Putin Klaim Ukraina Mundur di Semua Front, Tuduh Kyiv Tolak Akhiri Perang
Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim pasukan Ukraina tengah mundur “ke segala arah” dan menuduh pemerintah Kyiv menolak mengakhiri konflik secara damai, di tengah memanasnya perang dan perdebatan global soal bantuan Barat kepada Ukraina.

HALLONEWS.COM– Presiden Rusia Vladimir Putin kembali melontarkan pernyataan keras terkait perang di Ukraina. Dalam acara televisi maraton yang disiarkan dari Moskow, Putin menuduh pemerintah Ukraina menolak mengakhiri konflik melalui jalur damai dan mengklaim pasukan Kyiv mengalami kemunduran di berbagai medan pertempuran.
“Ukraina menolak untuk mengakhiri konflik ini melalui cara damai,” kata Putin, seraya menyatakan bahwa Rusia selalu terbuka pada penyelesaian nonmiliter, klaim yang disampaikan meski Moskow melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022, yang oleh Kremlin disebut sebagai “operasi militer khusus”.
Putin bahkan menyebut pemerintah di Kyiv sebagai pihak yang “memulai perang di Ukraina timur” pada 2022, serta menuding Ukraina tidak membiarkan masyarakat di wilayah tersebut “memilih jalan hidup mereka sendiri”.
Klaim Militer dan Sinyal Teritorial
Dalam pidatonya, Putin menyatakan bahwa “musuh sedang mundur” dan bahwa “inisiatif strategis” kini berpihak pada Rusia, termasuk setelah pasukannya mendorong tentara Ukraina keluar dari sebagian wilayah Kursk, Rusia.
Pesan politik Kremlin juga terlihat dari latar visual pidato Putin. Di belakangnya terpampang peta Rusia yang mencakup Krimea serta empat wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia pada 2022, Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson, meski Moskow belum sepenuhnya menguasai wilayah-wilayah tersebut.
Penempatan peta tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa Rusia tidak berniat melepaskan klaim teritorialnya, sebuah isu krusial yang terus menjadi ganjalan utama dalam setiap pembicaraan damai.
Pertukaran Jenazah Tentara
Dalam pernyataan terpisah, Rusia mengumumkan telah menyerahkan 1.000 jenazah tentara Ukraina kepada Kyiv dan menerima 26 jenazah tentara Rusia sebagai bagian dari kesepakatan kemanusiaan yang ditandatangani di Istanbul.
Kesepakatan yang dimediasi Turki sejak 2022 itu mengatur pertukaran tahanan dan jenazah, meski pelaksanaannya kerap terhambat oleh eskalasi di garis depan.
Kecaman terhadap Uni Eropa dan Aset Rusia
Putin juga melontarkan kritik tajam terhadap Uni Eropa terkait rencana penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk mendanai Ukraina. Ia menyebut langkah tersebut sebagai “pencurian yang dilakukan secara terang-terangan” dan memperingatkan adanya “konsekuensi serius”.
“Cepat atau lambat, mereka harus mengembalikan apa yang dicuri,” kata Putin, seraya menegaskan Rusia akan membela kepentingannya di pengadilan internasional yang dianggap independen dari tekanan politik.
Pernyataan itu muncul setelah Uni Eropa menyepakati pinjaman tanpa bunga €90 miliar untuk Ukraina, alih-alih langsung menyita aset Rusia senilai hampir €200 miliar yang dibekukan di Eropa, sebagian besar di Belgia.
Perang Berlanjut, Diplomasi Tetap Buntu
Putin menyatakan keyakinannya bahwa Rusia akan mencatat “keberhasilan militer baru” hingga akhir tahun dan mengklaim pasukannya terus bergerak ke arah barat di Ukraina. Klaim ini disampaikan di tengah upaya kedua belah pihak memperkuat posisi menjelang kemungkinan negosiasi, yang juga dipengaruhi dinamika politik internasional.
Sementara Putin berpidato di Moskow, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melakukan kunjungan ke Polandia, mempertegas bahwa jalur diplomasi dan militer masih berjalan paralel tanpa titik temu yang jelas. (ren)
