Home - Ekonomi & Bisnis - Proyek Hilirisasi Batubara untuk Produksi DME Segera Groundbreaking: Alternatif Pengganti LPG Impor

Proyek Hilirisasi Batubara untuk Produksi DME Segera Groundbreaking: Alternatif Pengganti LPG Impor

Proyek hilirisasi batubara untuk produksi DME segera groundbreaking Februari 2026, jadi alternatif LPG impor demi ketahanan energi dan penghematan devisa.

Sabtu, 10 Januari 2026 - 15:30 WIB
Proyek Hilirisasi Batubara untuk Produksi DME Segera Groundbreaking: Alternatif Pengganti LPG Impor
Proyek Hilirisasi Batubara untuk Produksi DME (dok Yes Invest)

HALLONEWS.COM – Pemerintah Indonesia terus mempercepat program hilirisasi sumber daya alamnya dengan membangun proyek Dimethyl Ether (DME) berbasis batubara.

Proyek ini dimaksudkan untuk menggantikan LPG impor. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, proyek ini menjadi salah satu prioritas nasional, dan fasilitas utama dijadwalkan dibuka pada Februari 2026.

DME, yang dibuat dari gasifikasi batubara, memiliki karakteristik yang mirip dengan LPG, jadi dapat digunakan secara langsung untuk keperluan rumah tangga, bisnis, dan industri tanpa mengubah peralatan yang ada.

Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada LPG impor, yang saat ini mencapai jutaan ton setiap tahun dan membebani neraca perdagangan energi.

Proyek DME diharapkan meningkatkan ketahanan energi nasional dan meningkatkan nilai tambah ekonomi dengan menggunakan cadangan batubara yang melimpah di negara ini.

Di antara enam inisiatif strategis yang melibatkan investasi swasta dan badan usaha milik negara, beberapa proyek hilirisasi batubara lainnya dijadwalkan dimulai pada awal 2026.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sedang bekerja sama dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) secara intensif untuk memperbaiki detail teknis, pembiayaan, dan kolaborasi.

Teknologi yang digunakan untuk membuat batubara menjadi gas, yang kemudian diubah menjadi DME melalui proses katalitik.

Kapasitas produksi awal diproyeksikan dapat menggantikan sebagian besar volume LPG impor, menghasilkan penghematan devisa sebesar miliaran dolar per tahun.

Selain itu, melalui pemanfaatan batubara rendah kalori, yang selama ini kurang efektif, proyek ini mendukung target pengurangan emisi.

Pemerintah berkomitmen untuk meminimalkan dampak operasional dan menerapkan teknologi pengumpulan karbon.

Kesuksesan proyek bergantung pada kerja sama antara perusahaan batubara, investor, dan lembaga pembiayaan seperti Danantara, yang bertanggung jawab untuk mengelola dana kekayaan nasional untuk proyek strategis.

Fokus diskusi saat ini adalah bagaimana sumber daya didistribusikan, rencana kerja sama, dan insentif fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Oleh karena itu, DME tidak hanya berfungsi sebagai pengganti energi, tetapi juga membantu mengembangkan industri hilir batubara yang lebih berkelanjutan.

Secara keseluruhan, rencana pembukaan DME sebagai pengganti LPG pada Februari 2026, bersama dengan paket hilirisasi batubara lainnya, menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya alam melalui kerja sama dengan Danantara.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ini akan mendukung ketahanan energi dan penghematan devisa nasional.

Pengumuman proyek DME ini cenderung memberikan dorongan positif bagi sektor energi fosil dan hilirisasi di pasar saham Indonesia, di mana indeks sektoral pertambangan batubara berpotensi mengalami penguatan akibat ekspektasi peningkatan utilisasi cadangan domestik dan nilai tambah produk.

Namun, sektor distribusi gas rumah tangga mungkin menghadapi perubahan bertahap yang melibatkan risiko penyesuaian pasar. Secara keseluruhan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mungkin menanggapi sentimen pengurangan impor energi dengan optimis, mendorong investor untuk meningkatkan eksposur pada subsektor yang berhubungan dengan proyek strategis nasional.(Hendeka Putra / Research Analyst Yes Invest)