Malam ke-14 Protes Iran: Ketika Internet Dipadamkan dan Risiko Kekerasan Meningkat
Malam ke-14 protes Iran berlangsung di tengah pemadaman internet hampir total. Dunia hanya melihat sedikit cuplikan, sementara risiko kekerasan dan penangkapan massal terus meningkat.

HALLONEWS.COM-Aksi protes antipemerintah di Iran berlanjut hingga malam ke-14 berturut-turut, namun dunia justru menerima informasi yang semakin terbatas. Sejak lebih dari dua hari terakhir, Iran mengalami pemadaman internet hampir total, yang secara drastis membatasi kemampuan warga untuk berkomunikasi dengan dunia luar dan membuat situasi di dalam negeri kian sulit diverifikasi.
Hanya segelintir gambar dan video yang sempat beredar sebelum konektivitas terputus. Cuplikan-cuplikan tersebut menunjukkan bahwa tekad para demonstran tidak surut, meskipun ruang informasi ditutup rapat.
Dalam sejumlah video terakhir sebelum jaringan terputus, satu slogan muncul berulang kali: “Kami tidak lagi takut. Kami akan berjuang.”
Pemadaman Internet dan Bahaya “Zona Gelap”
Peneliti senior Iran di Human Rights Watch, Bahar Saba, mengatakan bahwa pemadaman komunikasi merupakan fase paling berisiko dalam siklus protes.
“Ketika internet diputus, bukan hanya informasi yang hilang, tetapi juga mekanisme perlindungan publik. Pengawasan internasional melemah, sementara risiko kekerasan justru meningkat,” ujar Saba dalam wawancara dengan media internasional seperti dilansir Euronews, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, pengalaman masa lalu di Iran menunjukkan bahwa periode “zona gelap” sering kali beriringan dengan peningkatan penangkapan, kekerasan, dan korban jiwa.
Gelombang protes ini bermula pada 28 Desember, ketika para pedagang dan pemilik toko di Teheran melakukan mogok menyusul anjloknya nilai mata uang Iran ke titik terendah terhadap dolar AS. Namun dalam hitungan hari, tuntutan ekonomi berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah berskala nasional, melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Mantan Duta Besar Inggris untuk Iran, Nicholas Hopton, menilai karakter protes kali ini berbeda dari sebelumnya.
“Yang menonjol adalah skala dan tingkat persatuan. Para demonstran datang dari latar belakang sosial, politik, dan geografis yang sangat beragam,” kata Hopton kepada Sky News.
100 Orang Ditangkap, Ancaman Hukuman Berat
Di tengah pemadaman informasi, otoritas Iran melaporkan penangkapan 100 orang di Provinsi Teheran, khususnya di wilayah Baharestan. Pemerintah menyebut para demonstran sebagai “perusuh” dan “teroris” yang mengganggu ketertiban umum.
Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad memperingatkan bahwa para peserta aksi dapat dijerat tuduhan moharebeh atau “musuh Tuhan”, dakwaan serius yang dapat berujung hukuman mati.
Kelompok HAM internasional menilai ancaman tersebut memperkuat kekhawatiran akan eskalasi represif di tengah keterbatasan informasi.
Meski ruang digital dibungkam, ekspresi simbolik tetap muncul. Warga Iran menggunakan bahasa visual sebagai bentuk perlawanan, mulai dari: burung merpati putih sebagai simbol kebebasan, bendera Iran tanpa lambang Republik Islam, diganti simbol Singa dan Matahari, hingga aksi duduk tanpa senjata menghadapi pasukan keamanan.
Dua sineas Iran ternama, Jafar Panahi dan Mohammad Rasoulof, mengutuk keras kekerasan terhadap demonstran.
“Keheningan dunia hari ini akan membawa konsekuensi yang disesalkan di masa depan,” tulis mereka dalam pernyataan bersama.
Pertanyaan krusial kini adalah apakah protes ini dapat memicu perpecahan di dalam pasukan keamanan. Sejumlah klaim di media sosial menyebut adanya aparat yang mundur, namun belum ada konfirmasi independen.
Pengamat kebijakan Timur Tengah Trubus Rahadiansyah menilai negara biasanya dihadapkan pada dua pilihan.
“Rezim bisa memilih konsesi politik atau penindasan berkepanjangan. Sejarah Iran menunjukkan opsi kedua sering diambil, meski berisiko menciptakan ketidakstabilan jangka panjang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tekanan ekonomi juga dirasakan oleh tentara dan keluarga mereka, faktor yang berpotensi memengaruhi dinamika internal.
Reza Pahlavi dan Pergeseran Strategi Oposisi
Faktor lain yang mencolok adalah respons publik terhadap seruan Reza Pahlavi. Ia mendorong demonstran untuk tetap menguasai ruang publik dan menyerukan mogok nasional, khususnya di sektor minyak dan energi.
Menurut analis Iran di diaspora, seruan ini menandai pergeseran strategi, dari protes simbolik menuju tekanan ekonomi, sebuah pendekatan yang berperan penting dalam kejatuhan rezim pada 1979.
Bagi banyak aktivis, pemadaman internet bukan sekadar alat keamanan, melainkan tindakan politik. Mereka menegaskan bahwa respons internasional tidak bisa berhenti pada pernyataan keprihatinan semata.
Seperti ditulis penyair Persia abad ke-13 Saadi Shirazi: “Manusia adalah bagian dari satu kesatuan. Jika satu bagian menderita, bagian lain tak dapat tinggal diam.”
Dalam malam ke-14 protes ini, Iran berada di titik krusial. Dunia kini dihadapkan pada pilihan yang sama pentingnya: mengawasi secara aktif, atau membiarkan keheningan menutupi apa yang sesungguhnya terjadi. (ren)
