Perebutan Arktik Memanas: AS Tantang Eropa Soal Greenland, Pasukan Mulai Bergerak
Perebutan pengaruh di Arktik memanas setelah pernyataan Trump soal Greenland. Eropa merespons dengan pengerahan pasukan ke wilayah tersebut.

HALLONEWS.COM-Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik kian mengeras setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut kepemilikan Greenland oleh AS sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima.” Pernyataan itu menandai babak baru persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan Eropa di wilayah strategis yang kaya sumber daya dan bernilai militer tinggi.
Reaksi Eropa datang cepat. Sejumlah negara mulai memperkuat kehadiran militernya di Greenland, wilayah otonom Denmark yang kini berada di pusat tarik-menarik kepentingan global.
Media Greenland melaporkan Jerman berencana mengirimkan pasukan militernya ke Greenland paling cepat pekan ini, menyusul langkah serupa yang lebih dulu diumumkan oleh Swedia dan Norwegia. Surat kabar Bild menyebut pengerahan awal kemungkinan berupa pasukan pengintaian, mengutip sumber pemerintah dan parlemen Jerman.
Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Eropa tidak akan tinggal diam menghadapi narasi Washington yang mempertanyakan status Greenland.
Para pemimpin kelompok politik di Parlemen Eropa secara terbuka mengecam pernyataan Trump. Mereka menyebut sikap AS sebagai tantangan terang-terangan terhadap hukum internasional, prinsip Piagam PBB, serta kedaulatan dan integritas teritorial Denmark, sekutu NATO.
“Keamanan Arktik adalah prioritas strategis Uni Eropa, dan kami berkomitmen penuh untuk melindunginya,” tegas pernyataan bersama para pemimpin parlemen Eropa, sembari menyerukan dukungan konkret bagi Denmark dan Greenland, seperti dilansir Sky News, Jumat (17/1/2026).
Di tengah eskalasi tersebut, Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt dan Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen menggelar pembicaraan dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menlu AS Marco Rubio.
Motzfeldt menyebut pertemuan itu berlangsung dengan hormat, namun menegaskan adanya batasan tegas yang disampaikan kepada pihak AS. “Kami berkomitmen untuk menemukan jalan yang benar ke depan,” ujarnya.
Rasmussen menggambarkan situasi sebagai “sangat emosional”, seraya menekankan bahwa meski Denmark memandang AS sebagai sekutu terdekat, terdapat perbedaan pandangan mendasar terkait masa depan Greenland. Ia mengakui bahwa pihak Denmark dan Greenland secara langsung menantang narasi Presiden Trump dalam pertemuan tersebut.
Pernyataan Trump bahwa Greenland harus berada “di tangan Amerika Serikat” menegaskan perubahan lanskap geopolitik Arktik. Kawasan yang dulu dipandang periferal kini menjadi arena perebutan strategis karena posisinya dalam sistem pertahanan, jalur pelayaran baru, serta potensi sumber daya energi dan mineral.
Dengan pengerahan pasukan Eropa dan retorika keras dari Washington, Arktik berpotensi menjadi titik panas baru dalam persaingan AS–Eropa, meski kedua pihak masih terikat dalam aliansi NATO.
Utusan khusus AS untuk Greenland dijadwalkan menggelar konferensi pers, yang dinantikan sebagai petunjuk apakah Washington akan meredam ketegangan atau justru mengeraskan posisinya. (ren)
