Home - Ekonomi & Bisnis - Saham Dividen Tinggi Kurang Dilirik di 2025, Ini Penyebab dan Prospeknya ke Depan

Saham Dividen Tinggi Kurang Dilirik di 2025, Ini Penyebab dan Prospeknya ke Depan

Kinerja IDX High Dividend 20 melemah sepanjang 2025 karena kalah bersaing dengan instrumen pendapatan tetap berisiko rendah. Simak penyebab, sentimen dividen, dan prospek saham dividen tinggi menuju 2026.

Rabu, 7 Januari 2026 - 17:56 WIB
Saham Dividen Tinggi Kurang Dilirik di 2025, Ini Penyebab dan Prospeknya ke Depan
Grafik kinerja IDX High Dividend (Dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM – Kinerja indeks IDX High Dividend 20 tercatat melemah sepanjang 2025. Kondisi ini dinilai terjadi karena daya tarik imbal hasil dividen saham kalah bersaing dengan instrumen pendapatan tetap berisiko rendah, seperti SRBI, yang menawarkan yield di atas 7 persen.

Sepanjang tahun lalu, indeks saham berdividen tinggi ini bergerak di zona koreksi dan belum mampu kembali ke level awal tahun 2025 di 516,18.

Meski demikian, sempat terjadi penguatan pada beberapa periode, terutama pada Mei dan Oktober 2025, yang dipicu oleh sentimen pembagian dividen dari sejumlah emiten besar.

Di antaranya adalah TLKM yang membagikan dividen tahun buku 2024 sebesar Rp21,04 triliun dan UNTR sebesar Rp7,8 triliun pada Mei–Juli 2025. Sementara pada Oktober, UNTR kembali menyalurkan dividen interim Rp2,05 triliun, disusul ASII dengan dividen interim Rp3,96 triliun.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai lemahnya kinerja IDX High Dividend 20 terutama dipicu oleh pergeseran likuiditas investor ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil menarik.

Ia mencatat koreksi indeks sekitar 1,22 persen dalam setahun terakhir terjadi karena kompetisi ketat dengan SRBI yang memberikan yield tinggi dan stabil.

Padahal, berdasarkan data pasar, beberapa saham dalam indeks tersebut sejatinya menawarkan dividend yield di atas 5 persen, bahkan BMRI mencatatkan yield hingga 10,06 persen dari dividen tahun buku 2024. Namun, sejumlah saham unggulan lain justru memberikan imbal hasil di bawah ekspektasi investor.

Abida menambahkan, investor pada 2025 cenderung menghindari potensi dividend trap, sehingga kenaikan harga saham berdividen tinggi hanya bersifat sementara di sekitar periode pembagian dividen. Fenomena ini dinilai sebagai fase re-rating valuasi yang wajar, seiring pasar menunggu kepastian pemulihan kinerja laba emiten.

Memasuki 2026, prospek IDX High Dividend 20 dinilai lebih cerah. Abida memperkirakan momentum Tahun Kuda Api 2026 dapat menjadi titik balik penguatan indeks, didukung oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global dan domestik yang berpotensi menurunkan biaya modal serta meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Sejalan dengan proyeksi IHSG yang berpeluang menembus level 10.000, pemulihan pertumbuhan laba korporasi di kisaran 5–11 persen pada 2025–2026 diyakini akan menjadi fondasi kuat bagi kenaikan saham dividen tinggi dalam jangka menengah.(Yesaya Christofer/CEO Yes Invest)