Paus Sampaikan Kesedihan Mendalam, Rusia Tolak Seruan Damai di Hari Natal
Paus Leo XIV menyatakan kesedihan mendalam setelah Rusia menolak seruan gencatan senjata di Hari Natal. Vatikan kembali menyerukan 24 jam perdamaian dunia.

HALLONEWS.COM– Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV, menyatakan “kesedihan mendalam” setelah mendengar laporan bahwa Rusia menolak permintaan gencatan senjata selama perayaan Natal.
Dalam tradisi tahunan, Paus menyerukan agar dunia menghormati 24 jam perdamaian global sebagai simbol kelahiran Kristus.
“Sekali lagi saya menyerukan kepada semua orang yang berkehendak baik, agar setidaknya pada hari kelahiran Juru Selamat, satu hari perdamaian dapat dihormati,” kata Paus dalam pesan Natal yang disampaikan melalui Vatican News, Rabu (24/12/2025).
Pernyataan Paus muncul setelah laporan adanya serangan baru oleh Rusia semalam, yang memicu kecaman luas di tengah suasana perayaan Natal.
“Saya sangat sedih mendengar kabar bahwa Rusia tampaknya telah menolak permintaan gencatan senjata Natal,” ujarnya.
Paus Leo menambahkan, ia tetap berharap agar seruan damai dari Vatikan dapat menggugah hati para pemimpin dunia.
“Mungkin mereka akan mendengarkan kita, dan akan ada 24 jam, satu hari penuh perdamaian di seluruh dunia,” katanya dengan nada haru.
Setiap tahun, Vatikan mengeluarkan pesan perdamaian universal di malam Natal, menyerukan penghentian kekerasan dan peperangan di berbagai belahan dunia.
Pesan tersebut biasanya disampaikan dari Basilika Santo Petrus, Roma, dan menjadi simbol harapan bagi umat Kristiani di seluruh dunia.
Namun tahun ini, seruan itu terasa lebih memilukan karena diwarnai eskalasi konflik di Ukraina, serta meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Barat.
Menurut para pengamat Vatikan, seruan Paus Leo kali ini menegaskan kembali peran moral Gereja Katolik sebagai penjaga nurani kemanusiaan di tengah dunia yang terbelah oleh perang.
Pesannya menjadi pengingat bahwa perdamaian sejati dimulai dari empati, bukan senjata. “Paus menginginkan dunia berhenti sejenak, bahkan hanya 24 jam, untuk mengingat kembali makna kelahiran Kristus sebagai simbol cinta dan rekonsiliasi,” tulis Vatican News dalam laporannya. (ren)
