Sepucuk Surat dari NTT dan Alarm Kemanusiaan bagi Negara
Sepucuk surat bocah di NTT menjadi alarm kemanusiaan bagi negara, menyingkap kemiskinan ekstrem, kesepian anak, dan pentingnya kehadiran negara melindungi hak hidup layak.

HALLONEWS.COM-Di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebuah surat kecil tertinggal. Ditulis tangan anak berusia 10 tahun. Tak panjang, tak rumit. Namun isinya terlalu berat untuk dibaca tanpa menahan napas.
YBH, siswa kelas IV sekolah dasar, telah pergi, dengan cara yang tragis pada 29 Januari 2026 lalu. Pergi bukan karena perang. Bukan pula karena bencana alam. Ia pergi karena hidup, yang seharusnya ramah bagi anak-anak, terasa terlalu keras.
Ia anak bungsu dari lima bersaudara. Tinggal bersama neneknya. Ibunya hidup terpisah, berjuang di kampung lain bersama empat anak lainnya. Ayahnya pergi merantau sejak YBH masih dalam kandungan, dan tak pernah kembali. Dalam sunyi itulah, kemiskinan tak lagi sekadar angka statistik. Ia menjelma menjadi kesepian, rasa tidak cukup, dan beban yang tak semestinya ditanggung seorang anak.
Sepucuk surat itu kini menjadi saksi. Bukan hanya bagi keluarga yang berduka, tetapi bagi negara yang sedang bercermin.
Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Mugiyanto menyebut tragedi ini sebagai wake-up call, alarm kemanusiaan yang berbunyi keras.
“Ini peringatan bagi negara untuk lebih hadir di rumah-rumah setiap warga,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Hadir, kata Mugiyanto, bukan sekadar hadir dalam dokumen, program, atau laporan. Hadir berarti memastikan hak paling dasar benar-benar dirasakan. Hak hidup layak, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan pekerjaan. Hak-hak yang sering terdengar besar di ruang kebijakan, tetapi terasa sangat rapuh di dapur-dapur kosong dan kamar tidur anak-anak miskin.
Bagi Mugiyanto, kisah YBH bukan cerita jauh. Ia mengaku merasakan kedekatan emosional dengan tragedi ini, karena masa kecilnya juga dibentuk oleh keterbatasan di kampung.
“Sebagai Wakil Menteri HAM, dan sebagai manusia, ini sangat menusuk nurani,” katanya.
Keluarga YBH berada dalam kategori kemiskinan ekstrem. Namun kemiskinan yang paling berbahaya bukan hanya soal ketiadaan uang. Ia adalah kemiskinan perhatian, pendampingan, dan kehadiran negara yang tak selalu sampai ke anak-anak paling sunyi.
Di usia ketika seharusnya anak-anak memikirkan pelajaran sekolah dan permainan sore hari, YBH justru bergulat dengan kecemasan hidup. Tak ada yang tahu pasti apa yang berputar di kepalanya. Yang tersisa hanya surat, dan pertanyaan besar yang datang terlambat.
Mugiyanto mengaitkan tragedi ini dengan agenda besar pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto yaitu memutus rantai kemiskinan dan membuat warga miskin “naik kelas.” Program makan bergizi gratis, sekolah rakyat, pemeriksaan kesehatan gratis, koperasi desa, hingga penyediaan perumahan dan pekerjaan digagas untuk memastikan tak ada warga yang tertinggal.
“Semua warga negara harus menjadi warga kelas satu,” ujar Mugiyanto.
“No one should be left behind.”
Namun, kepergian YBH mengingatkan bahwa kebijakan besar masih menyisakan celah. Di celah itulah anak-anak bisa jatuh, tanpa suara, tanpa sorotan, hingga semuanya terlambat.
Bagi Kementerian Hak Asasi Manusia, tragedi ini menegaskan kembali makna HAM yang paling dasar.
“Hidup layak, rumah layak huni, anak bisa sekolah, berobat ketika sakit, dan mendapatkan pekerjaan—itulah HAM,” tegas Mugiyanto.
Kementerian HAM menugaskan Kantor Wilayah HAM NTT untuk turun langsung ke lapangan, menemui keluarga, dan bekerja bersama pemerintah daerah. Tujuannya bukan sekadar investigasi, tetapi memahami denyut persoalan warga—agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
YBH telah tiada. Surat kecil itu kini menjadi simbol besar: tentang anak-anak yang terlalu cepat dewasa karena kemiskinan, tentang keluarga yang bertahan dalam sunyi, dan tentang negara yang diuji oleh kepergian warganya yang paling muda.
“Ini penting agar pengorbanan anak kita YBH tidak sia-sia,” kata Mugiyanto.
Sepucuk surat dari NTT telah berubah menjadi alarm kemanusiaan. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang bersalah, melainkan apakah negara,dan kita semua, benar-benar mendengar bunyinya.
Karena ketika seorang anak pergi, yang tertinggal bukan hanya duka, tetapi tanggung jawab. (ren)
