Pesawat Antariksa China Berhasil Ungkap Rahasia Ketimpangan Wajah Bulan
Tabrakan raksasa di sisi jauh Bulan diduga menyebabkan hilangnya unsur penting dari mantel Bulan, menjelaskan perbedaan ekstrem antara dua sisi Bulan.

HALLONEWS.COM – Selama puluhan tahun, ilmuwan dibuat penasaran oleh satu fakta mencolok: dua sisi Bulan tampak sangat berbeda.
Di satu sisi yang menghadap Bumi dipenuhi dataran lava gelap yang relatif halus, sementara sisi jauh Bulan tampil kasar, penuh kawah, dan minim aktivitas vulkanik. Kini, teka-teki kosmik itu mulai menemukan jawabannya.
Seperti dilaporkan CGTN, Selasa (13/1/2026) penelitian terbaru berhasil mengungkap bahwa tabrakan raksasa di sisi jauh Bulan miliaran tahun lalu bukan hanya membentuk cekungan raksasa South Pole–Aitken (SPA), tetapi juga mengubah komposisi bagian dalam Bulan secara permanen.
Dampaknya bahkan menjalar hingga ke lapisan mantel, bagian terdalam yang berperan penting dalam aktivitas geologi.
Temuan ini diperoleh dari analisis sampel batuan yang dibawa misi Chang’e-6, pesawat antariksa China yang untuk pertama kalinya berhasil membawa pulang material dari sisi jauh Bulan.
Sampel tersebut memberikan petunjuk kimia yang selama ini tidak bisa diakses oleh para ilmuwan.
Para peneliti menemukan bahwa batuan vulkanik dari sisi jauh Bulan menunjukkan kehilangan unsur volatil, yakni elemen yang mudah menguap saat terkena suhu ekstrem. Unsur seperti kalium, yang biasanya bertahan di mantel planet, justru tampak berkurang signifikan.
Fenomena ini diyakini terjadi akibat panas luar biasa yang dihasilkan oleh tabrakan kosmik berskala raksasa.
Energi tumbukan tersebut cukup kuat untuk menguapkan unsur-unsur volatil dari mantel Bulan, sehingga wilayah sisi jauh kehilangan “bahan bakar” alami untuk aktivitas vulkanik jangka panjang.
Inilah yang menjelaskan mengapa sisi jauh Bulan relatif “sunyi” secara geologis dibandingkan sisi yang menghadap Bumi.
Cekungan South Pole–Aitken sendiri merupakan salah satu struktur tumbukan terbesar di Tata Surya, dengan diameter sekitar 2.500 kilometer.
Selama ini, cekungan tersebut dipelajari sebagai fenomena permukaan. Namun riset terbaru menunjukkan bahwa dampaknya jauh lebih dalam.
Tabrakan tersebut bukan hanya mengubah lanskap, tetapi juga membentuk karakter internal Bulan, menciptakan ketimpangan permanen antara dua belahan yang kita lihat hingga hari ini.
Penemuan ini memperkuat teori bahwa peristiwa tumbukan besar berperan penting dalam membentuk evolusi planet dan satelit, tak hanya di Bulan, tetapi juga di Mars dan planet berbatu lainnya.
Bab Baru Ilmu Bulan
Keberhasilan misi Chang’e-6 dinilai sebagai tonggak penting dalam eksplorasi luar angkasa. Dengan membawa pulang sampel dari wilayah yang sebelumnya tak terjangkau, para ilmuwan kini memiliki “kunci” untuk membaca sejarah awal Bulan secara lebih utuh.
Lebih jauh, temuan ini juga memberi wawasan baru tentang bagaimana planet kehilangan unsur penting akibat peristiwa ekstrem di masa awal pembentukannya.
Bagi dunia sains, sisi gelap Bulan kini tak lagi sekadar misteri visual. Ia menjadi arsip kosmik yang menyimpan cerita kerasnya masa awal Tata Surya—ketika tabrakan raksasa menentukan wajah planet hingga miliaran tahun ke depan.(kim)
