Home - Internasional - Perundingan Damai Ukraina Mandek Usai Rusia Luncurkan Serangan Udara Terbesar sejak Awal Perang

Perundingan Damai Ukraina Mandek Usai Rusia Luncurkan Serangan Udara Terbesar sejak Awal Perang

Upaya diplomasi Ukraina dan Amerika Serikat menemui jalan buntu setelah Rusia melancarkan serangan udara terbesar yang menghantam puluhan kota dan fasilitas vital Ukraina.

Minggu, 7 Desember 2025 - 10:11 WIB
Perundingan Damai Ukraina Mandek Usai Rusia Luncurkan Serangan Udara Terbesar sejak Awal Perang

HALLONEWS.COM – Upaya diplomasi antara Ukraina dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu setelah Rusia melancarkan salah satu serangan udara terbesar selama konflik berlangsung. Negosiasi yang digelar selama tiga hari di Florida berakhir tanpa hasil pada Sabtu (6/12/2025), ketika serangan masif Rusia menghantam berbagai kota dan infrastruktur penting Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut percakapan teleponnya dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner sebagai “bermakna”. Namun, baik Kyiv maupun Washington sepakat bahwa kemajuan nyata hanya mungkin terjadi jika Moskow menunjukkan kesiapan untuk berdamai secara substantif.

Kebuntuan diplomatik ini mencerminkan jarak besar antara upaya negosiasi dan situasi lapangan, di mana pasukan Rusia terus menekan Ukraina di wilayah timur.

Pejabat Ukraina melaporkan bahwa Rusia meluncurkan 653 drone dan 51 rudal dalam serangan semalam yang dimulai Jumat, menargetkan fasilitas energi dan infrastruktur vital lainnya. Setidaknya delapan orang terluka dalam serangan yang terjadi di 29 lokasi terpisah, menurut Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko.

Serangan tersebut juga memutus sementara suplai listrik ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia, memicu kekhawatiran baru terkait keamanan reaktor. Pusat nuklir itu, yang kini berada di bawah kendali Rusia, memerlukan pasokan daya konstan untuk mendinginkan enam reaktor yang sedang tidak beroperasi, menurut Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

“Fasilitas energi kembali menjadi target utama,” ujar Zelenskyy, menambahkan bahwa salah satu drone Rusia menghancurkan stasiun kereta di Fastiv, dekat Kyiv. Pasukan pertahanan udara Ukraina mengklaim berhasil menjatuhkan 585 drone dan 30 rudal seperti dilansir Sky News, Minggu (7/12/2025).

Rusia membenarkan serangan tersebut dan menyatakan bahwa target mereka adalah fasilitas industri militer serta infrastruktur energi yang mendukungnya.

Di medan perang, kondisi semakin berpihak kepada Rusia. Pasukan Moskow mendekati Pokrovsk, pusat logistik utama di wilayah Donetsk, dan hampir mengepung kota Myrnohrad di dekatnya. Pada November, Rusia disebut merebut sekitar 505 km persegi wilayah Ukraina, hampir dua kali lipat dari capaian bulan sebelumnya. Kini, Rusia menguasai hampir seluruh wilayah Luhansk dan sebagian besar garis pesisir hingga Kherson.

Dalam upaya melanjutkan diplomasi, Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan bertemu Zelenskyy bersama PM Inggris Keir Starmer dan Kanselir Jerman Friedrich Merz di London untuk mengevaluasi proses negosiasi yang dimediasi AS. Macron menegaskan bahwa Eropa harus terus memberi tekanan agar Rusia bersedia menghentikan eskalasi.

Sebelumnya, pertemuan antara Witkoff, Kushner, dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow juga gagal menghasilkan kesepakatan.

Pernyataan bersama yang dirilis Jumat (5/12/22025) menegaskan bahwa kemajuan menuju kesepakatan hanya dapat dicapai jika Rusia menunjukkan “komitmen serius terhadap perdamaian jangka panjang dan langkah menuju de-eskalasi”.

Menambah kompleksitas situasi, Wakil Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional menyatakan bahwa surat perintah penangkapan untuk Putin atas dugaan kejahatan perang tidak dapat dibatalkan oleh negosiasi damai apa pun. Penangguhan hanya dapat dilakukan sementara oleh Dewan Keamanan PBB.

Putin sendiri telah memberi sinyal bahwa ia tidak berniat mengubah tuntutan teritorialnya dan memerintahkan pasukannya untuk mempersiapkan operasi militer musim dingin yang berkelanjutan. (ren)