Home - Nusantara - Sebagian Siswa di Sumbar Belajar di Tenda Darurat yang Difungsikan sebagai Ruang Kelas

Sebagian Siswa di Sumbar Belajar di Tenda Darurat yang Difungsikan sebagai Ruang Kelas

Sebagian siswa di Sumatra Barat terpaksa belajar di tenda darurat akibat banjir. Wamendikdasmen Atip Latipulhayat meninjau langsung pembelajaran darurat di SMAN 12 Padang.

Rabu, 7 Januari 2026 - 19:01 WIB
Sebagian Siswa di Sumbar Belajar di Tenda Darurat yang Difungsikan sebagai Ruang Kelas
Dok. Kemendikdasmen Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyapa siswa dan guru pada hari pertama semester genap di SMAN 12 Kota Padang, Sumatra Barat, Senin (5/1/2026).

HALLONEWS.COM — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, hadir di tengah para siswa pada hari pertama semester genap di Kota Padang, Sumatra Barat, Senin (5/1/2026).

Hari pertama semester genap tersebut menjadi momen penuh makna karena berlangsung di tengah proses pemulihan wilayah Sumatra Barat pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa pekan sebelumnya. Dalam kesempatan itu, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat bertindak sebagai pembina upacara bendera di SMA Negeri 12 Kota Padang.

SMA Negeri 12 Kota Padang merupakan salah satu fasilitas pendidikan yang terdampak banjir pada 28 November 2025 dan kembali terendam pada 2 Januari 2026. Banjir menggenangi seluruh area sekolah seluas kurang lebih 14.000 meter persegi, merendam ruang kelas, laboratorium IPA, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang guru, hingga ruang administrasi.

Ketinggian lumpur di lingkungan sekolah mencapai sekitar 1,2 meter. Akibatnya, lebih dari 70 persen meja dan kursi mengalami kerusakan, serta sekitar 100 unit komputer terendam dan tidak dapat digunakan.

Dalam amanatnya, Atip Latipulhayat menegaskan bahwa musibah tidak boleh melemahkan semangat belajar dan mengajar meskipun di tengah keterbatasan.
“Kita menerima musibah ini dengan ikhtiar, kesabaran, dan ketabahan. Keterbatasan yang kita hadapi saat ini merupakan kondisi darurat, namun tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Justru dari keterbatasan inilah kita harus lebih kreatif dan menjadikannya sebagai tantangan untuk bangkit,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ia juga menekankan bahwa proses pembelajaran harus tetap berjalan dengan menyesuaikan kondisi lapangan tanpa mengabaikan tujuan utama pendidikan.
“Bapak dan ibu guru perlu menyesuaikan pembelajaran dengan situasi darurat ini. Namun tujuan kita tetap sama, yakni menghadirkan pendidikan yang bermutu bagi peserta didik,” tambahnya.

Usai memimpin upacara bendera, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat meninjau sejumlah ruang kelas yang terdampak banjir serta mengunjungi tenda darurat yang saat ini difungsikan sebagai ruang belajar sementara. Ia juga memasuki salah satu ruang kelas untuk berinteraksi dengan siswa, sekaligus mengikuti sesi tatap muka virtual bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang berada di SMAN 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh—sekolah lain yang juga terdampak banjir.

Atip Latipulhayat menjelaskan bahwa Kemendikdasmen telah memetakan tingkat kerusakan satuan pendidikan pascabencana ke dalam kategori rusak ringan, sedang, dan berat. Sekolah dengan kerusakan ringan telah dibersihkan agar dapat segera digunakan kembali, sementara sekolah dengan kategori rusak berat akan menjadi prioritas program revitalisasi pada tahun 2026.

“Untuk Sumatra Barat, terdapat sekitar 50 sekolah yang menjadi prioritas revitalisasi. Sementara di Provinsi Aceh dan Sumatra Utara jumlahnya mencapai sekitar seribuan sekolah. Pembelajaran di tiga provinsi terdampak ini disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tidak dipaksakan seperti situasi normal,” jelasnya.

Guru SMA Negeri 12 Padang, Rahmidayetti, menyampaikan bahwa proses pendidikan tetap berjalan meskipun dalam kondisi darurat. Saat pelaksanaan ujian semester ganjil pada 15 Desember 2025, sejumlah siswa harus mengikuti ujian di tenda darurat dan ruang kelas berlapis terpal, bahkan sebagian hanya menggunakan kursi tanpa meja.

“Kami cukup terharu melihat semangat para siswa. Mereka tetap mengikuti ujian dalam kondisi apa adanya, namun prosesnya berjalan lancar dan tertib,” tuturnya.

Sementara itu, seorang siswa kelas XII, Fajar Aulia Putra, yang juga terdampak banjir di rumahnya, mengungkapkan rasa haru pada hari pertama kembali ke sekolah.
“Senang bisa kembali berkumpul dan belajar dengan teman-teman, meskipun sedih karena kondisi sekolah belum seperti dulu. Harapan kami, SMA Negeri 12 Padang bisa kembali bersih dan nyaman seperti semula,” ujarnya.

Fajar menambahkan, saat ini sekolah masih membutuhkan berbagai peralatan kebersihan agar proses pemulihan lingkungan belajar dapat berlangsung lebih cepat.

Kunjungan Wamendikdasmen Atip Latipulhayat ke SMA Negeri 12 Padang menjadi penanda dimulainya kembali kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah terdampak bencana, khususnya di tiga provinsi yang mengalami kerusakan akibat banjir. Kehadiran pemerintah di lokasi terdampak sekaligus memastikan kesiapan satuan pendidikan dalam mengawali semester baru.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus berkomitmen mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua melalui penguatan akses, keberlanjutan, dan pemerataan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik, termasuk mereka yang belajar di wilayah terdampak bencana.(GAA)