Saat Menag RI dan Paus Tunjukkan Wajah Sejati Iman dan Kemanusiaan
Pelukan dan gestur hormat Menag RI Nasaruddin Umar kepada Paus di Roma menjadi simbol kasih lintas iman dan pesan damai Indonesia bagi dunia.

HALLONEWS.COM-Di tengah dunia yang gaduh oleh perang, prasangka, dan klaim kebenaran yang saling meniadakan, sebuah gestur sunyi dari Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI), Nasaruddin Umar, menggema melampaui batas agama dan diplomasi.
Dalam peringatan 60 tahun Dokumen Konsili Vatikan II Nostra Aetate di Roma, 28 Oktober 2025 lalu, Menag RI mencium tangan dan kepala Paus Leo XIV, sebuah tindakan yang sederhana, tapi sarat makna spiritual. Momen itu terjadi sebelum ia menyalakan Lilin Perdamaian, simbol dialog lintas iman yang menjadi roh acara tersebut.
Gestur itu, di mata banyak orang, bukan sekadar etika sopan santun. Ia adalah bahasa iman yang paling jujur.
Bahasa Sunyi dari Dua Pemimpin Iman
Acara yang diselenggarakan oleh komunitas awam Sant’Egidio ini menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama dunia. Namun perhatian justru tertuju pada momen kecil itu, saat seorang menteri Muslim dari negeri mayoritas Islam menundukkan kepala di hadapan Paus dengan penuh kelembutan.
“Di saat agama sering dipakai untuk mengeras dan memecah, Menag RI justru menghadirkan wajah iman yang lembut dan rendah hati,” ujar Dar Edi Yoga, aktivis Gereja Katolik dan pemerhati dialog lintas iman, kepada Hallonews, di Jakarta, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya, mencium kepala berarti menghormati kebijaksanaan, sementara mencium tangan adalah pengakuan atas pelayanan. “Itu bukan soal siapa lebih tinggi, tapi siapa lebih tulus melayani perdamaian. Di situlah iman menemukan wajah sejatinya,” tambahnya.
Lilin Kecil, Doa yang Tak Pernah Padam
Ketika Nasaruddin menyalakan Lilin Perdamaian, ruang acara hening. Cahaya kecil itu bergetar ditiup angin sore Roma, namun tak padam.
Bagi sebagian orang, itu hanya simbol. Namun bagi banyak hati yang hadir, api itu adalah doa yang hidup, doa yang melawan gelapnya kebencian dan kekerasan.
“Api kecil itu adalah doa,” lanjut Dar Edi Yoga. “Dunia hari ini tidak kekurangan khotbah, tapi kekurangan teladan. Dan momen itu adalah teladan.”
Bagi Nasaruddin Umar, langkahnya di Vatikan bukan sekadar menghadiri peringatan. Ia membawa jiwa Indonesia, negeri yang sejak lama belajar berdamai dalam keberagaman, negeri yang tahu bahwa doa bisa diucapkan dengan berbagai nama Tuhan, namun dengan hati yang sama: damai.
Suara Lintas Iman dari Tanah Air
Gestur Menag RI itu mendapat sambutan hangat dari tokoh lintas agama di Indonesia. Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Jacky Manuputty, menilai momen tersebut sebagai cerminan spiritualitas Nusantara.
“Ketika seorang menteri Muslim mencium tangan Paus, itu bukan seremonial. Itu adalah teologi kasih yang hidup dalam budaya kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, diplomasi iman seperti itu jauh lebih kuat dari diplomasi politik. “Gestur sederhana itu menjadi kesaksian bahwa dialog antariman bukan sekadar wacana, melainkan panggilan moral.”
Dari kalangan Islam, Katib Syuriah PBNU KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) menyebut momen itu sebagai refleksi Islam yang sejati.
“Dalam Islam, menghormati orang bijak siapa pun dia adalah bagian dari adab ilmu dan iman. Menag RI sedang menunjukkan wajah Islam yang santun, terbuka, dan berani menyalakan cahaya di tengah kegelapan dunia,” ujarnya.
Pesan Damai dari Roma untuk Dunia
Momen antara Menag RI dan Paus di Roma kini menjadi simbol bahwa iman dan kemanusiaan bisa bersatu tanpa saling meniadakan. Dalam dunia yang masih dilanda perang dan polarisasi, dua pemimpin ini menghadirkan pelajaran sederhana: Tuhan tidak butuh dibela dengan amarah, tetapi dihadirkan lewat kasih.
“Lilin kecil di Roma itu mengingatkan dunia: cahaya Tuhan selalu cukup, asal manusia mau merendahkan hati untuk menjaganya,” ujar Dar Edi Yoga menutup perbincangan.
Gestur di Roma itu mungkin singkat, tetapi pesannya panjang, melintasi batas, menyentuh nurani, dan menyalakan harapan bahwa iman sejati selalu berujung pada cinta dan perdamaian. (ren)
