Home - Internasional - Penangkapan Maduro: Blunder AS yang Menguntungkan China

Penangkapan Maduro: Blunder AS yang Menguntungkan China

Penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat menuai kecaman China. Namun di balik kemarahan terbuka, Beijing justru berpotensi meraih keuntungan geopolitik besar dari langkah Trump.

Minggu, 4 Januari 2026 - 23:24 WIB
Penangkapan Maduro: Blunder AS yang Menguntungkan China
Beberapa jam sebelum ditangkap, Presiden Venezuela Nicolás Maduro menjamu delegasi China di Caracas yang dipimpin utusan khusus Beijing untuk Amerika Latin, Qiu Xiaoqi. Foto: Facebook/Nicolas Maduro

HALLONEWS.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan ringan menyatakan bahwa tindakannya di Venezuela “tidak akan menjadi masalah” bagi hubungan Washington dengan China. Trump bahkan berujar bahwa Amerika Serikat justru akan memperoleh lebih banyak minyak sebagai dampak dari operasi tersebut.

Namun di balik klaim sederhana itu, realitas geopolitik global jauh lebih rumit, dan bagi Beijing, situasi ini justru membuka peluang strategis yang signifikan.

Secara terbuka, China menunjukkan kemarahan. Venezuela merupakan salah satu mitra penting Beijing di Amerika Latin, dan prinsip tidak campur tangan dalam urusan internal negara lain selama ini menjadi pilar utama kebijakan luar negeri China.

Kementerian Luar Negeri China dengan cepat mengecam operasi Amerika Serikat sebagai tindakan “mengejutkan” dan “pelanggaran nyata terhadap hukum internasional”.

Namun, di balik retorika keras tersebut, para analis menilai Beijing sangat mungkin telah melakukan kalkulasi dingin untuk memanfaatkan situasi ini demi kepentingannya sendiri.

Kemurkaan China diperparah oleh konteks simbolik yang menyertainya. Hanya beberapa jam sebelum ditangkap, Presiden Venezuela Nicolás Maduro tengah menjamu delegasi China di Caracas, dipimpin oleh utusan khusus Beijing untuk Amerika Latin, Qiu Xiaoqi.

Rekaman pertemuan mereka, dengan senyum dan bahasa tubuh bersahabat, kini beredar luas. Bagi China, negara yang sangat sensitif terhadap reputasi dan “kehilangan muka” di panggung internasional, momen tersebut dinilai memalukan. Namun, pengalaman panjang Beijing dalam politik global membuatnya jarang bereaksi emosional tanpa perhitungan jangka panjang.

Minyak Venezuela: Penting, Tapi Bukan Penentu

Dari sisi ekonomi, China memang merupakan pembeli minyak terbesar Venezuela. Namun kontribusi minyak Venezuela hanya sekitar 4 persen dari total impor minyak China. Beijing juga relatif terlindungi oleh cadangan besar minyak yang telah dibeli sebelumnya, sebagian sebagai antisipasi sanksi, serta pasokan yang masih dalam perjalanan.

Singkatnya, dalam relasi ini, Maduro jauh lebih membutuhkan China daripada China membutuhkan Maduro. Kondisi tersebut memberi Beijing ruang manuver yang luas tanpa harus menanggung risiko ekonomi besar.

Efek Domino Geopolitik: Taiwan Jadi Cermin

Dampak paling signifikan dari penangkapan Maduro justru bersifat geopolitik. Media sosial di China ramai dengan perbandingan antara Venezuela dan Taiwan. Banyak pengguna mempertanyakan: jika Amerika Serikat dapat secara sepihak menangkap pemimpin negara berdaulat, apa yang sebenarnya membatasi tindakan kekuatan besar di panggung internasional?

Meski demikian, preseden ini tidak serta-merta mempercepat langkah China terhadap Taiwan. Untuk saat ini, Beijing masih memilih strategi tekanan bertahap, paksaan politik dan ekonomi, serta kampanye reunifikasi tanpa perang.

Namun, tindakan AS memberi Beijing amunisi tambahan dalam perang narasi global. China kini dapat lebih leluasa mempertanyakan konsistensi Amerika Serikat dalam menegakkan hukum internasional. Jika Washington mengklaim pengecualian bagi dirinya sendiri, mungkinkah Beijing kelak menuntut perlakuan serupa sebagai “kekuatan besar”?

Blunder Strategis Washington?

Dalam tatanan dunia yang semakin multipolar, langkah Trump di Venezuela berpotensi menjadi blunder strategis. Alih-alih melemahkan rival global, tindakan tersebut justru memperkuat posisi China sebagai aktor yang mampu bersikap tenang, konsisten, dan—setidaknya di mata sebagian negara Global South—lebih dapat diprediksi.

Selama setahun terakhir, Beijing belajar bahwa menghadapi dunia versi Trump membutuhkan satu pendekatan utama: ketegasan tanpa tergesa-gesa. Dari sudut pandang China, tidak ada alasan untuk mengubah strategi itu sekarang. (ren)