Mayoritas Siswa Sekolah Rakyat Ingin Kuliah, Kemensos Ungkap Potensi Besar Calon Insinyur hingga Penegak Hukum
Survei Kemensos ungkap 60 persen siswa Sekolah Rakyat bercita-cita kuliah. Ribuan lainnya siap jadi teknisi, wirausaha, hingga penegak hukum. Ini strateginya.

HALLONEWS.COM – Kementerian Sosial (Kemensos) mengungkap fakta menarik terkait masa depan lulusan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).
Berdasarkan survei nasional terhadap lebih dari 6.000 siswa, mayoritas peserta didik menunjukkan tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut sekitar 60 persen siswa SRMA atau setara 3.600 orang berkeinginan melanjutkan studi ke universitas.
Sementara itu, 40 persen lainnya memilih jalur pekerja terampil dan wirausaha, menandakan keberagaman orientasi masa depan lulusan Sekolah Rakyat.
Menanggapi aspirasi tersebut, Kemensos menyiapkan berbagai skema pendukung, termasuk kerja sama lintas kementerian, lembaga pendidikan, hingga sektor swasta. Langkah ini bertujuan membuka akses pendidikan lanjutan serta peluang kerja yang sesuai dengan potensi siswa.
Tak hanya mengandalkan survei minat, Kemensos juga melakukan pemetaan bakat berbasis kecerdasan buatan (AI) terhadap hampir 16.000 siswa Sekolah Rakyat rintisan di seluruh Indonesia.
Hasil pemetaan menunjukkan potensi siswa sangat beragam. Sekitar 37 persen siswa memiliki kecenderungan di bidang STEM, dengan lebih dari seribu di antaranya berpotensi menjadi teknisi, insinyur, arsitek, hingga mekanik otomotif.
“Selain itu, hampir 40 persen siswa memiliki bakat di bidang sosial, disusul potensi di bidang bahasa dan komunikasi. Menariknya, sebagian siswa juga teridentifikasi memiliki minat di sektor penegakan hukum, seperti profesi hakim, notaris, hingga aparat kepolisian,” kata Gus Ipul panggilan akrab Saifullah Yusuf, Senin (12/1/2026).
Temuan ini memperkuat posisi Sekolah Rakyat sebagai lembaga pendidikan alternatif yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pengembangan bakat dan kesiapan karier.
Lebih dari sekadar institusi pendidikan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai instrumen strategis pengentasan kemiskinan. Program ini terintegrasi dengan berbagai kebijakan pemerintah, seperti layanan kesehatan gratis, makan bergizi, jaminan kesehatan PBI-JKN, koperasi desa, hingga program perumahan bagi keluarga siswa.
Kebijakan tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem.
Hingga 2025, Kemensos telah mengoperasikan 166 Sekolah Rakyat rintisan dengan kapasitas sekitar 16.000 siswa, didukung ribuan guru dan tenaga kependidikan. Fasilitas pembelajaran modern seperti papan digital interaktif, laptop berinternet, serta sistem asrama telah disiapkan.
Ke depan, pemerintah menargetkan pembangunan 104 gedung permanen Sekolah Rakyat yang akan dimulai tahun ini, termasuk di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.
Dengan dukungan fasilitas, pemetaan bakat berbasis teknologi, serta kolaborasi lintas sektor, Sekolah Rakyat dinilai menjadi harapan baru dalam mencetak generasi unggul dari keluarga prasejahtera. (min)
