Penindakan Brutal Rezim Iran: 6.126 Orang Tewas, Puluhan Ribu Ditangkap
Penindakan brutal rezim Iran terhadap protes nasional menewaskan 6.126 orang dan menahan puluhan ribu lainnya, di tengah krisis ekonomi dan meningkatnya ketegangan regional.

HALLONEWS.COM-Penindakan keras rezim Iran terhadap gelombang protes nasional telah menewaskan sedikitnya 6.126 orang, sementara lebih dari 41.800 orang ditangkap, menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, Selasa (27/1/2026).
Kelompok pemantau tersebut memperingatkan bahwa jumlah korban tewas sebenarnya kemungkinan lebih tinggi, mengingat kesulitan verifikasi di lapangan akibat pemadaman internet masif yang diberlakukan pemerintah Iran selama berpekan-pekan.
HRANA menyebutkan bahwa angka korban terbaru diperoleh melalui jaringan aktivis di dalam Iran yang memverifikasi setiap kematian secara individual. Dalam laporan itu, korban tewas mencakup 5.777 demonstran, 214 personel yang berafiliasi dengan pemerintah, 86 anak-anak, serta 49 warga sipil non-demonstran.
Penindakan ini disebut sebagai yang paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir, bahkan melampaui skala kekerasan dalam berbagai kerusuhan besar sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Laporan korban ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, menyusul tibanya kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal perusak rudal pengawalnya di Timur Tengah. Kehadiran armada tersebut memperkuat kemampuan militer Amerika Serikat untuk melakukan serangan terhadap Iran jika krisis meningkat.
Meski demikian, sejumlah negara Teluk Arab dikabarkan enggan terlibat langsung dalam potensi konflik, meskipun mereka menampung personel militer AS di wilayahnya.
Dua kelompok milisi yang didukung Iran di kawasan Timur Tengah juga telah memberi sinyal kesiapan untuk melancarkan serangan baru, menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika Teheran terus menindak demonstran damai atau melakukan eksekusi massal pasca-protes.
Ekonomi Terpuruk, Mata Uang Anjlok
Tekanan terhadap Iran juga semakin berat di sektor ekonomi. Pada Selasa (27/1/2026), nilai tukar rial Iran jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, mencapai 1,5 juta rial per dolar AS di pasar Teheran.
Kondisi ini memperparah keresahan publik, di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok yang semakin tidak terjangkau bagi masyarakat. Dalam satu dekade terakhir, nilai rial telah merosot drastis dari 32.000 per dolar AS menjadi 1,5 juta, menggerus tabungan dan daya beli rakyat.
Pemerintah Iran berupaya menekan dampak krisis dengan membatasi nilai tukar bersubsidi dan memberikan bantuan tunai sekitar 7 dolar AS per bulan kepada sebagian besar penduduk. Namun, langkah tersebut dinilai tidak cukup meredam tekanan ekonomi.
Versi Pemerintah Iran Berbeda
Pemerintah Iran mengklaim jumlah korban tewas jauh lebih rendah, yakni 3.117 orang. Dari angka tersebut, Teheran menyebut 2.427 korban sebagai warga sipil dan pasukan keamanan, sementara sisanya dikategorikan sebagai “teroris”.
Kelompok HAM menilai klaim tersebut tidak kredibel, mengingat rekam jejak rezim teokrasi Iran yang kerap meremehkan atau tidak melaporkan secara penuh korban jiwa dalam setiap gelombang kerusuhan.
Gelombang protes nasional di Iran pecah pada 28 Desember, dipicu oleh jatuhnya nilai tukar rial dan memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi dengan cepat menyebar ke berbagai kota dan wilayah, sebelum dibalas dengan penindakan keras oleh aparat keamanan.
Skala kekerasan baru mulai terungkap secara luas setelah Iran mengalami pemadaman internet paling komprehensif dalam sejarahnya, yang berlangsung lebih dari dua pekan dan menghambat arus informasi ke luar negeri.
Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Senin (26/1/2026) malam, Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyebut ancaman militer Trump sebagai “jelas dan tidak ambigu”. Ia juga menuding AS dan Israel mendukung “kelompok teroris bersenjata” yang memicu kekerasan, meski tanpa menyertakan bukti.
Sementara itu, media pemerintah Iran terus menuding kekuatan asing sebagai dalang di balik protes, di tengah ketidakmampuan rezim mengatasi krisis ekonomi yang diperparah oleh sanksi internasional, khususnya terkait program nuklir Teheran. (ren)
