Misa Natal Pertama di Gaza setelah Dua Tahun Perang: Doa, Luka, dan Harapan
Umat Kristen di Gaza rayakan misa malam Natal pertama setelah dua tahun perang. Di tengah luka dan kehilangan, mereka berdoa dan menyalakan kembali harapan.

HALLONEWS.COM-Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, lonceng Gereja Keluarga Kudus di Kota Gaza kembali berdentang, menandai perayaan Misa Malam Natal yang sarat makna. Di tengah reruntuhan dan kenangan perang genosida yang menewaskan puluhan ribu warga Palestina, umat Kristiani Gaza berkumpul dalam doa dan rasa syukur yang sederhana, bukan hanya karena merayakan Natal, tetapi karena mereka masih hidup.
Lampu-lampu Natal berkilau di pohon besar di dalam aula doa utama gereja, satu-satunya paroki Katolik di Jalur Gaza. Namun di balik cahaya itu, masih tersisa luka dan kesedihan yang dalam.
“Kami bersyukur karena masih bisa berkumpul dan berdoa,” ujar Dmitri Boulos (58), seorang jemaat yang kehilangan rumahnya akibat serangan Israel seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (25/12/2025).
“Kami berusaha membuat anak-anak kami percaya bahwa masa depan akan lebih baik, meski kenyataannya sangat sulit.”
Misa dalam Bayang Luka
Perayaan Natal kali ini jauh dari kemeriahan. Gereja membatasi kegiatan hanya untuk misa dan pertemuan keluarga kecil. Tidak ada pesta, tidak ada perayaan besar, namun bunyi lonceng dan nyanyian doa sudah cukup menghangatkan hati umat yang bertahan.
Dmitri mengenang masa ketika ia sekeluarga mengungsi ke gereja itu saat perang berkecamuk.
“Kami pikir gereja tempat aman, tapi ternyata tidak,” katanya. “Bangunan ini pernah diserang dua kali. Kami kehilangan teman dan kerabat. Tapi kami tetap berdoa untuk kedamaian.”
Selama perang, Gereja Keluarga Kudus menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari 550 warga Palestina yang kehilangan rumah. Meskipun Israel berulang kali menjamin tidak menargetkan rumah ibadah, serangan tetap menghantam gereja-gereja Kristen di Gaza, termasuk Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius yang menewaskan 18 orang pada 2023.
Kini, umat Kristiani Gaza yang tersisa hanya berjumlah beberapa ratus orang, turun drastis dari sekitar 3.000 pada tahun 2007. Mereka hidup di bawah ketakutan, kekurangan, dan trauma, tetapi masih berpegang pada iman dan solidaritas.
“Hati kami masih penuh duka, tapi kami ingin menunjukkan bahwa kasih dan harapan tidak bisa dihancurkan,” ujar seorang jemaat.
Kehilangan yang Tak Terhitung
Di halaman gereja, Nowzand Terzi berdiri diam memandangi jemaat. Dua tahun lalu, ia kehilangan rumah dan putri sulungnya dalam perang.
“Saya kelelahan karena semua kehilangan ini,” katanya lirih. “Tapi semoga Tuhan memberi kekuatan bagi mereka yang berduka, dan semoga Gaza suatu hari bisa tenang.”
Data dari PBB menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen bangunan di Jalur Gaza rusak atau hancur, sementara 288.000 keluarga kehilangan tempat tinggal akibat pembatasan bantuan kemanusiaan.
Edward Sabah (18) adalah saksi lain dari kekejaman perang. Ia selamat dari pemboman Gereja Saint Porphyrius, lalu mengungsi ke Gereja Keluarga Kudus.
“Kami tidak pernah menyangka gereja akan dibom,” kenangnya. “Tapi kami tetap ingin hidup, belajar, dan menciptakan suasana Natal meski sederhana.”
Ia bersama remaja lain menghias gereja dengan lampu seadanya, berusaha menghadirkan keceriaan bagi anak-anak yang kehilangan keluarga mereka.
Bagi banyak umat Kristen di Gaza, Natal tahun ini adalah simbol keteguhan.
Janet Massadm (32), yang kehilangan rumahnya di Remal, memutuskan mengenakan pakaian baru dan menata rambutnya, sesuatu yang tidak ia lakukan selama dua tahun.
“Kami lelah hidup dalam ketakutan,” katanya dengan mata berkaca. “Tapi kami harus berusaha menciptakan kebahagiaan, karena itu satu-satunya hal yang tersisa.”
Malam itu, di tengah kehancuran dan udara yang masih berdebu, doa mereka naik bersama nyala lilin dan cahaya pohon Natal: sebuah doa agar Gaza bisa bernapas dalam damai, dan manusia bisa kembali menjadi manusia. (ren)
