Home - Gaya Hidup - Love Scam: Modus Lama yang Tak Pernah Padam di Era Digital

Love Scam: Modus Lama yang Tak Pernah Padam di Era Digital

Love scam adalah modus lama yang tak pernah padam. Penipuan berkedok cinta ini menjebak korban lewat manipulasi emosi, identitas palsu, hingga investasi fiktif.

Selasa, 20 Januari 2026 - 11:06 WIB
Love Scam: Modus Lama yang Tak Pernah Padam di Era Digital
Ilustrasi Love Scam. (Dok Freepik)

HALLONEWS.COM – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, satu jenis kejahatan justru terus bertahan dengan wajah yang nyaris sama dari dekade ke dekade yakni love scam.

Modus penipuan berbasis relasi emosional ini boleh dibilang klasik, namun daya rusaknya tetap besar dan korbannya terus bertambah.

Love scam bukan fenomena baru. Sejak era surat-menyurat dan iklan jodoh di media cetak, penipuan berkedok cinta sudah dikenal luas.

Bedanya, kini pelaku memanfaatkan media sosial, aplikasi kencan, dan platform pesan instan untuk menjangkau korban dalam skala jauh lebih luas, cepat, dan lintas negara.

Pola dasarnya nyaris tak berubah. Pelaku mendekati korban dengan identitas palsu, membangun kepercayaan secara bertahap, lalu menciptakan kedekatan emosional intens.

Setelah ikatan terbentuk, muncul cerita darurat: masalah bisnis, kecelakaan, kebutuhan biaya perjalanan, atau janji bertemu yang selalu tertunda. Di titik inilah korban mulai diminta mengirim uang.

Menurut Dr. Monica Whitty, profesor psikologi forensik dari University of Leicester, Inggris, kekuatan utama love scam bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan manipulasi psikologis.

“Romance scam bekerja karena mengeksploitasi kebutuhan manusia akan koneksi, validasi, dan rasa dicintai. Bahkan individu yang cerdas dan berpendidikan bisa terjebak karena penipuan ini menyerang emosi, bukan logika,” ujar Whitty dalam sejumlah penelitiannya tentang kejahatan relasi daring.

Yang membuat love scam seolah tak pernah padam adalah kemampuannya beradaptasi dengan konteks zaman.

Dulu pelaku mengaku tentara asing atau insinyur minyak. Kini, mereka bisa tampil sebagai investor kripto, pengusaha digital, atau profesional global dengan gaya hidup meyakinkan. Foto-foto curian, video editan, bahkan kecerdasan buatan digunakan untuk memperkuat ilusi.

Prof. Thomas J. Holt, pakar kejahatan siber dari Michigan State University, Amerika Serikat, menilai love scam telah berevolusi menjadi kejahatan terorganisir.

“Banyak kasus romance scam saat ini dijalankan oleh jaringan terstruktur dengan pembagian peran yang jelas, mirip perusahaan. Ada yang khusus merekrut korban, ada yang menangani komunikasi, dan ada pula yang mengatur aliran uang lintas negara,” jelas Holt.

Ironisnya, stigma sosial membuat banyak korban enggan melapor. Rasa malu, takut disalahkan, atau dianggap naif menyebabkan angka kasus yang tercatat diyakini jauh lebih kecil dibanding kejadian sebenarnya.

Padahal, dampak love scam tak hanya finansial, tetapi juga psikologis: trauma, depresi, dan hilangnya kepercayaan diri.

Di sinilah letak kekuatan sekaligus bahaya love scam. Ia memanfaatkan ruang paling personal dalam hidup manusia: perasaan.

Selama kesepian, harapan, dan keinginan untuk dicintai tetap menjadi bagian dari pengalaman manusia, love scam akan selalu menemukan jalannya.

Modusnya boleh lama, tetapi korbannya terus baru. Dan di era digital tanpa batas, cinta palsu bisa datang dari mana saja—tanpa pernah benar-benar pergi.(wib/berbagai sumber)