Home - Ekonomi & Bisnis - Pelajaran dari Industri Otomotif untuk Masa Depan Pertambangan Indonesia

Pelajaran dari Industri Otomotif untuk Masa Depan Pertambangan Indonesia

Diskusi yang digelar KADIN Indonesia Institute pada 18 November 2025 menghadirkan Partner Deals & Automotive ASEAN Leader, PricewaterhouseCoopers, Patrick Ziechmann.

Senin, 29 Desember 2025 - 7:30 WIB
Pelajaran dari Industri Otomotif untuk Masa Depan Pertambangan Indonesia
Diskusi yang digelar KADIN Indonesia Institute pada 18 November 2025 menghadirkan Partner Deals & Automotive ASEAN Leader, PricewaterhouseCoopers, Patrick Ziechmann. Foto: KADIN Indonesia Institute

HALLONEWS.COM – Revolusi digital tidak lagi dapat dipandang sebagai isu sektoral yang hanya relevan bagi industri tertentu. Diskusi yang digelar KADIN Indonesia Institute pada 18 November 2025 mengenai percepatan digitalisasi di sektor otomotif ASEAN menghadirkan pembelajaran strategis yang jauh melampaui batas industri tersebut.

Dalam sesi tersebut, Patrick Ziechmann (Partner Deals & Automotive ASEAN Leader, PricewaterhouseCoopers) menyampaikan pemaparan komprehensif mengenai percepatan digitalisasi sektor otomotif di ASEAN, mulai dari perubahan rantai pasok, evolusi model bisnis, hingga arah investasi teknologi yang membentuk peta kompetisi regional.

Bagi sektor lain, termasuk pertambangan dan jasa tambang di Indonesia, forum ini menegaskan urgensi transformasi menyeluruh dalam cara berbisnis, berproduksi, dan berkolaborasi.

“Saya melihat benang merah yang sangat jelas. Di masa depan, rantai pasok, model bisnis, dan keunggulan kompetitif tidak lagi ditentukan semata oleh skala produksi atau kepemilikan sumber daya, melainkan oleh kesiapan pelaku usaha dalam melakukan transformasi digital yang terintegrasi dan kolaboratif,” papar Rennie Wihardani, CEO perusahaan jasa pertambangan sekaligus pengurus Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia 2024-2029.

Tantangan di industri jasa tambang bahkan jauh lebih kompleks. Tuntutan terhadap efisiensi operasional berjalan beriringan dengan kebutuhan peningkatan keselamatan kerja, transparansi tata kelola dan ESG (Environmental, Social, and Governance), serta tekanan global untuk menerapkan praktik green mining. “Seluruh tantangan ini tidak lagi dapat dijawab dengan pendekatan konvensional,” kata Rennie, Senin (29/12/2025).

Digitalisasi, mulai dari penerapan data-driven operation, predictive maintenance, otomatisasi proses, hingga integrasi sistem pelaporan ESG, bukan sekadar alat bantu operasional, melainkan fondasi utama daya saing industri tambang nasional.

Insight yang mengemuka dalam forum KADIN Indonesia Institute tersebut menegaskan beberapa prinsip kunci. Pertama, transformasi digital bukan semata soal adopsi teknologi, tetapi soal kepemimpinan dan keberanian untuk mengubah cara kerja, budaya organisasi, serta pola pengambilan keputusan.

Kedua, kolaborasi lintas negara dan lintas industri akan menjadi faktor penentu dalam memperkuat ketahanan dan daya saing industri nasional di tengah kompetisi regional ASEAN. Ketiga, Indonesia harus segera bergerak dari posisi sebagai pasar semata menuju peran sebagai pemain strategis dalam ekosistem industri regional dan global.

Bagi pelaku jasa tambang, momentum ini menjadi peluang untuk naik kelas. Peran tidak lagi terbatas sebagai operator, melainkan sebagai strategic partner bagi pemilik tambang. Posisi tidak lagi dipandang sebagai cost center, tetapi sebagai value creator yang mampu memberikan nilai tambah melalui efisiensi, inovasi, dan kepatuhan terhadap standar global.

Lebih jauh, transformasi ini membuka jalan bagi pelaku lokal untuk terintegrasi dalam rantai nilai global yang semakin menuntut transparansi, keberlanjutan, dan keandalan berbasis teknologi.

Dalam konteks ini, KADIN memiliki peran strategis sebagai jembatan antara dunia usaha, regulator, dan knowledge partner. KADIN dapat menjadi katalis untuk memastikan proses transformasi digital berjalan secara inklusif, terarah, dan berkelanjutan, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem industri yang adaptif terhadap perubahan global.

Revolusi digital tidak menunggu kesiapan siapa pun. Ia bergerak cepat, mengubah lanskap industri secara fundamental. Pertanyaannya kini sederhana, namun menentukan: apakah kita memilih memimpin perubahan, atau justru tertinggal oleh perubahan itu sendiri? (GAA)