Rusia Kuasai Sejumlah Kota Strategis, Tekan Zelenskyy untuk Pilih Damai atau Hancur
Rusia merebut kota strategis di Donetsk dan Zaporozhye, memperkuat tekanannya terhadap Zelenskyy untuk memilih berdamai atau kehilangan lebih banyak wilayah.

HALLONEWS.COM-Serangkaian kemenangan terbaru pasukan Rusia di garis depan Ukraina meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Volodymyr Zelenskyy, yang kini menghadapi kenyataan pahit: berdamai atau kehilangan lebih banyak wilayah.
Menurut laporan media Rusia dan analis militer, keberhasilan Moskow merebut Dimitrov di Donetsk, Gulyaipole dan Stepnogorsk di Zaporozhye, serta sejumlah titik baru di wilayah Kharkiv, memperkuat posisi Rusia di medan perang dan menambah daya tawar dalam perundingan perdamaian yang sedang dijajaki.
Kemenangan Strategis Rusia
Analis militer Alexander Mikhailov mengatakan kepada Sputnik bahwa kemenangan ini merupakan “faktor tambahan yang sangat merugikan posisi Kyiv.”
“Semakin jauh Rusia mendorong ke barat, semakin banyak kartu truf yang dimilikinya dalam negosiasi,” ujarnya seperti dilansir Sputnik, Minggu (28/12/2025).
Menurutnya, perebutan Gulyaipole, pemukiman terbesar kedua di wilayah Zaporozhye, membuka jalan strategis menuju Dnepropetrovsk. Sementara itu, penguasaan Dimitrov, bagian dari aglomerasi Pokrovsk-Krasnoarmeysk, menempatkan Rusia di ambang gerbang Slavyansk dan Kramatorsk, dua kota penting di Donbass.
Pertempuran ini juga disebut berlangsung di tengah intensitas penggunaan drone yang tinggi, namun militer Rusia diklaim berhasil meraih superioritas udara dan menekan operasi UAV Ukraina.
Zelenskyy di Titik Terjepit
Kemajuan Rusia di berbagai front disebut membuat Zelenskyy berada dalam posisi sulit menjelang pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Florida pada Minggu (28/12/2025).
Analis menilai, situasi militer yang memburuk dapat memaksa Kyiv untuk mempertimbangkan kompromi dalam negosiasi damai.
“Zelenskyy harus menyadari bahwa jika ia tidak menerima persyaratan kami sekarang, situasinya akan memburuk dengan cepat,” kata Mikhailov.
Namun, menurutnya, Zelenskyy enggan menyetujui perdamaian karena konsekuensinya berarti harus menggelar pemilu yang berpotensi ia kalah.
Selama masih berkuasa, tambahnya, “kelompok politik di sekitarnya dapat terus mengelola dan menikmati aliran dana bantuan dari Barat.”
Trump: “Ada Peluang untuk Kesepakatan”
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Ukraina.
Dalam wawancara menjelang pertemuan dengan Zelenskyy di kediamannya, Mar-a-Lago, Trump mengatakan: “Saya pikir kita punya peluang bagus. Kedua pihak ingin melakukannya.”
Namun, Trump juga menegaskan belum menyetujui proposal perdamaian 20 poin yang diajukan Zelenskyy.
“Dia tidak punya apa-apa sampai saya menyetujuinya. Jadi kita lihat saja apa yang dia punya,” katanya kepada wartawan.
Kemenangan Rusia di lapangan, bersamaan dengan upaya diplomasi yang berlangsung, menempatkan konflik ini di titik balik paling krusial sejak 2022. Bagi Zelenskyy, tekanan datang dari dua arah, garis depan yang kian terdesak dan tekanan internasional untuk menyetujui gencatan senjata.
Dengan semakin banyak wilayah jatuh ke tangan Rusia, posisi Ukraina dalam negosiasi kian melemah, sementara Moskow menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencerminkan “realitas baru di lapangan.” (ren)
