12 miliar kepada Beijing. Tanpa Maduro, China berisiko kehilangan pengaruh politik yang selama ini menjamin pembayaran utang tersebut.

“China sekarang membutuhkan kursi di meja perundingan. Masalahnya, kursi itu tidak lagi otomatis tersedia,” tambah Maihold.

Kegagalan Intelijen dan Ilusi Perlindungan

Penangkapan Maduro juga memunculkan kritik tajam terhadap kapasitas keamanan China di luar Asia. Carlotta Rinaudo, analis China di Tim Internasional untuk Studi Keamanan Verona, menyebut peristiwa ini sebagai kegagalan intelijen Beijing.

“China tidak mengetahui rencana AS sama sekali. Ini menunjukkan keterbatasan serius dalam kemampuan perlindungan sekutu,” kata Rinaudo.

Misra bahkan lebih keras. Menurutnya, sistem pertahanan udara dan radar buatan China yang terpasang di Venezuela “tidak berfungsi sama sekali” saat operasi berlangsung.

“Ini merusak reputasi teknologi militer China dan memperlihatkan batas nyata kekuatannya di Belahan Barat,” ujarnya.

Lebih dari sekadar Venezuela, operasi ini mengirim sinyal psikologis ke negara-negara Global South. Rinaudo menilai Washington ingin menunjukkan bahwa bersekutu dengan China tidak berarti aman ketika kepentingan AS dipertaruhkan.

“Ini pesan implisit kepada negara-negara Amerika Latin: China mungkin investor besar, tetapi ia tidak bisa melindungi Anda,” kata Rinaudo.

Tekanan ini sangat relevan bagi Meksiko, Kolombia, dan Kuba—negara-negara yang semakin terintegrasi dengan rantai pasok dan infrastruktur China.

Apa Opsi China?

Menurut Esteban, respons militer hampir mustahil. Pilihan Beijing lebih realistis berada di ranah diplomasi dan opini global.

“China akan menekankan kedaulatan, Piagam PBB, dan sejarah panjang intervensi AS di Amerika Latin,” ujarnya. “Namun itu tidak selalu cukup untuk mengimbangi kekuatan keras Amerika.”

Jika disarikan dari pandangan para pakar, satu kesimpulan menguat: Maduro bukan target utama. Ia hanyalah pion dalam perang pengaruh antara dua kekuatan global.

Dengan satu operasi, Washington menjatuhkan sekutu utama China di Amerika Latin, mengancam investasi dan leverage Beijing, dan menegaskan kembali dominasi AS di Belahan Barat.

Bagi Beijing, ini adalah peringatan keras bahwa ekspansi global berbasis investasi tanpa payung keamanan memiliki batas yang kejam.

Dan bagi dunia, penangkapan Maduro menandai babak baru, Amerika Latin kembali menjadi medan utama Perang Dingin gaya baru, dengan China sebagai sasaran strategis, bukan sekadar penonton. (ren)