Putin Ultimatum Ukraina: Mundur dari Donbas atau Rusia akan Rebut secara Paksa
Vladimir Putin mengultimatum Ukraina untuk mundur dari wilayah Donbas atau Rusia akan merebutnya dengan menggunakan kekuatan militer.

HALLONEWS.COM-Presiden Rusia Vladimir Putin kembali melontarkan peringatan keras kepada Ukraina. Ia menegaskan bahwa pasukan Ukraina harus mundur dari wilayah Donbas di timur Ukraina, atau Rusia akan merebutnya dengan kekuatan militer.
“Entah kita membebaskan wilayah-wilayah ini dengan paksa, atau pasukan Ukraina akan meninggalkan wilayah-wilayah ini,” ujar Putin dalam wawancara eksklusif dengan India Today, jelang kunjungan kenegaraan ke New Delhi. Moskow saat ini diklaim telah menguasai sekitar 85 persen wilayah Donbas.
Pernyataan itu menegaskan kembali posisi tegas Kremlin yang menolak kompromi apa pun terkait penyelesaian perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung sejak Februari 2022.
Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerahkan wilayah apa pun kepada Rusia.
Komentar Putin muncul tak lama setelah mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa utusan khususnya tengah mengupayakan rencana perdamaian baru antara Moskow dan Kyiv.
Trump menyebut pembicaraan yang digelar di Kremlin pada Selasa (2/12/2025) sebagai “cukup baik”, meski belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Utusan Trump, Steve Witkoff, didampingi Jared Kushner, menantu Trump, mempresentasikan versi modifikasi dari rencana perdamaian AS di Moskow. Literasi awal dari rencana tersebut dikritik karena dianggap terlalu menguntungkan Rusia, terutama terkait usulan penyerahan sebagian wilayah Donbas yang masih dikuasai Ukraina.
Putin mengakui bahwa ia belum melihat versi baru rencana perdamaian tersebut sebelum bertemu dengan Witkoff dan Kushner.
“Itulah sebabnya kami harus membahas setiap poin, itulah mengapa butuh waktu lama,” kata Putin, sambil menambahkan bahwa beberapa bagian dari usulan AS masih ditolak Moskow.
Penasihat utama Putin, Yuri Ushakov, menegaskan bahwa perundingan dengan tim AS tidak menghasilkan kompromi berarti.
Menurutnya, posisi Rusia kini lebih kuat karena “keberhasilan militer terbaru di medan perang”.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybhia menuding Putin “membuang-buang waktu dunia” dan berupaya menunda proses perdamaian sambil memperluas wilayah kekuasaan Rusia.
Zelensky menambahkan bahwa negosiasi hanya dapat berjalan jika disertai tekanan internasional terhadap Rusia. “Dunia jelas merasakan adanya peluang untuk mengakhiri perang, tetapi tekanan terhadap Moskow harus terus dilakukan,” katanya.
Media Jerman Der Spiegel melaporkan bahwa sejumlah pemimpin Eropa mengungkapkan kekhawatiran atas inisiatif perdamaian yang dimotori Amerika Serikat. Berdasarkan transkrip yang bocor, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan agar Ukraina tidak “dikhianati” dalam negosiasi.
“Ada kemungkinan AS akan mengorbankan Ukraina terkait masalah wilayah tanpa kejelasan jaminan keamanan,” kata Macron dalam laporan tersebut. Namun Istana Élysée membantah kutipan itu, menyebutnya tidak akurat.
Rusia kini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina. Dalam beberapa minggu terakhir, pasukan Rusia dilaporkan terus maju di kawasan tenggara, meski menghadapi perlawanan sengit dan mengalami banyak korban.
Gedung Putih melalui pernyataan resminya mengatakan bahwa tim diplomasi AS “bekerja tanpa lelah untuk menghentikan pembunuhan antara Rusia dan Ukraina” serta mengupayakan “rencana perdamaian yang dapat ditegakkan dan bertahan lama.” (ren)
