OpenAI Terus “Bakar Uang”: Antara Dominasi AI dan Ancaman Kebangkrutan
OpenAI menghadapi tekanan finansial besar akibat biaya AI tinggi, rendahnya pengguna berbayar, dan risiko kerugian besar hingga 2028.

HALLONEWS.COM – OpenAI saat ini dikenal sebagai salah satu laboratorium riset kecerdasan buatan paling berpengaruh di dunia.
Sejak kemunculan ChatGPT, nama OpenAI nyaris tak pernah lepas dari perbincangan publik—mulai dari pengguna umum, pelaku industri teknologi, hingga pemerintah di berbagai negara.
Bahkan CEO Microsoft, Satya Nadella, pernah menyebut bahwa OpenAI memiliki keunggulan waktu sekitar dua tahun dibanding para pesaingnya dalam pengembangan AI generatif, sebuah posisi strategis di tengah persaingan global yang kian ketat.
Namun, di balik dominasi teknologi dan sorotan media tersebut, kondisi keuangan OpenAI justru memunculkan tanda tanya besar. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa perusahaan ini sedang berada di jalur yang sangat berisiko—bagaikan kepulan asap pertama sebelum bencana besar terjadi.
Biaya Fantastis di Balik Ambisi AI
Untuk mempertahankan keunggulan teknologinya, OpenAI harus menanggung biaya operasional yang luar biasa besar. Mulai dari pembangunan dan penyewaan infrastruktur komputasi skala masif, pelatihan model AI generasi terbaru, perekrutan peneliti kelas dunia, hingga pengoperasian pusat data—semuanya menuntut dana dalam jumlah fantastis.
Model bisnis AI generatif memang terkenal sangat padat modal. Semakin canggih model yang dikembangkan, semakin tinggi pula kebutuhan daya komputasi dan energi. Akibatnya, pertumbuhan biaya kerap melaju lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan.
Pendapatan Besar, Tapi Jauh dari Aman
Secara nominal, OpenAI bukanlah perusahaan tanpa pemasukan. Pendapatannya diperkirakan mencapai sekitar 13 miliar dolar AS per tahun dari ChatGPT dan layanan akses model bahasa besar (LLM).
Namun, biaya komputasi saja disebut telah menembus 1,4 miliar dolar AS, belum termasuk riset, gaji karyawan, ekspansi global, dan pengembangan produk baru.
Masalah utama terletak pada konversi pengguna. Berbagai laporan menyebutkan bahwa kurang dari 5% pengguna ChatGPT yang benar-benar membayar layanan berlangganan.
Bahkan paket premium dengan harga ratusan dolar per bulan pun disebut masih dijual dengan kerugian. Dengan kata lain, OpenAI memperoleh popularitas besar, tetapi gagal mengubahnya menjadi arus kas yang sehat.
Kondisi ini jelas tidak berkelanjutan—ibarat mencoba bertahan hidup dengan memakan tubuh sendiri.
Proyeksi Kerugian yang Mengkhawatirkan
Sejumlah laporan media teknologi internasional memperkirakan OpenAI berpotensi mencatatkan kerugian hingga 14 miliar dolar AS pada 2026 jika tren pengeluaran saat ini terus berlanjut. Bahkan ada proyeksi yang menyebutkan kerugian bisa mencapai 8 miliar dolar AS pada 2025 dan membengkak hingga 40 miliar dolar AS pada 2028.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa OpenAI dapat kehabisan kas jauh sebelum target profitabilitas mereka sekitar tahun 2030 tercapai. Bagi sebagian pengamat, kondisi ini menyerupai kapal udara Hindenburg—tampak megah, penuh optimisme, namun perlahan dikepung asap yang menandakan kehancuran.
Iklan: Opsi Terakhir yang Menghancurkan Narasi
Kepulan asap tersebut semakin jelas ketika OpenAI mengumumkan rencana penyisipan iklan di ChatGPT versi gratis dan berbiaya rendah. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat CEO OpenAI Sam Altman sebelumnya menyebut iklan sebagai “opsi terakhir”.
Langkah ini sekaligus menghancurkan narasi utama yang selama ini dijual OpenAI: bahwa AI mereka begitu revolusioner dan produktif sehingga semua orang harus membayarnya agar tidak tertinggal.
Kehadiran iklan justru menjadi pengakuan implisit bahwa layanan tersebut belum mampu memberikan nilai ekonomi yang cukup bahkan untuk beberapa dolar per bulan bagi sebagian besar pengguna.
Bagi para kritikus, keputusan ini bukan sekadar strategi monetisasi, melainkan bukti bahwa gelembung AI dibangun di atas ekspektasi yang terlalu dibesar-besarkan.
Optimisme vs Realitas
Sam Altman tetap bersikap optimistis. Ia menilai pengeluaran besar adalah konsekuensi wajar untuk tetap unggul di tengah kompetisi AI yang semakin agresif.
Altman bahkan memprediksi pendapatan OpenAI bisa melonjak hingga 100 miliar dolar AS pada 2027, termasuk dari pengembangan perangkat keras berbasis AI.
Namun, tidak semua analis sepakat. Banyak pihak menilai jurang antara potensi AI dan realitas ekonomi saat ini masih terlalu lebar. Dengan tekanan biaya yang terus meningkat, jalan menuju profitabilitas terlihat semakin terjal.
Masa Depan OpenAI di Persimpangan Jalan
Pada akhirnya, pertanyaan besar yang kini muncul bukan lagi seberapa canggih teknologi OpenAI, melainkan apakah model bisnis AI generatif mampu bertahan secara finansial dalam jangka panjang.
Dengan tekanan biaya, rendahnya konversi pengguna berbayar, serta ketergantungan pada pendanaan investor, OpenAI kemungkinan besar harus kembali mencari suntikan dana baru demi menjaga operasionalnya tetap berjalan.
Seperti Hindenburg sebelum meledak, tanda-tanda bahaya sudah terlihat jelas. Tinggal menunggu waktu apakah OpenAI mampu mendarat dengan selamat—atau justru jatuh dalam kehancuran spektakuler di hadapan dunia.(kim)
