Sabtu Berdarah di Gaza: Serangan Israel sejak Pagi Tewaskan 30 Warga Sipil
Serangan Israel yang terjadi sejak Sabtu pagi waktu Gaza menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, menjelang rencana pembukaan penyeberangan Rafah.

HALLONEWS.COM – Sedikitnya 30 warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan udara Israel yang terjadi sejak Sabtu (31/1/2026) pagi waktu Gaza, menurut keterangan pejabat rumah sakit yang menerima jenazah para korban.
Petugas medis menyatakan korban jiwa termasuk dua perempuan dan enam anak dari dua keluarga berbeda. Insiden ini menjadi salah satu hari paling mematikan di Jalur Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober lalu.
Serangan pertama terjadi pada Sabtu pagi waktu setempat di Kota Gaza. Rumah Sakit Shifa melaporkan satu serangan menewaskan seorang ibu, tiga anaknya, serta seorang kerabat dekat. Beberapa korban lainnya dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi luka serius.
Masih pada Sabtu pagi, serangan lain menghantam kamp tenda pengungsi di Khan Younis, Gaza selatan. Rumah Sakit Nasser menyebut serangan tersebut memicu kebakaran besar, menewaskan tujuh orang, termasuk seorang ayah, tiga anaknya, dan tiga cucunya.
Direktur Rumah Sakit Shifa, Mohamed Abu Selmiya, mengatakan bahwa serangan udara lanjutan pada Sabtu menjelang siang kembali mengguncang Kota Gaza. Kali ini, sebuah kantor polisi menjadi sasaran, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai sejumlah lainnya.
Dalam pernyataan resminya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah menyerang empat komandan serta sejumlah anggota Hamas dan Jihad Islam Palestina di berbagai lokasi di Jalur Gaza. IDF menyebut serangan tersebut menargetkan fasilitas penyimpanan senjata, lokasi produksi senjata, serta dua titik peluncuran roket di Gaza bagian tengah.
Israel menuding Hamas telah melanggar perjanjian gencatan senjata pada Jumat sebelumnya, dengan klaim bahwa delapan militan keluar dari infrastruktur bawah tanah di Rafah timur. IDF kembali mengulang tuduhan bahwa Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, klaim yang selama ini dibantah pihak Hamas.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober tahun lalu, Israel dan Hamas saling menuding sebagai pihak yang melanggar kesepakatan. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 500 warga Palestina tewas akibat serangan Israel selama periode gencatan senjata tersebut.
Serangan pada Sabtu ini terjadi sehari sebelum rencana pembukaan kembali penyeberangan Rafah, perbatasan utama antara Gaza dan Mesir. Penyeberangan itu dipandang warga Palestina sebagai jalur penyelamat, terutama bagi mereka yang membutuhkan perawatan medis di luar Gaza.
Seluruh perbatasan Gaza telah ditutup sejak perang dimulai. Rafah sempat dibuka secara terbatas pada awal 2025 untuk evakuasi warga sakit dan terluka. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 20.000 warga Gaza membutuhkan perawatan medis akibat rusaknya fasilitas kesehatan.
Israel menyatakan perlintasan Rafah akan tetap dibatasi hingga Hamas mengembalikan seluruh sandera Israel. Jenazah sandera terakhir, Ran Gvili (24), ditemukan sekitar sepekan lalu.
Pejabat Israel menyebut pembukaan terbatas Rafah pada Minggu sejalan dengan rencana perdamaian 20 poin Presiden AS Donald Trump. Israel disebut tidak membatasi jumlah warga yang keluar dari Gaza, namun membatasi warga yang kembali dari Mesir maksimal 150 orang per hari.
Sementara itu, pejabat Palestina memperkirakan sekitar 100.000 warga telah mengungsi dari Gaza sejak perang berkecamuk. (ren)
