Presiden Prabowo Beri Nama “Satria” Bayi Panda Raksasa Hasil Kolaborasi Indonesia-Cina di Taman Safari Indonesia Bogor
Seekor bayi panda raksasa lahir di TSI di Cisarua, Bogor. Bayi panda raksasa ini lalu diberi nama Satrio oleh Presiden Prabowo Subianto.

HALLONEWS.COM – Seekor bayi panda raksasa lahir di Taman Safari Indonesia (TSI) di Cisarua, Bogor. Bayi panda raksasa ini lalu diberi nama Satrio oleh Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Prabowo menyematkan nama Satrio pada tanggal 4 Desember 2025. Sementara bayi panda ini lahir pada pada 27 November 2025.
Nama Satrio dengan sapaan Rio kepada bayi panda tersebut berarti ksatria atau pahlawan, mencerminkan harapan akan ketangguhan dan simbol komitmen Indonesia–China dalam melindungi spesies terancam punah.
Momen istimewa ini menjadi kebanggaan nasional sekaligus mempertegas komitmen Indonesia dalam konservasi spesies langka di tingkat global.
Berdasarkan data, saat ini, populasi panda raksasa di dunia diperkirakan hanya sekitar 1.900 individu, sehingga kelahiran ini menjadi capaian bernilai tinggi bagi upaya pelestarian.
Kelahiran bayi panda ini, merupakan hasil kolaborasi panjang Indonesia–China. Konservasi jangka panjang antara kedua negara, yang sudah berlangsung sejak 2017, ketika sepasang panda raksasa, Huchun dan Caitao, pertama kali tiba di Indonesia.
Butuh waktu selama 10 tahun dengan melibatkan pertukaran ilmu, pendampingan teknis, dan penerapan standar internasional dalam pengelolaan satwa.
TSI menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada pemerintah dan tim ilmiah China yang memberikan dukungan konsisten selama masa kehamilan hingga proses kelahiran.
Untuk saat ini, bayi panda dan induknya belum dapat diakses publik demi menjaga kesehatan dan kenyamanan mereka. TSI mengajak masyarakat mendoakan proses tumbuh kembang sang bayi panda agar tetap sehat dan aman.
Tim Life Science TSI melakukan pemantauan intensif selama 24 jam dengan sejumlah perkembangan awal yang menggembirakan.
“Vokalisasi yang sehat. Proses menyusu yang baik. Peningkatan berat badan yang konsisten. Dalam 30–60 hari ke depan, bayi panda diperkirakan mulai tumbuh bulu, membuka mata, mengembangkan kemampuan motorik awal, serta mampu mengatur suhu tubuhnya,”demikian situs TSI mengabarkan yang dikutip Selasa 9 Desember 2025.
“Ahli dari China Conservation and Research Centre for the Giant Panda (CCRCGP) juga berada di lokasi untuk memastikan kualitas penanganan sesuai standar global,” ujarnya lagi.
TSI mengabarkan, pemantauan hormon secara presisi tinggi, mengingat panda betina hanya subur 24–72 jam dalam setahun. Observasi perilaku intensif, memastikan kondisi induk tetap stabil. Penerapan standar kesejahteraan satwa internasional, yang menjadi faktor penting dalam keberhasilan reproduksi.
“Ini capaian terbaik Indonesia bergabung dengan sejumlah negara ASEAN lainnya yang telah berhasil menyambut kelahiran bayi panda, sebuah pengakuan atas kualitas pengelolaan konservasi satwa yang dilakukan TSI,” tulisnya.
Kelahiran bayi panda ini semakin menegaskan kredibilitas TSI sebagai lembaga konservasi yang berorientasi masa depan, dengan fokus pada, perlindungan satwa liar, penelitian ilmiah, edukasi lingkungan dan program pengembangbiakan terstruktur serta kemitraan internasional jangka panjang.
