Miris! Pedagang Es Kue Ditendang dan Dipukuli Usai Dagangan Dituduh Palsu
Pedagang es kue asal Bogor diduga dianiaya oknum aparat di Kemayoran hanya karena dituduh menjual es palsu. Kasus ini viral dan menuai kecaman publik

HALLONEWS.COM – Ketidaktahuan aparat tentang jajanan tradisional, berujung kekerasan terhadap pedagang kecil.
Pangkat dan seragam seharusnya menjadi pelindung, dan bukan alat untuk mengintimidasi rakyat kecil.
Seorang kakek renta yang sedang berjuang demi sesuap nasi keluarga, dituduh secara sembarangan hingga gemetar ketakutan, hanya karena ketidaktahuan dua oknum aparat ini tentang sebuah jajanan lokal.
Suderajat, warga Gang Talang No 39, Desa Rawapanjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, kini harus menanggung trauma fisik dan mental usai dianiaya oleh sekelompok orang yang diduga oknum aparat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.
Pedagang kecil yang mencari rezeki halal di sisa usianya ini, dituduh menjual es kue jadul sebagai “busa” tanpa bukti. Ini bukan hanya keliru, tapi juga mematikan mata pencaharian orangtua yang tidak berdaya ini.
Kisah pedagang ini terjadi pada Sabtu pekan lalu. Suderajat, yang sudah 30 tahun berjualan es kue, dituduh menjual barang dagangan palsu hanya karena tekstur esnya yang dianggap berbeda.
Dari keterangan korban, kejadian ini bermula ketika ia menjajakan dagangannya, usai mengambil stok es dari Depok sekutar pukul 04.00 WIB subuh.
Ia lalu menaiki kereta menuju Manggarai untuk berjualan. Setibanya di Kemayoran, nasib naas menimpanya saat melayani pembeli yang ternyata oknum aparat.
“Awalnya beli, beli es kue, saya belum tahu dia Polisi terus saya dagang sama Polisi itu dibejek-bejek, terus dipanggil, ini bukan es nih, ini es palsu,” ungkap Suderajat kepada wartawan, dilansir dari instgaram @rekambogor, Rabu (28/1/2026).
Ketidaktahuan pembeli mengenai tekstur es kue tradisional yang memang menggunakan tepung hunkwe sehingga tidak mudah cair seperti es batu biasa berujung pada tuduhan tanpa dasar.
Korban sempat menjelaskan, namun tak digubris. Ia malah menerima kekerasan fisik dari pembeli.
Kejadian yang dialami Suderajat di hadapan sekitar 10 orang yang ada di lokasi, membuat komentar beragam dari netizen.
“Bayangkan jika itu adalah ayah atau kakek Anda sendiri. Apakah pantas diperlakukan seperti itu di depan kamera?” tulis Atmoko di akun sosial medianya.
“Permintaan maaf memang perlu, namun perubahan sikap jauh lebih utama. Jangan sampai wibawa seragam hilang karena gagal menunjukkan empati kepada mereka yang paling lemah,” tulis Rina dalan akun Facebook nya.
“Viral seorang kakek pedagang es jadul disekolah dasar Kemayoran di tuding dan di vediokan, saat alami perlakuan tak pantas oleh oknum TNI dan polisi,” tulis ringo-ringo dalam akun sosial medianya.
“Tapi setelah dilakukan cek bahan baku, kepolisian Metro Jaya menyatakan es tersebut aman dan tidak mengandung bahan berbahaya. Tindak dong pelakunya yang berseragam,” tulis Anggi di akun pribadinya.
“Kakek sudah ketakutan karna rakyat kecil, dan satu satu pencariannya hanya jualan es, tapi polisi dan TNI menuduhnya jajanannya berbahaya. Sekarang nggak ada penghasilan untuk beli keperluan dapur untuk anak istrinya, pelaku masih bebas. Adil-kah,” tulis bimbo di akun Facebook nya. (opy)
