Serangan AS ke Venezuela Picu Risiko Gangguan Pasokan Minyak ke China, Harga Global Berpotensi Bergejolak
Klaim serangan militer AS ke fasilitas Venezuela memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak ke China. Risiko logistik dan harga minyak global mulai meningkat.

HALLONEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengkonfirmasi bahwa militer AS melakukan serangan terhadap fasilitas di wilayah daratan Venezuela yang diduga menjadi pusat operasi penyelundupan narkoba.
Dalam pernyataan dan wawancara radio pada akhir Desember 2025, Trump menyatakan bahwa target tersebut merupakan “fasilitas besar” atau “area dermaga” tempat kapal-kapal dimuat dengan narkoba, dan serangan tersebut menyebabkan “ledakan besar” yang menghancurkan lokasi tersebut.
Ia menegaskan bahwa operasi ini merupakan perluasan dari kampanye sebelumnya yang fokus pada penyergapan kapal di laut, kini mencakup target di daratan untuk melumpuhkan jaringan sepenuhnya.
Alasan utama yang dikemukakan Trump adalah bahwa fasilitas tersebut berfungsi sebagai basis logistik untuk kartel narkoba yang terkait dengan pemerintahan Venezuela, yang dituduh memanfaatkan pendapatan dari sumber daya alam untuk mendanai kejahatan terorganisir, termasuk penyelundupan fentanyl dan kokain ke AS.
Trump juga menyebut bahwa ia telah memberikan wewenang kepada badan intelijen untuk operasi rahasia di Venezuela, meskipun ia menghindari detail spesifik mengenai pelaku serangan ketika ditanya langsung. Operasi ini diduga terjadi sekitar 24 Desember 2025, dengan laporan warga lokal tentang ledakan di zona industri tertentu, meskipun belum ada verifikasi independen yang lengkap.
Hingga saat ini, tidak ada konfirmasi resmi dari Gedung Putih, Pentagon, atau badan terkait lainnya mengenai detail operasi tersebut.
Pihak berwenang AS mengarahkan pertanyaan kepada instansi lain, sementara pemerintah Venezuela belum memberikan respons formal atas klaim ini. Presiden Nicolás Maduro sebelumnya telah menolak tuduhan keterlibatan dalam jaringan narkoba, menyebut kampanye AS sebagai dalih untuk intervensi politik dan penguasaan sumber daya minyak negara tersebut.
Serangan ini menjadi yang pertama diketahui secara publik melibatkan target daratan di Venezuela, setelah serangkaian aksi terhadap kapal di perairan internasional yang telah menewaskan puluhan orang yang dituding sebagai pelaku penyelundupan.
Kampanye ini merupakan bagian dari strategi tekanan maksimal Trump terhadap Venezuela, yang mencakup pengerahan kekuatan militer signifikan di wilayah Karibia dan Pasifik Timur. Dengan adanya klaim ini, ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Latin semakin meningkat, meskipun belum ada bukti visual atau rekaman resmi yang dirilis untuk mendukung pernyataan tersebut.
Secara keseluruhan, klaim Presiden Trump mengenai serangan militer AS terhadap fasilitas dermaga atau pabrik di Venezuela yang diduga basis penyelundupan narkoba, termasuk ledakan besar di zona industri, menandai operasi darat pertama yang diakui secara publik, meskipun tanpa konfirmasi resmi dari Gedung Putih atau Pentagon dan belum ada respons dari pemerintah Venezuela.
Gangguan pada fasilitas pelabuhan Venezuela ini berpotensi mengacaukan rantai pasok minyak mentah dari Venezuela ke China karena negara tersebut adalah pembeli terbesar minyak venezuela (sekitar 600.000 barrel per hari).
Blokade dan serangan terhadap fasilitas pelabuhan tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok minyak ke Tiongkok, mengingat kapal-kapal tanker kini tertahan di perairan lepas pantai akibat kekhawatiran akan penyitaan atau serangan oleh armada Amerika Serikat.
Hal ini dapat berpotensi menyebabkan peningkatan biaya logistik, atau pengalihan ke sumber alternatif seperti Rusia atau Timur Tengah, sehingga mampu memicu kenaikan harga minyak global sementara. (Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)
