Rusia Ultimatum Ukraina! Tolak Gencatan Senjata, Desak Perdamaian Permanen
Rusia kembali mengirim sinyal keras ke Kyiv. Kremlin menegaskan bahwa mereka tidak tertarik pada gencatan senjata sementara, tetapi hanya akan menerima kesepakatan perdamaian permanen dan mengikat secara hukum. Sikap tegas ini muncul di tengah krisis energi Ukraina yang makin memburuk serta tudingan pelanggaran gencatan senjata sebelumnya.

HALLONEWS.COM-Rusia kembali menegaskan garis kerasnya dalam konflik berkepanjangan dengan Ukraina. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Moskow tidak akan menerima gencatan senjata terbatas, sekalipun terkait serangan ke sektor energi yang kini menjadi isu sensitif di Ukraina. Rusia, kata Peskov, hanya menginginkan satu hal yaitu perdamaian permanen yang disepakati melalui dokumen hukum yang mengikat.
Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, melontarkan usulan moratorium terhadap serangan yang menyasar infrastruktur energi. Ukraina saat ini mengalami pemadaman listrik yang semakin parah akibat gelombang serangan beberapa pekan terakhir. Zelenskyy menyebut langkah itu “penting bagi rakyat” dan menunjukkan kesiapan Kyiv membuka ruang negosiasi.
Namun, Moskow tidak ingin mengulang “perjanjian rapuh” yang sebelumnya gagal. “Kami Mau Perdamaian, Bukan Jeda Perang,” tegas Kremlin.
Berbicara kepada wartawan, Peskov dengan lugas menolak ide jeda sementara.
“Kami sedang berupaya mencapai perdamaian, bukan gencatan senjata. Perdamaian yang stabil, terjamin, dan jangka panjang melalui penandatanganan dokumen yang sesuai adalah prioritas utama,” tegasnya seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (10/12/2025).
Peskov sekaligus memberi sinyal bahwa Rusia tidak lagi percaya pada jeda pendek yang bisa dimanfaatkan Ukraina untuk konsolidasi militer.
Gencatan Senjata Energi Sebelumnya Gagal Total
Pada Maret lalu, Rusia dan Ukraina pernah menyepakati gencatan senjata 30 hari yang difasilitasi melalui percakapan telepon antara Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan itu dianggap sebagai terobosan diplomatik besar.
Namun, Moskow menuduh Ukraina terus melanggar kesepakatan, terutama dengan menyerang kilang minyak dan fasilitas energi di wilayah Rusia. Kremlin mengklaim menahan diri sebagai isyarat niat baik terhadap AS.
Kegagalan tersebut menjadi dasar mengapa Rusia kini menolak keras jeda serangan yang diajukan Kyiv. Serangan Rusia yang intens dalam beberapa pekan terakhir menghantam infrastruktur energi dan fasilitas militer.
Kondisi jaringan listrik Ukraina kini memasuki tahap kritis, memaksa pemerintah menerapkan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah. Krisis energi ini memperburuk tekanan terhadap pemerintahan Zelensky, terutama ketika musim dingin semakin dekat dan kebutuhan listrik meningkat drastis.
Peskov dan pejabat Rusia lainnya menegaskan bahwa Moskow hanya membalas apa yang mereka sebut sebagai aksi teroris Ukraina di jauh dalam wilayah Rusia. Serangan tersebut, menurut Rusia, menyasar infrastruktur vital dan kawasan pemukiman.
Rusia menolak tudingan menyerang warga sipil dan bersikeras bahwa semua target adalah fasilitas yang terkait dengan operasi militer.
Sementara Zelenskyy mendorong moratorium demi stabilitas energi, Rusia melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menekan Kiev agar kembali ke meja perundingan dengan syarat Moskow.
Pertanyaannya, apakah kedua pihak benar-benar mendekati kesepakatan damai, atau ini sekadar babak baru perang diplomasi?
Dengan kedua negara terus bertukar serangan dan kondisi energi Ukraina yang makin memburuk, tekanan internasional untuk solusi permanen semakin besar. Namun bagi Rusia, satu hal sudah jelas: tidak ada lagi gencatan senjata sementara, hanya kesepakatan damai permanen yang sah secara hukum. (ren)
