Home - Nasional - Merawat Api Peradaban dari Sejarah Panjang Futuhiyyah

Merawat Api Peradaban dari Sejarah Panjang Futuhiyyah

Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak merawat tradisi keilmuan sejak 1901. Dari rak kitab hingga Ma’had Aly, pesantren ini terus menyalakan api peradaban Islam.

Jumat, 6 Februari 2026 - 16:30 WIB
Merawat Api Peradaban dari Sejarah Panjang Futuhiyyah
Menteri Agama Nasaruddin Umar meninjau rak kitab kuning saat Safari Pesantren di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak. Foto: Kemenag for Hallonews

HALLONEWS.COM — Rak kayu yang menyimpan jajaran kitab-kitab lama di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak, berdiri tenang seperti penjaga ingatan. Di sanalah jejak panjang tradisi keilmuan disimpan, dirawat, dan diwariskan. Ketika Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia, berhenti sejenak di hadapan rak itu, suasana seolah melambat, memberi ruang bagi sejarah untuk berbicara.

Pondok Pesantren Futuhiyyah bukan sekadar tempat santri menghafal teks dan memaknai baris demi baris kitab kuning. Ia tumbuh sebagai simpul peradaban, ruang tempat ilmu agama dipertautkan dengan denyut zaman, nilai diwariskan lintas generasi, dan dialog dengan realitas sosial terus diupayakan tanpa henti.

Dalam Safari Pesantren yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia, Menag menegaskan bahwa pesantren seperti Futuhiyyah memiliki modal kultural yang langka: tradisi keilmuan yang mengakar, komunitas belajar yang hidup, dan daya adaptasi terhadap perubahan.

“Pesantren memiliki tradisi berpikir yang panjang. Modal inilah yang membuat pesantren berpotensi menjadi episentrum peradaban, bukan hanya benteng moral, tetapi pusat pembentukan cara berpikir umat,” ujar Menag, Jumat (6/2/2026).

Sejarah yang Menjadi Fondasi

Api peradaban Futuhiyyah dinyalakan sejak 1901. Pesantren ini didirikan oleh KH. Abdurrahman bin Qashidul Haq dan dilanjutkan oleh putranya, KH. Muslih bin Abdurrahman. Sejak awal, Futuhiyyah dikenal sebagai salah satu garda terdepan pendidikan Islam di Jawa Tengah.

Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah, KH. Ahmad Faizurrahman Hanif, menuturkan bahwa keberanian untuk terbuka pada pembaruan telah menjadi DNA pesantren ini.

“Pesantren harus berada di tengah umat, tanpa sekat. KH. Muslih mendirikan lembaga pendidikan formal sejak 1963 agar masyarakat tidak perlu pergi jauh ke kota lain hanya untuk belajar,” ujarnya.

Langkah itu bukan sekadar keputusan administratif, melainkan sikap peradaban: bahwa ilmu harus didekatkan, bukan dipersulit.

WhatsApp Image 2026 02 06 at 16.03.13
Menteri Agama Nasaruddin Umar meninjau rak kitab kuning saat Safari Pesantren di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, Demak. Foto: Kemenag for Hallonews

Jejaring Gagasan dan Ingatan Bangsa

Jejak keterbukaan Futuhiyyah juga tercermin dari jejaring intelektual para pendahulunya.

KH. Muslih tercatat memiliki kedekatan historis dengan Prof. Dr. KH. Mukti Ali—tokoh nasional dan Menteri Agama era Orde Baru. Keduanya pernah menimba ilmu di Pesantren Tremas, Pacitan.

Relasi ini menandai satu hal penting: pesantren sejak lama bukan ruang terisolasi, melainkan titik temu gagasan tentang Islam, kebangsaan, dan masa depan umat.

Tradisi yang Menyapa Zaman

Kini, Futuhiyyah menyelenggarakan jenjang pendidikan lengkap—dari PAUD hingga Ma’had Aly. Kitab kuning tetap menjadi poros, tetapi ia tidak berdiri sendiri. Diskusi tematik, penguatan literasi, dan wawasan kebangsaan berjalan berdampingan dengan pengajian klasik.

Di ruang-ruang sederhana pesantren, nilai al-qawiyyul amîn—kuat dan dapat dipercaya—ditanamkan melalui laku harian. Kemandirian dilatih lewat disiplin hidup, tanggung jawab kolektif, dan keberanian menghadapi perubahan. Pesantren membangun karakter sebelum kapasitas, menumbuhkan etika sebelum logika.

Api yang Dijaga, Bukan Dipamerkan

Menjadikan pesantren sebagai episentrum peradaban tidak selalu berarti menghadirkan kemegahan fisik. Ia justru tumbuh dari hal-hal yang sering luput disorot: rak kitab yang dirawat dengan sabar, tradisi belajar yang dijaga dengan setia, dan ruang dialog yang terus dibuka.

Di Futuhiyyah, peradaban tidak dirayakan dengan gegap gempita. Ia menyala pelan—dalam ketekunan santri, kesabaran guru, dan keyakinan bersama bahwa ilmu adalah jalan pengabdian. Ketika tradisi dan pembaruan saling merangkul, pesantren menemukan perannya yang paling hakiki: menjadi jantung peradaban yang terus mengalirkan ilmu, nilai, dan harapan bagi masa depan. (dam)