Muncul ASUS Siap Produksi RAM Sendiri di Tahun 2026, Ancaman Serius bagi Samsung Cs
ASUS dikabarkan siap masuk ke bisnis RAM DDR5 pada 2026 untuk meredam krisis memori global. Benarkah ASUS akan produksi DRAM sendiri?

HALLONEWS.COM – ASUS, perusahaan teknologi asal Taiwan yang selama ini dikenal lewat Laptop gaming ROG, motherboard, dan desktop TUF, dikabarkan tengah menyiapkan langkah strategis besar: masuk ke bisnis RAM (DRAM) dengan produksi sendiri mulai 2026.
Langkah ini disebut-sebut sebagai respons atas krisis pasokan dan lonjakan harga memori global yang terus menekan industri PC.
Rumor ini pertama kali diungkap oleh media teknologi Persia, Sakhtafzarmag, dan kemudian diperkuat oleh sejumlah media internasional seperti Wccftech, Overclocking.com, dan Lowyat.NET.
Dalam laporannya, ASUS disebut mempertimbangkan pembangunan atau pengamanan lini produksi DRAM mulai kuartal II 2026, khususnya jika harga DDR5 masih belum stabil.
Krisis RAM Global Belum Mereda
Lonjakan permintaan AI dan data center membuat tiga raksasa memori dunia — Samsung, SK Hynix, dan Micron — memprioritaskan produksi untuk segmen enterprise yang lebih menguntungkan.
Dampaknya, pasokan RAM DDR4 dan DDR5 untuk konsumen menipis, sementara harga melonjak signifikan sepanjang 2024–2025.
Situasi ini memukul produsen PC besar, termasuk ASUS, yang terpaksa menghadapi kenaikan biaya produksi laptop dan perangkat gaming.
Masuknya ASUS ke pasar RAM dipandang sebagai upaya mengamankan rantai pasok sekaligus meredam volatilitas harga.
Produksi Chip atau Sekadar Label?
Meski terdengar ambisius, analis industri menilai langkah ini tidak sederhana. ASUS bukanlah produsen wafer semikonduktor, dan membangun fasilitas fabrikasi DRAM membutuhkan investasi puluhan miliar dolar serta waktu bertahun-tahun.
Karena itu, spekulasi kuat menyebut ASUS kemungkinan bekerja sama dengan produsen DRAM pihak ketiga, termasuk perusahaan asal China seperti CXMT (ChangXin Memory Technologies).
CXMT sendiri telah memamerkan chip DDR5 dan LPDDR5X sesuai standar JEDEC, meski masih dibayangi kendala geopolitik dan pembatasan teknologi dari Amerika Serikat.
Jika ASUS benar-benar meluncurkan RAM DDR5 berlabel sendiri, dampaknya bisa cukup signifikan. Harga laptop ASUS, terutama seri gaming ROG dan TUF, berpotensi lebih stabil.
Konsumen PC juga berpeluang mendapatkan alternatif merek RAM baru di luar dominasi tiga pemain besar.
Namun, bila ASUS hanya mengemas ulang modul dari mitra, pengaruhnya terhadap harga RAM global diperkirakan terbatas.
Meski ini masih rumor, tapi kita tetap patut mepantau rencana ini. Karena di tengah krisis memori yang diprediksi bisa berlangsung hingga 2027–2028, langkah ekstrem seperti ini dinilai masuk akal.
Jika terealisasi, masuknya ASUS ke pasar RAM bisa mengubah peta persaingan industri memori global. (KIM)
