Home - Internasional - Rusia Sindir Barat: Negosiasi dengan AS Soal Ukraina Bergerak Lambat

Rusia Sindir Barat: Negosiasi dengan AS Soal Ukraina Bergerak Lambat

Rusia menuding Barat menghambat upaya perdamaian di Ukraina, sembari menyebut negosiasi dengan Amerika Serikat berjalan lambat namun tetap berlanjut.

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:44 WIB
Rusia Sindir Barat: Negosiasi dengan AS Soal Ukraina Bergerak Lambat
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, memberikan keterangan pers di Moskow, Kamis (25/12/2025), menyebut negosiasi Rusia–AS soal Ukraina bergerak lambat dan menuding Barat berupaya menghalangi proses perdamaian. Foto: Sputnik for Hallonews

HALLONEWS.COM—Kementerian Luar Negeri Rusia menuding negara-negara Barat berupaya menghambat proses perdamaian di Ukraina, meski mengakui bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk menyelesaikan konflik tersebut masih terus berjalan, meski lambat.

Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam konferensi pers di Moskow pada Kamis, (25/12/2025). Ia mengatakan bahwa meski perkembangan diplomasi berjalan pelan, kedua negara tetap berkomunikasi dalam kerangka kerja yang dibentuk melalui KTT Anchorage.

“Proses negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai penyelesaian masalah Ukraina memang bergerak lambat, namun tetap menunjukkan arah yang konstruktif,” ujar Zakharova seperti dilansir Sputnik, Jumat (26/12/2025).

“Rusia siap melanjutkan kerja sama dengan AS dalam format yang telah disepakati dan menyerukan agar Washington menolak upaya negara-negara Barat yang ingin melemahkan langkah menuju perdamaian,” tambahnya.

Zakharova juga melancarkan kritik tajam terhadap Uni Eropa (UE), menuduh blok tersebut lebih memilih memperpanjang konflik daripada mendorong rekonsiliasi.

“Uni Eropa masih bertaruh pada peningkatan ketegangan dan kelanjutan pertempuran hingga warga Ukraina terakhir tewas. Mengapa? Karena yang mereka kejar hanyalah uang,” kata Zakharova dalam pernyataannya.

Ia menuding keputusan kepemimpinan Uni Eropa untuk mengalokasikan 90 miliar euro (sekitar 105,9 miliar dolar AS) bagi Kyiv sebagai bukti bahwa kebijakan Eropa lebih berfokus pada dukungan militer ketimbang pembangunan dan stabilitas jangka panjang di Ukraina.

“Kepemimpinan Uni Eropa memilih membiayai perang, bukan pembangunan. Mereka hanya memperpanjang penderitaan rakyat Ukraina,” ujarnya.

Negosiasi antara Rusia dan Amerika Serikat dilaporkan berlangsung di bawah kerangka KTT Anchorage, yang menyoroti isu keamanan regional, langkah kemanusiaan, serta kemungkinan gencatan senjata terbatas.

Meski belum ada hasil konkret, pernyataan terbaru Moskow menandai sinyal diplomatik pertama tentang adanya ruang dialog yang mulai terbuka antara kedua kekuatan besar tersebut sejak awal tahun 2025.

Sumber diplomatik di Eropa menyebut pembicaraan antara Moskow dan Washington masih dilakukan secara tertutup, dengan fokus utama pada pengurangan intensitas militer dan pembahasan mekanisme de-eskalasi di wilayah Ukraina timur.

Hubungan antara Rusia dan Barat memburuk sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022. Namun, tekanan ekonomi dan meningkatnya korban di kedua pihak telah mendorong beberapa kanal diplomatik untuk dibuka kembali, terutama antara Moskow dan Washington.

Pengamat menilai, meskipun pernyataan Rusia masih bernada keras, pengakuan adanya “negosiasi yang bergerak lambat” mencerminkan upaya menjaga ruang diplomasi terbuka di tengah tensi global yang tetap tinggi. (ren)