Rob Jetten Ingatkan Ambisi Trump di Greenland Jadi Alarm bagi Eropa: Jangan Terlalu Bergantung pada AS
Rob Jetten menilai ambisi Trump atas Greenland sebagai alarm bagi Eropa untuk memperkuat kerja sama internal dan tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat.

HALLONEWS.COM-Pemimpin partai sentris Belanda D66, Rob Jetten, menilai kekhawatiran atas ambisi teritorial Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Greenland sebagai “peringatan serius” bagi Eropa agar memperkuat kerja sama internalnya sendiri.
Politisi berusia 38 tahun yang digadang-gadang menjadi perdana menteri Belanda berikutnya itu menegaskan bahwa Eropa tidak bisa terus bergantung pada Amerika Serikat semata untuk menjamin keamanan dan kemakmuran kawasan.
“Kita bisa terus berbicara dan mengeluh tentang Amerika Serikat, tetapi yang seharusnya kita lakukan adalah memastikan kerja sama Eropa diperkuat, sehingga kita dapat menjamin keamanan dan kemakmuran bagi warga kita sendiri,” kata Jetten seperti dikutip Euronews, Jumat (30/1/2026) waktu setempat.
Meski mendorong penguatan Uni Eropa, Jetten menegaskan bahwa Belanda tetap akan menjaga hubungan erat dengan Washington, terutama dalam isu keamanan dan ekonomi.
“Kerja sama dengan Amerika Serikat tetap penting, khususnya terkait keamanan, perang di Ukraina, dan hubungan ekonomi, karena ekonomi Belanda dan Amerika sangat saling terkait,” ujarnya.
Trump sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa AS “membutuhkan” Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang juga anggota NATO, dengan alasan menghadapi ancaman Rusia dan China. Pekan lalu, Trump bahkan sempat mengancam tarif terhadap delapan negara Eropa, termasuk Belanda, sebelum akhirnya membatalkannya, sebagai bagian dari tekanan politik terkait isu Greenland.
Pernyataan Jetten disampaikan setelah ia bersama dua pemimpin partai koalisi mempresentasikan cetak biru kebijakan pemerintahan baru dalam dokumen berjudul “Mulai Bekerja”. Dokumen itu menegaskan bahwa perang di Ukraina adalah persoalan keamanan seluruh Eropa.
“Oleh karena itu, kami akan melanjutkan dukungan finansial dan militer selama bertahun-tahun, serta terus memperjuangkan penggunaan aset Rusia yang dibekukan,” bunyi manifesto tersebut.
Koalisi minoritas ini hanya menguasai 66 dari 150 kursi di majelis rendah parlemen Belanda, sehingga setiap rancangan undang-undang membutuhkan dukungan lintas partai di parlemen yang terfragmentasi dengan 16 partai dan blok politik.
“Tugas ke depan sangat besar, tetapi Belanda menjadi negara besar justru melalui kolaborasi. Sejarah kita menunjukkan bahwa kemajuan diciptakan bersama, bukan sendirian,” kata Jetten.
Koalisi yang dipimpin Jetten terdiri dari D66, Partai Demokrat Kristen (CDA), dan Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD). Jika dilantik oleh Raja Willem-Alexander pada akhir Februari, Jetten akan menjadi perdana menteri termuda sekaligus yang pertama secara terbuka mengakui orientasi seksualnya sebagai gay di Belanda.
Pemimpin oposisi dari aliansi Buruh–Hijau Kiri, Jesse Klaver, menyebut koalisi minoritas ini sebagai “eksperimen berisiko”, namun menyatakan siap menjalankan “oposisi yang bertanggung jawab”.
Di sisi lain, Partai Kebebasan sayap kanan yang dipimpin Geert Wilders menolak mendukung pemerintahan baru. Wilders sendiri baru-baru ini menghadapi perpecahan internal setelah tujuh anggota parlemen terpilihnya keluar dan membentuk blok baru. (ren)
