Home - Ekonomi & Bisnis - Rupiah Masih Melemah, Pencalonan Thomas Djiwandono Jadi Salah Satu Faktornya

Rupiah Masih Melemah, Pencalonan Thomas Djiwandono Jadi Salah Satu Faktornya

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kabar pencalonan keponakan Presiden Prabowo Subianto menjadi Deputi Gubernur BI.

Kamis, 22 Januari 2026 - 9:00 WIB
Rupiah Masih Melemah, Pencalonan Thomas Djiwandono Jadi Salah Satu Faktornya
Hallonews Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada pada level melemah

HALLONEWS.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada pada level suram. Bank Indonesia melaporkan kurs jual USD terhadap rupiah berada sekitar Rp 17.065,90, sementara kurs beli tercatat Rp 16.896,10 per dolar AS. Level ini menunjukkan bahwa rupiah masih berada di kisaran atas Rp 16.800 hingga Rp 17.000 per dolar AS.

Pergerakan rupiah ini konsisten dengan tren yang tercatat di pasar spot, di mana nilai tukar USD/IDR berkisar di sekitar Rp 16.900 hingga Rp 16.970 pada perdagangan terakhir-hari sebelumnya. Data ini juga menunjukkan bahwa rupiah masih cenderung melemah dibandingkan beberapa pekan lalu.

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik dan sentimen terhadap otoritas moneter. Dalam beberapa hari terakhir, rupiah telah mendekati level terendah sepanjang Sejarah, dipicu oleh kekhawatiran pasar atas independensi Bank Indonesia dan keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik.

Bank Indonesia pada Rabu (21/1/2026) memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan, dengan tujuan menjaga stabilitas ekonomi dan meredam gejolak pasar valas. Kebijakan ini diambil di tengah tekanan rupiah yang belum menunjukkan tanda-tanda penguatan signifikan.

Bank Indonesia (BI) juga membeberkan sederet faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah melemah mendekati Rp 17.000 per dollar AS pada pekan ini. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah pada awal tahun ini disebabkan oleh faktor global dan domestik.

Di sisi eksternal, kondisi geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), tingginya imbal hasil US Treasury tenor 2 dan 3 tahun, dan rendahnya kemungkinan penurunan suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate) turut menyebabkan rupiah terdepresiasi di awal tahun ini.

Aliran modal asing yang keluar dari pasar negera berkembang ke negara maju turut menambah tekanan pada rupiah. Perry mengungkapkan, meningkatnya ketidakpastian keuangan global mendorong aliran keluar modal asing pada investasi portofolio yang hingga 19 Januari 2026 mencatat net outflows sebesar 1,6 miliar dollar AS.

Faktor domestik juga turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Pertama, aliran modal asing keluar akibat kebutuhan valuta asing yang sangat besar oleh berbagai korporasi. Salah satunya PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Faktor penghambat kedua ialah timbulnya sentimen negatif pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia dan pencalonan keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono, menjadi Deputi Gubernur BI.

“Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur,”
ujar Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers RDG BI, Rabu (21/1/2026).

Terkait pencalonan Thomas, Perry memastikan hal itu tidak akan mengganggu independensi BI sebagai bank sentral. “Proses pengambilan keputusan kebijakan di Bank Indonesia tetap kami pastikan dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat,” katanya. (gaa)